Tampilkan postingan dengan label Love. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Love. Tampilkan semua postingan

Selasa, 19 Mei 2015

Jemputan Bapak

Cerita kali ini dimulai dari percakapanku dengan Bapakku kemarin sore.
Bapak : "Nduk, lagi ngapain?"
Aku : "Lagi masak Pak, buat makan malam. Bapak udah pulang kerja?"
Bapak : "Udah, ini lagi duduk santai. Nduk, minggu depan jadi pulang kan? Nanti kalo udah nyampe telpon Bapak ya.. biar bisa langsung Bapak jemput."
Aku : "Jadi dong Bapakku sayang.. Siap Pak!! dijemput di tempat biasa ya Pak?"
Bapak : "Oke. Udah ya, nanti kamu masaknya gosong. Bapak mau istirahat dulu."
Aku: "Wokeeeee!!"

Berbeda dengan caraku berkomunikasi dengan Ibu, pembicaraanku dengan Bapak memang lah selalu singkat, padat, dan jelas. Tetapi begitulah ciri khas Bapakku yang kata orang-orang merupakan sifat umum yang dimiliki seorang laki-laki, hehehe. Uniknya percakapan yang kutulis di atas adalah pembicaraan yang tidak hanya terjadi sekali saja kemarin, melainkan sebuah percakapan yang sudah diulang berkali-kali sejak awal bulan Mei ini karena kepulanganku di akhir bulan nanti. Sejak awal bulan Bapakku sayang selalu telpon untuk menanyakan dan memastikan hal yang sama bahwa beliau akan menjemputku saat aku tiba di Solo nanti. Dan karena tingkah lucu Bapakku ini, aku pun tersadar akan sebuah fakta menarik. Jika kalian tanyakan padaku tentang hal berharga apa yang kumiliki saat ini, maka salah satu jawaban yang bisa kuberikan adalah jemputan Bapakku untuk selalu membawaku pulang ke rumah tercinta. Bapakku sayang yang selalu menjemputku saat pulang sekolah walau harus menunggu berjam-jam. Bapakku sayang yang selalu menjemputku saat aku pulang dari kemah berhari-hari. Bapakku sayang yang selalu menjemputku saat aku harus pulang malam. Bapakku sayang yang selalu menjemputku pulang saat aku ujian di luar kota. Bapakku sayang yang selalu menjemputku di stasiun kereta baik subuh maupun tengah malam saat aku pulang dari perantauan kuliah. Bapakku sayang yang selalu menjemputku di terminal bus saat aku pulang dari petualanganku ngebolang. Dan kini Bapakku yang sedang menunggu untuk menjemput putrinya yang akhirnya pulang setelah satu tahun meninggalkan rumah. Rutinitas sederhana ini entahlah mengapa bagiku merupakan suatu rutinitas yang tak ingin aku lepas dalam hidupku. Karena dari rutinitas ini lah salah satu dari sekian cara aku tahu bahwa Bapakku yang disiplin dan tegas selalu mendampingi dan mencintaiku. Sungguh tak sabar dijemput Bapakku sayang minggu depan!! I miss you Dad.. :)

Rabu, 08 April 2015

“Sotonya Ibu Jual Rp 2.000,- Nduk“

Terpisah antara Pulau Jawa dan Kalimantan memaksa saya hanya bisa berkomunikasi dengan kedua orang tua saya via telpon. Saya yang aslinya anak rumahan, untuk pertama kalinya tak terasa sudah hampir satu tahun saya pergi meninggalkan rumah dan belum pulang sampai bulan Mei nanti. Telpon adalah satu-satunya pengobat rindu saya kepada keluarga.

Di tengah perjalanan saya pulang kerja kemarin saya menelpon ibu saya, tentunya hanya karena alasan sederhana, saya kangen Ibu. Dalam lima menit perjalanan saya pulang dari Klinik ke rumah ada pembicaraan singkat namun menarik dan insya Allah akan selalu saya ingat sepanjang hidup saya.

Senin, 6 April 2015 jam 16.20 WIB.

