Tampilkan postingan dengan label Self-Talk. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Self-Talk. Tampilkan semua postingan

Rabu, 02 Desember 2015

Kini Saat Usiaku 25 Tahun

Saat ini aku sedang duduk di atas meja kerjaku, mengotak-atik laptopku sambil menunggu antrian resep berikutnya datang untuk kusiapkan segera. Setiap menuliskan tanggal hari ini di kertas etiket obat yang kusiapkan, aku menjadi teringat sesuatu hal kecil sederhana, "Oh yeah, ini sudah bulan desember ya.. 2015 segera berakhir." Ingatan kecil ini lah yang mengarahkan pikiranku selanjutnya untuk sebuah pertanyaan, "Hey Ndah, what have you done until now?"

Kini saat usiaku 25 tahun, yang aku tahu adalah aku masih menjalani hidupku dengan baik. Jujur aku bukan orang yang selalu mempunyai plan masa depan yang wah atau bagaimana, mungkin aku termasuk orang yang selalu membiarkan diriku terbawa alur apapun itu sepanjang alur itu mampu memuaskan tujuan sederhana hidupku yang hanya ingin terus berusaha memberikan kebaikan, kebahagiaan, dan manfaat untuk banyak orang (tujuan hidup yang absurd yak?! hehe). Aku hanya selalu ingin menjalani hidupku dengan penuh syukur. Tetapi tidak dipungkiri juga aku pun juga pernah dan masih punya ambisi hidup entah itu untuk asmara, pekerjaan, atau pendidikan yang sangat ingin sekali kuraih, walau sayangnya banyak ambisi-ambisi itu yang belum bisa terwujud hingga saat ini. Entah mungkin karena akunya yang kurang berusaha atau memang belum waktunya saja mungkin. Hehe. #TepokJidat

Kini saat usiaku 25 tahun, aku sangat memperhatikan kesehatanku dengan detail. Hal ini berawal dari banyaknya pasien dengan penyakit degeneratif di usia muda yang kutemui di klinik, sehingga perhatianku terhadap kesehatanku sendiri sangat meningkat. Selama satu tahun terakhir aku kontrol makananku dengan tidak banyak makan makanan instan lagi seperti dulu, dan untuk hal ini aku pun semakin rajin berkreasi dengan masakanku di rumah. Sayur-sayuran dan buah selalu menjadi menu wajib dalam setiap makananku. Salah satu atau dua dari olahraga rutinku (yoga, pilates, lari, bersepeda dan renang) selalu menjadi agenda wajib pagi dan soreku setidaknya minimal 15 menit per hari. Waktu istirahat (baca: tidur) yang cukup juga selalu jadi catatan penting. Efek positifnya adalah akhirnya sekarang tubuhku jarang sekali mudah lelah seperti dulu, dan proporsi tubuh ideal yang dari dulu kuimpikan akhirnya kini berhasil kumiliki. Fufu~ :)

Kini saat usiaku 25 tahun, menjaga ketenangan pikiran adalah target yang selalu menjadi point utamaku setiap pagi. Karena dengan semakin banyaknya pekerjaan yang kulakukan, semakin banyaknya aku berinteraksi dengan orang, dan semakin banyaknya masalah hidup yang kutemui maka berbagai metode untuk menjaga pikiran tetap jernih termasuk PR besarku tiap hari. Ibadah dan memandang hal secara positif merupakan salah satu kunci untuk hal ini. It's not easy. >_<

Kini saat usiaku 25 tahun, aku ingin lebih banyak berpetualang lagi, banyak sekali tempat-tempat yang masuk dalam daftar wajib dikunjungi tahun ini. Masih banyak daftar gunung yang ingin kudaki, masih banyak tempat yang ingin kueksplor, masih banyak lautan yang ingin kuseberangi, dan masih banyak panorama alam lain yang ingin kujelajahi. Ayok ayok siapa mau ikut? :D