Saya : “Ibu sedang apa?”
Ibu : “Lagi duduk Nduk jaga warung sambil ngobrol ama Mbah Yem..” (FYI: Ibu saya Alhamdulillah memulai usaha warung soto nya sejak bulan Januari kemarin. Sebuah warung soto sederhana yang dibuka di depan rumah saya. J )
Saya : “Wah, masih buka jam segini? Gimana Bu dagangan hari ini?”
Ibu : “Alhamdulillah Nduk, namanya jualan kadang habis kadang sisa, namun tetap Alhamdulillah..”
Saya : “Iya Bu, Alhamdulillah… Lingkungan sekitar rumah sudah mulai rame ya Bu?” (terlihat sekali saya kurang tahu bagaimana perubahan kondisi desa saya khususnya area sekitar rumah selama saya tinggalkan. #tepokjidat)
Ibu : “Alhamdulillah rame sekarang Nduk.. mulai banyak anak-anak yang maen sepak bola di lahan kosong deket rumah juga. Mereka selalu mampir ke warung setiap habis main bola. Seneng kalo ngeliat anak-anak abis olahraga..”
Saya : “Wah seruuuuu!!! Warungnya Alhamdulillah jadi ikut laris ya Bu..”
Ibu : “Alhamdulillah rame, tapi kalo soal untung Ibu gak terlalu ngejar Nduk..”
Saya : “Kenapa gitu Bu?”
Ibu : “Ibu kasihan kalo ngeliat anak-anak abis olahraga, pasti lapar dan namanya anak-anak yang masih minta uang saku ke orang tua pastilah uangnya gak banyak, jadi Ibu jual aja sotonya cuma Rp 2.000,- buat mereka.”
Saya : “Walah!! Gak papa gitu Bu? Kan Ibu biasanya juga cuma jual sotonya Rp 5.000,- yang sebenarnya menurut Genduk gak terlalu mahal.”
Ibu : “Nggak papa, kan ibadah, ada doa nya, khususnya buat anak-anak Ibu.”
Saya : “Hmmm???” (muncul blo’on nya)
Ibu : “Iya nggak papa Nduk, mungkin dengan apa yang Ibu lakukan, Allah akan menggantinya dengan memberikan hal yang sama pada anak-anak Ibu. Semoga Allah membalas dengan menjaga anak-anak Ibu yang sedang jauh di sana. Semoga saat anak-anak Ibu mengalami kesulitan dan Ibu tidak bisa mendampingi, Allah memberikan pertolongan-Nya dari tangan-tangan orang-orang di sekitarnya.”
Saya : #speechless (mewek di jalan sambil naik sepeda)

Terlepas dari ilmu untung-rugi ala pedagang, saya lebih belajar tentang arti ketulusan menjalani hidup, melakukan kebaikan, dan memberi tanpa mengharapkan imbalan. Semua saya pelajari dari Allah SWT melalui Ibu saya tercinta.

I love you Mom… T____T

Minggu, 18 Januari 2015

Memasuki Hutan Hujan Tropis Indonesia di Borneo

 
Sabtu, 17 Januari kemarin saya mendapatkan hadiah terbesar dalam hidup saya sebagai penduduk Indonesia, Sang Zamrud Katulistiwa. Selama 24 tahun hidup saya akhirnya kemarin saya bisa menghabiskan 6 jam menikmati surga dunia di hutan Gunung Palung, salah satu hutan hujan tropis dengan ekosistem terlengkap yang dipuji dunia. Sulit untuk mendeskripsikan hebatnya sensasi yang saya rasakan kemarin. Dan ketika suatu keindahan sulit diungkapkan dengan kata-kata, maka keindahan tersebut pastilah terlalu indah melebihi persepsi manusia. Akhirnya hanya muncul deskripsi sederhana dari saya yang mungkin tidak bisa mewakili seluruh kemegahan yang saya rasakan kemarin.


"Begitu indahnya Tuhan menciptakan jutaan pohon dan hewan di sekitar kita. Suatu tempat dimana aku berlindung dari derasnya hujan di bawah lebatnya dedaunan pohon yang besar. Suatu tempat dimana aku berpegangan pada kokohnya pohon dan kuatnya akar agar tak terjatuh saat berjalan. Suatu tempat dimana aku yang sering kali merasa besar mulai menciutkan diri bahwa aku bukanlah apa-apa dimata ciptaan Tuhan yang lainnya. 


Tempat itu penuh suara burung yang tak wajar dibandingkan suara burung-burung yang sehari-hari aku dengar. Di tempat itu, aku bisa mendengar bahwa burung-burung itu sedang berbicara bersama alam. Musik alam pun diperindah dengan merdunya suara aliran sungai yang jernih dan segar. Kuhentikan sejenak langkahku untuk merendamkan diri dalam dinginnya air hutan yang menyejukkan. Aku merasa hidup dalam setiap tetes air yang kuteguk darinya. Di tempat itu aku merasa aku lah orang terkaya di dunia. Dan jika kau bertanya kekayaan apa yang kumiliki? kuberitahukan pada kau bahwa kekayaan yang kumiliki adalah rasa syukur dan puji terhadap setiap keindahan yang Tuhan ciptakan di duniaku."


Alhamdulillahirobbil alamin... :)

Senin, 13 Oktober 2014

Welcome 24!!

Aku tak pernah berpikir istimewa untuk ulang tahunku tahun ini jika dibandingkan dengan tahun-tahun sebelumnya. Entahlah, mungkin karena usia yang tidak lah lagi muda, mungkin karena mulai sadar semakin sedikitnya waktu yang tersisa untuk mencapai semua angan yang dicita-citakan, dan mungkin karena sedang jauh dari keluarga dan sahabat-sahabat tercinta. So, aku pun memulai pagi 11 Oktober dengan perasaan 'today is just like another day..'. Bahkan aku pun menyiapkan puding ulang tahunku sendiri, hahahaha. Tetapi ternyata di hari yang sempat kuanggap biasa kemarin, aku mendapatkan kejutan-kejutan spesial dari orang-orang baru dalam hidup saya. Orang-orang yang tak hanya rekan kerja tetapi mendekat menjadi satu keluarga baru yang membuat hari ulang tahun saya yang ke-24 dihiasi dengan kebahagiaan. Hari kemarin, saya merasakan kembali besarnya cinta dan perhatian orang-orang di sekitar saya. 

Terima kasih ibunda, ayah, dan adik-adik tersayang untuk telpon cintanya sehingga aku bisa memulai pagi hariku dengan senyum cerah. Terima kasih untuk sahabat-sahabat tersayang, teman-teman, dan rekan-rekan yang tak lupa mengucapkan dan mendoakan. Terima kasih untuk telur, tepung, bubuk kopi, dan air es nya dari keluarga ASRI dan ASRI Kids. Hahaha.

Hari kemarin bukanlah hari untuk mengulang hari lahir saya, tetapi adalah hari untuk mengulang dan mengingatkan kembali betapa banyaknya cinta yang hadir melalui orang-orang yang saya sayangi. (T____T) #nangisbawangbombay

Welcome 24!! semoga tahun ini bisa menjadi pribadi yang lebih baik lagi dan semakin banyak pengalaman hidup yang bisa dibagi... amiin... :)

Malam bersama ASRI Kids
Sore bersama keluarga ASRI

Senin, 14 April 2014

Run To You by Lasse Lindh

I'm falling in love with this song... :)

Run To You

by. Lasse Lindh

With you... Everything seems so easy
With you... My heartbeat has found its rhythm
With you... I'm so close to finding my home

With you... I dont care if I´m a little bit crazy
Cause with you nothing's wrong 

I was broken, I was wasted
Then you came like an angel in the rain
Love used to slip trough me like waters slips trough hands
But with you it changed I know, I feel I'm closer to your heart.

I am run-run-running to you 
And I'll keep you safe forever
Through the tears, trough the love and all the nights we share
I am run-run-running to you 
And I'll keep you safe forever
Don't you know my love, don't you know two hearts can beat as one? 

Love used to slip trough me like water slips trough hands but no more
No more lonely nights, no more, no more
So c'mon, c'mon, hold on, hold on, hold on 

I am run-run-running to you 
And I'll keep you safe forever
Through the tears, trough the love and all the nights we share
I am run-run-running to you 
And I'll keep you safe forever
Don't you know my love, don't you know two hearts can...
I am run-run-running to you 
And I'll keep you safe forever
Through the tears, trough the love and all the nights we share
I am run-run-running to you 
And I'll keep you safe forever
Don't you know two hearts can beat as one?