Kini saat usiaku 25 tahun, pertanyaan dan kegalauan tentang pernikahan selalu menjadi topik yang muncul di tengah-tengah percakapan entah saat bersama orang tua, sahabat, atau bahkan saat pembicaraan privatku dalam doa dengan Tuhan. Tapi untuk hal ini aku pun tidak tahu harus menulis apa, yang pasti yang bisa kulakukan hanyalah senantiasa memperbaiki dan menyiapkan diri hingga waktu indah yang entah kapan akan tiba nanti. Hehe. :p

Kini saat usiaku 25 tahun, aku selalu berterima kasih untuk setiap detik nafasku atas segala rahmat, rezeki, dan cinta dari Allah SWT melalui keluarga dan orang-orang yang kutemui dalam hidupku serta segala hal yang sudah dan akan kudapatkan nanti. Tetap semangat!! \(^o^)/

Selasa, 27 Oktober 2015

Dementor Berwujud Kabut

Untuk pertama kalinya selama 17 bulan saya tinggal di tanah Borneo, baru hari ini saya benar-benar merasa lelah, jenuh, dan bosan dengan apapun yang saya lakukan di tempat yang saya nilai sebagai salah satu tempat terindah yang pernah saya temui sebelumnya. Alasan sederhana untuk segala perasaan sedih ini hanyalah karena rasa rindu saya pada keindahan surga yang dulu dimiliki tempat ini, langit biru, air sejuk, udara segar, dan hijaunya pepohonan yang kini sudah tidak bisa dilihat lagi karena kabut asap yang mengepung. Saya merindukan suara burung dan klempyau (sejenis monyet) yang selalu menjadi penyemangat pagi saya. Saya merindukan indahnya senja jingga sore yang selalu menutup hari saya. Saya merindukan barisan-barisan bintang yang selalu menemani malam-malam saya di sini. Dan ketika semua sumber kebahagiaan saya itu hilang satu persatu, rasanya seolah-olah kebahagiaan saya pun ikut diserap oleh dementor yang bersembunyi dalam pekatnya kabut asap. Berbagai cara saya lakukan untuk berusaha memperbaiki kebahagiaan saya, mulai dari lari ke laut hingga lari ke gunung. Tetapi ke mana pun saya berlari, dementor berwujud kabut asap ini tetap menghantui. Dan yang sadari saat ini adalah tiga bulan tinggal di bumi berkabut ternyata sangatlah tidak mudah untuk saya yang masih berusia seperempat abad ini. Bisa dibayangkan bagaimana lebih tidak mudahnya bagi anak-anak dan para lansia yang mempunyai fisik lebih lemah daripada saya.

Yaa Allah Yaa Rabb, hanya pada-Mu kami memohon ampunan, pertolongan, dan keselamatan. I miss the rain. :(

Selasa, 30 Juni 2015

Pangkatku di Dunia

Jika dunia ini ibarat sebuah pemerintahan maka aku dalam diriku sendiri adalah seorang Ratu. Aku dalam keluarga kecilku adalah seorang Putri. Aku dalam pekerjaanku adalah seorang Panglima perang. Aku dalam negaraku adalah seorang Rakyat jelata. Aku dalam alam semesta hanyalah setitik debu pasir di lautan.

Kamis, 25 Juni 2015

Manusia Sejuta Nama

Sebutan ini bukan hanya untuk kamu, dia, atau mereka kawanku. Sebutan ini berlaku untuk kita semua. Benar, kita semua lahir tidak hanya dengan satu nama, tetapi sejuta nama ada pada diri kita saat hidup di dunia. Semakin panjang hidup manusia, semakin panjang pula nama-nama yang tertulis pada dirinya. Awalnya hanya membawa nama diri sendiri, kemudian membawa nama ayah, nama ibu, nama keluarga, berlanjut membawa nama daerah asalnya, lalu nama almamaternya, hingga nama lembaga dimana ia bekerja. Satu keberhasilan maupun satu kesalahan selalu menjadi penghargaan dan kecacatan untuk nama-nama tersebut.
Tahukah kamu kawanku apa hal lucu dari semua itu? ironisnya saat kita meninggal, maka kita tinggalkan pula semua nama itu di dunia dan kita menghadap kepada Tuhan kembali sebagai makhluk tak bernama untuk mempertanggungjawabkan semua perbuatan kita selama di dunia.