Selasa, 11 Maret 2014

A Million Reasons To Smile

Apa yang ingin saya ceritakan kali ini? Sejujurnya saya bingung bagaimana cara yang tepat untuk berbagi perasaan saya saat ini. Bahkan tulisan ini sudah saya coba berkali-kali tulis dari kemarin, tetapi langsung saya hapus karena saya tak tahu bahasa yang tepat untuk mengungkapkan perasaan saya. Apa yang harus saya ungkapkan kali ini? Euhmmm baiklah, saya coba dengan kalimat sederhana terlebih dahulu saja kalo begitu.

Quote favorit saya dari dulu hingga kini adalah, “Enjoy your life, no matter how hard it may seem. When life gives you a thousand reasons to cry, show the world you have a million reasons to smile.”. Yups, a million reasons to smile. Adakah yang pernah bilang atau mengalami hidup yang selalu bahagia tanpa pernah mengalami kesedihan? Sayangnya, jika ada yang bilang atau mengalaminya maka bisa dipastikan hal itu tidaklah mungkin. Karena semua yang terjadi di dunia ini berjalan dengan seimbang, termasuk emosi manusia. Begitu pula dengan hidup saya, ada saat-saat dimana saya jatuh dan sedih, tetapi ada pula saat-saat dimana saya bahagia berbunga-bunga. Kata orang tua, “saat sedih maupun senang, kita harus senantiasa mensyukurinya..”. Mewujudkan rasa syukur saat kita bahagia tentunya sangatlah mudah, tetapi bagaimana cara mewujudkan rasa syukur saat sedih? Menurut saya salah satu caranya adalah dengan menemukan ‘sejuta alasan untuk tersenyum’ yang kita miliki.

Saat kesedihan-kesedihan itu datang, saya selalu berusaha menemukan alasan-alasan untuk tetap tersenyum. Mulai dari mendekatkan diri dengan Allah, mengingat keluarga tercinta yang saya miliki, mencari support dari sahabat dan teman-teman saya, dan berbagai alasan lain. Tetapi ada hal menarik yang menjadi alasan baru saya untuk senantiasa semangat dan tersenyum dalam sebulan terakhir ini. Yaitu para pasien-pasien saya, orang-orang yang cukup baru saya kenal dalam hidup saya. 

Dulu, saat saya sedih sering kali saya menghabiskan waktu satu atau dua hari mengurung diri untuk menenangkan diri. Tetapi sebulan terakhir ini ceritanya berbeda. Tidak hanya didasarkan karena tanggung jawab pekerjaan dan kewajiban saya terhadap pasien-pasien saya tiap hari yang membuat saya tidak memiliki waktu untuk mengurung diri, tetapi semakin lama saya menjalaninya, saya mempunyai kebutuhan pribadi dari hasil interaksi dengan pasien saya. Pasien yang datang tiap hari dengan berbagai macam keluhan, berbagai usia, berbagai karakter, membuat saya belajar banyak hal. Profesi saya tidak hanya sekedar mengetahui penyakit dan obatnya, tetapi mempelajari setiap perkembangannya yang variatif pada pasien saya dan senantiasa merangsang diri untuk belajar lebih banyak hal lagi. Profesi saya tidak hanya sekedar mendengar keluhan, tetapi mencoba mengerti keluhan-keluhan mereka, ikut ber-empati dan ikut membantu mencari solusi yang tepat akan keluhan-keluhan mereka. Profesi saya tidak hanya sekedar memberi saran, tetapi tahu cara komunikasi yang tepat menyampaikan saran-saran itu dengan bahasa yang baik dan mudah untuk mereka mengerti. Profesi saya tidak hanya berwajah manis, tetapi senantiasa memberikan wajah yang ramah, positif, dan menyegarkan untuk menularkan semangat kepada para pasien. Profesi saya tidak hanya hubungan antara apoteker dan pasiennya, tetapi sebuah interaksi manusia yang bersahabat. Sebuah profesi yang tak menuntut, tetapi membuat saya sadar secara otomatis bahwa saya harus senantiasa menjaga semangat dan senyum saya bukan hanya untuk diri saya, melainkan juga untuk pasien-pasien saya. Berbagai cerita dan keluhan yang mereka alami, sering kali membuat saya kembali teringat dan tersadar akan berbagai keberuntungan kecil yang saya miliki dan sempat saya lupakan. Terima kasih untuk pasien-pasien saya, karena mereka membuat hidup saya berjalan dengan penuh semangat dan positif walau saat saya sedih sekalipun. Terima kasih... terima kasih sudah menjadi bagian dalam ‘sejuta alasan saya untuk tetap tersenyum’. J