Kita manusia sejuta nama yang berakhir tanpa nama di hadapan-Nya.
Ramadhan #8

Selasa, 19 Mei 2015

Jemputan Bapak

Cerita kali ini dimulai dari percakapanku dengan Bapakku kemarin sore.
Bapak : "Nduk, lagi ngapain?"
Aku : "Lagi masak Pak, buat makan malam. Bapak udah pulang kerja?"
Bapak : "Udah, ini lagi duduk santai. Nduk, minggu depan jadi pulang kan? Nanti kalo udah nyampe telpon Bapak ya.. biar bisa langsung Bapak jemput."
Aku : "Jadi dong Bapakku sayang.. Siap Pak!! dijemput di tempat biasa ya Pak?"
Bapak : "Oke. Udah ya, nanti kamu masaknya gosong. Bapak mau istirahat dulu."
Aku: "Wokeeeee!!"

Berbeda dengan caraku berkomunikasi dengan Ibu, pembicaraanku dengan Bapak memang lah selalu singkat, padat, dan jelas. Tetapi begitulah ciri khas Bapakku yang kata orang-orang merupakan sifat umum yang dimiliki seorang laki-laki, hehehe. Uniknya percakapan yang kutulis di atas adalah pembicaraan yang tidak hanya terjadi sekali saja kemarin, melainkan sebuah percakapan yang sudah diulang berkali-kali sejak awal bulan Mei ini karena kepulanganku di akhir bulan nanti. Sejak awal bulan Bapakku sayang selalu telpon untuk menanyakan dan memastikan hal yang sama bahwa beliau akan menjemputku saat aku tiba di Solo nanti. Dan karena tingkah lucu Bapakku ini, aku pun tersadar akan sebuah fakta menarik. Jika kalian tanyakan padaku tentang hal berharga apa yang kumiliki saat ini, maka salah satu jawaban yang bisa kuberikan adalah jemputan Bapakku untuk selalu membawaku pulang ke rumah tercinta. Bapakku sayang yang selalu menjemputku saat pulang sekolah walau harus menunggu berjam-jam. Bapakku sayang yang selalu menjemputku saat aku pulang dari kemah berhari-hari. Bapakku sayang yang selalu menjemputku saat aku harus pulang malam. Bapakku sayang yang selalu menjemputku pulang saat aku ujian di luar kota. Bapakku sayang yang selalu menjemputku di stasiun kereta baik subuh maupun tengah malam saat aku pulang dari perantauan kuliah. Bapakku sayang yang selalu menjemputku di terminal bus saat aku pulang dari petualanganku ngebolang. Dan kini Bapakku yang sedang menunggu untuk menjemput putrinya yang akhirnya pulang setelah satu tahun meninggalkan rumah. Rutinitas sederhana ini entahlah mengapa bagiku merupakan suatu rutinitas yang tak ingin aku lepas dalam hidupku. Karena dari rutinitas ini lah salah satu dari sekian cara aku tahu bahwa Bapakku yang disiplin dan tegas selalu mendampingi dan mencintaiku. Sungguh tak sabar dijemput Bapakku sayang minggu depan!! I miss you Dad.. :)

Rabu, 08 April 2015

“Sotonya Ibu Jual Rp 2.000,- Nduk“

Terpisah antara Pulau Jawa dan Kalimantan memaksa saya hanya bisa berkomunikasi dengan kedua orang tua saya via telpon. Saya yang aslinya anak rumahan, untuk pertama kalinya tak terasa sudah hampir satu tahun saya pergi meninggalkan rumah dan belum pulang sampai bulan Mei nanti. Telpon adalah satu-satunya pengobat rindu saya kepada keluarga.

Di tengah perjalanan saya pulang kerja kemarin saya menelpon ibu saya, tentunya hanya karena alasan sederhana, saya kangen Ibu. Dalam lima menit perjalanan saya pulang dari Klinik ke rumah ada pembicaraan singkat namun menarik dan insya Allah akan selalu saya ingat sepanjang hidup saya.

Senin, 6 April 2015 jam 16.20 WIB.