Sabtu, 01 Februari 2014

Happy Morning


Perasaan ini tidak kudapatkan dari pengalaman yang Wah untuk diceritakan. Perasaan ini tidak didapatkan dari kisah-kisah nyata diri sendiri maupun orang lain. Perasaan ini diperoleh hanya satu dari sekian caraku mengisi waktu di pagi hari. Perasaan ini diperoleh hanya dari secuil cerita menarik komik yang kubaca pagi ini. Sebuah perasaan sederhana, "Ah inilah perasaanku yang ingin kuungkapkan untuk orang-orang yang kucintai.. Ah inilah perasaan yang kuinginkan dan kudengar dari orang lain untukku.. Please, just be honest each other..." #HappyMorning :)


Kamis, 30 Januari 2014

The Definition of Relationships

Each expecting different things, each looking at different places, each dreaming different dreams… Everything that happens between one man and one woman, is just continuous love and war. You sulk, you pacify, you fight, you make up, you hurt, you embrace. A relationship like a manic-depressive patient who can’t make up his mind. But the hardest thing about the relationship between a man and a woman is the timing. If the love doesn’t begin at the same time, it’s unlikely to ever begin at all.

Answer Me 1997 Episode 11

Minggu, 01 Desember 2013

5 Hours

Why do you think i came there?
Coming there in a bus for 3 hours,
staying there for just 5 hours,
then going back for 4 hours in the bus again.
Why do you think I did that?
Even i don't understand it.

Rabu, 27 November 2013

Where is The Flower?

Where is the flower that blooms without shaking?
Any of the beautiful flowers of this world
all bloom while being shaken
They shake on stems that grow upright
Where is the love that goes without shaking?

Where is the flower that blooms without being soaked?
Any of the shining flowers of this world
bloom as they are soaked
Soaked by wind and rain, petals bloom warmly
Where is the life that goes without being soaked?

Sabtu, 16 November 2013

Manisnya Buah Penantian

Hadiah dari sahabat
setelah satu bulan lebih ditunggu. :)

Bagaimana rasanya menantikan atau menunggu sesuatu? terkadang menyebalkan, terkadang pula menyenangkan. Tetapi nikmati saja euforia setiap penantian itu. Nikmati perasaaan berdebar-debar bagaimana ekspresi kita saat hal itu nanti datang dan nikmati saja berbagai hal yang dilakukan untuk mengusir gelisah selama penantian. Kau tahu hadiah terindah dari sebuah penantian? Yaitu datangnya hal yang telah dinanti. :)


Tell me that you need me..

Entahlah, apa mungkin semua orang berpikir sama sepertiku, tetapi adakah dari kalian yang juga merasa betapa senangnya ketika diri kita sangat dibutuhkan orang lain? Seperti halnya aku yang sering membutuhkan orang-orang di sekitarku, senang rasanya saat ada orang yang berkata padaku, "Ndah, i need you..". Besar atau kecil kebutuhan orang lain pada diriku tidak terlalu kupedulikan, tetapi satu kalimat sederhana itu entah mengapa selalu membuatku bahagia dan merasa berarti. :)

Jumat, 15 November 2013

Hujan Kini.

Bunda, hujan turun tiada henti hari ini.
Entahlah, mengapa hujan ini membuatku ingin menangis.

Bunda, sepi rasanya disini.
Sudah tiada kawan, dirimu pun juga tak disini.

Bunda, manjakah diriku ini?
Hanya karena aku tak ingin merasa sendiri?

Bunda, dimanakah sang mentari?
Ia bersembunyi terlalu lama hingga hatiku terasa dingin.

Bunda, tolong hentikan sejenak hujan ini.
Karena hati ini sangat membutuhkan sentuhan sang mentari.

Minggu, 12 Mei 2013

Citra, My Beloved Sister

Aku sangat merindukan adikku yang satu ini. Namanya Citra Dewi, panggilannya Cicit, tetapi aku sering memanggilnya Cicot, SingShot, SingShotThotDhot sejak kecil, Haha... aku akan memanggilnya “Nduk” saat aku sedang butuh bantuan. Aku dan adikku hanya selisih usia 4 tahun, dan kami lahir di bulan yang sama. Kami bukan kakak-adik yang baik, kami sering berantem, kami sering berebut perhatian ibu kami, dan kami sama-sama keras kepala. Tetapi dia adikku, adik kesayanganku yang sudah menemaniku selama 18 tahun dan seterusnya dalam kehidupanku. Kami bukan kakak-adik yang baik, tapi kami adalah sahabat yang baik, dan mungkin tidak ada sahabat terbaik selain adikku dalam kehidupanku. Aku punya temperamen yang cukup tak terkontrol. Suatu saat aku mudah sekali bahagia, suatu saat aku mudah sekali marah, suatu saat aku mudah sekali pengertian, tetapi juga suatu saat aku mudah sekali menjadi egois. Tetapi disana ada satu orang yang mengertiku setelah ibuku, yaitu adikku. Aku merasa beruntung memilikinya sebagai adikku, ia yang selalu sabar dengan amarahku, yang mau mendengarkan tangisanku, yang mau bermain denganku, yang ikut berbahagia bersamaku, seorang adik yang membutuhkan keberadaanku disampingnya. 

Jarak umur kami yang dekat sering kali membuat kami bertukar peran, terkadang dia lebih dewasa daripada aku karena sifatku yang sering kali kekanak-kanakkan. Aku senang saat ia selalu membutuhkanku dalam kehidupannya. Aku senang saat ia membuka hatinya untukku, bercerita tentang semua mimpi-mimpinya, bercerita tentang apa yang membuatnya bahagia, apa yang membuatnya sedih, dan apa yang membuatnya khawatir. Adikku bukan tipe orang yang terbuka pada semua orang, dia lebih tertutup dibandingkan aku yang sangat ekspresionis. Adikku merupakan salah satu dari sekian banyak alasanku berjuang dalam medan perang saat ini. Terkadang adikku sering kali mengenyampingkan keinginannya dan memprioritaskan kebutuhan orang lain, sedangkan aku selalu berprinsip bahwa aku harus mendapatkan kedua-duanya yaitu keinginanku dan kebutuhan orang lain disekitarku. Melihatnya yang mudah sekali menyerah seperti itu membuatku ingin melakukan berbagai hal yang dapat mengganti setiap hal ia korbankan, aku ingin memberinya kebahagiaan yang pantas ia dapatkan. Tak pernah ada rahasia antara aku dan adikku, dan karena keberadaan adikku aku tak pernah merasa kesepian. Aku pun berharap adikku merasakan hal yang sama seperti itu, bahwa dengan keberadaanku ia tak akan pernah kesepian. 



Yups, kami bukan kakak-adik yang hidup dalam kedamaian, karena hidup kami penuh keramaian. Hidup kami yang dihiasi pertengkaran, perbedaan pendapat, tangisan dan amarah tetapi diperindah dengan pengertian, senyuman, dan kasih sayang. 

Untuk adikku Cicit.. terima kasih menjadi sahabat terbaikku.... :)

Selasa, 09 April 2013

Belajar atau Menggembala Kambing?

Wooww kambing... awalnya aku mau menulis ini karena tadi siang menonton berita di TV tentang peternakan domba di daerah Garut, Ooppss tapi tulisanku kali ini bukan tentang domba-domba di Garut itu.. hehe tetapi sedikit tentang nasehat ibuku saat kecil. :)

Salah satu cara unik ibuku mendidikku adalah dengan membiarkanku langsung mencicipi suatu pengalaman, mengambil pelajaran dari pengalaman itu, dan membebaskanku untuk memutuskan dari pengalaman itu. Saat aku kelas 1 SD, aku termasuk anak yang malaaaaassss sekali belajar! Rankingku saat itu berturut-turut selama 3 caturwulan adalah 9, 11, dan 15... hahhaha parahnya itu dari 18 anak di kelas  cuy!! Bukannya tobat dan rajin belajar, aku justru semakin susah disuruh belajar. Akhirnya ibuku yang tak pernah memelihara kambing di rumah kami, karena geram dengan tingkah lakuku langsung membeli dua ekor kambing. Hahaha buat apakah kambing-kambing itu?? sayangnya kambing-kambing itu tidak untuk dimasak jadi sate atau gulai kambing, tetapi benar-benar untuk dikembangbiakkan. O_o
Fyuhhh~~ saat kambing-kambing itu tiba di rumah, aku tahu hari-hari beratku telah tiba.. Oh ibundaku sayaaaang.... -___-"

Ibu: "Nduk, kambing butuh apa?"
Me: "Butuh makan rumput bu..."
Ibu: "Karena ibu sibuk kerja jahit, kamu ya yang gembala kambing ke sawah buat makan tiap pulang sekolah.. Sama bersihin kandangnya ya...."
Me: "Nggih bu..." (seperti biasa, aku tidak bisa menolak permintaan ibuku.. #mewek di pojokan)

Di hari pertama kambing-kambing itu datang aku langsung dengan sigap menggembalanya ke sawah. Setiap hari aku menikmati hari-hariku bersama kambing-kambing itu di sawah dengan bernyanyi dan bermain. Aku senang kalau kambing-kambing itu tidak nakal, tapi aku sangat tidak suka kalau kambing-kambing itu sudah mulai lari ke sawah dan memakan hasil pertanian di sawah, yang ada akulah yang kena marah karena sering kali aku lalai keasyikan main. Aku lebih tak suka lagi saat harus membersihkan kandang,.. euhmmmm baunyaaa... (T_T).. akhirnya pudar sudah kebahagiaanku bersama kambing-kambing itu. Aku tak berani mengeluh di depan ibuku, setelah 3 bulan berlalu akhirnya ibuku berkata padaku,

Ibu: "Gimana Nduk, capek gak??"
Me: "Capek apa bu?"
Ibu: "Capek ngurusin kambing?"
Me: "Enggak..." (mencoba tidak ingin membuat ibuku kecewa, tapi seperti biasa, ekspresiku mudah sekali untuk dibaca ibuku..)
Ibu: "Pilih belajar atau ngurusin kambing?"
Me: "Ibuuu.. aku mau belajar aja..."
Ibu: "Hahaha.., makanya, kamu sih disuruh belajar gak mau, makanya ibu suruh ngurusin kambing..." (tampak senyum puas di wajah ibuku), lanjut ibuku kemudian, "Nduk... belajar itu berat, tapi itu tak seberat ngurusin kambing kan? Nduk.. ibu cuma pengen kamu jadi orang yang berpendidikan.. ibu ini cuma petani dan peternak.. tapi ibu tak berpendidikan, kalau pun nanti kamu jadi petani setidaknya kamu harus punya pendidikan.. walau ibu tetap pengen kamu tidak jadi petani seperti ibu, makanya ibu sekolahin kamu biar kamu bisa kuat ilmu dan kuat wawasan biar kamu bisa jadi orang yang lebih baik... Jika kamu tak berilmu, maka kamu bisa jadi kayak kambing-kambing itu yang harus digiring arahnya berjalan oleh orang lain..."
Me: "Nggih bu.." and then i hugged my mom lovely... :)

Walau sebenarnya aku tidak bisa mendeskripsikan apa itu "jadi orang yang lebih baik..."? dan satu yang kuyakini menjadi orang yang baik bukanlah mereka yang berharta dunia melimpah, tetapi mereka yang berkaya hati dan ilmu... bahkan menurutku petani pun adalah orang yang lebih baik dibandingkan para pejabat pemakan harta rakyat. Karena mereka mempunyai hati. Aku bisa berkata seperti itu karena aku bisa membedakan mana yang baik dan mana yang salah, aku bisa menilai kebaikan dan kesalahan karena aku mempunyai ilmu, aku mempunyai ilmu karena ibuku mengajariku untuk menuntut ilmu. Jadi, siapa mau belajar?? aku mau!!! :)