Saya : “Ibu sedang apa?”
Ibu : “Lagi duduk Nduk jaga warung sambil ngobrol ama Mbah Yem..” (FYI: Ibu saya Alhamdulillah memulai usaha warung soto nya sejak bulan Januari kemarin. Sebuah warung soto sederhana yang dibuka di depan rumah saya. J )
Saya : “Wah, masih buka jam segini? Gimana Bu dagangan hari ini?”
Ibu : “Alhamdulillah Nduk, namanya jualan kadang habis kadang sisa, namun tetap Alhamdulillah..”
Saya : “Iya Bu, Alhamdulillah… Lingkungan sekitar rumah sudah mulai rame ya Bu?” (terlihat sekali saya kurang tahu bagaimana perubahan kondisi desa saya khususnya area sekitar rumah selama saya tinggalkan. #tepokjidat)
Ibu : “Alhamdulillah rame sekarang Nduk.. mulai banyak anak-anak yang maen sepak bola di lahan kosong deket rumah juga. Mereka selalu mampir ke warung setiap habis main bola. Seneng kalo ngeliat anak-anak abis olahraga..”
Saya : “Wah seruuuuu!!! Warungnya Alhamdulillah jadi ikut laris ya Bu..”
Ibu : “Alhamdulillah rame, tapi kalo soal untung Ibu gak terlalu ngejar Nduk..”
Saya : “Kenapa gitu Bu?”
Ibu : “Ibu kasihan kalo ngeliat anak-anak abis olahraga, pasti lapar dan namanya anak-anak yang masih minta uang saku ke orang tua pastilah uangnya gak banyak, jadi Ibu jual aja sotonya cuma Rp 2.000,- buat mereka.”
Saya : “Walah!! Gak papa gitu Bu? Kan Ibu biasanya juga cuma jual sotonya Rp 5.000,- yang sebenarnya menurut Genduk gak terlalu mahal.”
Ibu : “Nggak papa, kan ibadah, ada doa nya, khususnya buat anak-anak Ibu.”
Saya : “Hmmm???” (muncul blo’on nya)
Ibu : “Iya nggak papa Nduk, mungkin dengan apa yang Ibu lakukan, Allah akan menggantinya dengan memberikan hal yang sama pada anak-anak Ibu. Semoga Allah membalas dengan menjaga anak-anak Ibu yang sedang jauh di sana. Semoga saat anak-anak Ibu mengalami kesulitan dan Ibu tidak bisa mendampingi, Allah memberikan pertolongan-Nya dari tangan-tangan orang-orang di sekitarnya.”
Saya : #speechless (mewek di jalan sambil naik sepeda)

Terlepas dari ilmu untung-rugi ala pedagang, saya lebih belajar tentang arti ketulusan menjalani hidup, melakukan kebaikan, dan memberi tanpa mengharapkan imbalan. Semua saya pelajari dari Allah SWT melalui Ibu saya tercinta.

I love you Mom… T____T

Senin, 16 Maret 2015

Membandingkan Diri Dengan....

Salah satu sikap manusiawi yang sering dilakukan orang adalah membandingkan dua objek berbeda, entah itu membandingkan dirinya sendiri dengan orang lain, atau membandingkan orang lain terhadap orang lain. Efek samping dari aktivitas membandingkan dua objek ini sering kali menghasilkan efek negatif pada subjek yang melakukan dengan mulai munculnya sifat iri, sifat rendah diri, sifat mencela, sifat superior, hilangnya kepercayaan diri, hilangnya sifat menghargai orang lain dan sebagainya. Walau memang pastinya masih banyak juga orang yang dapat mengambil nilai positif dan justru menjadi aktivitas yang mampu memicunya untuk lebih semangat menjalani hidup. Tetapi kalau boleh memilih, saya secara pribadi mungkin lebih baik memilih mendapatkan efek positif dengan menghindari terjadinya efek negatif. Ops, bagaimana caranya? caranya sangat mudah untuk teman-teman yang masih senang beraktivitas membandingkan dua objek dengan menghindari efek negatif dari aktivitas itu. Cara mudah itu adalah cara yang yang jarang sekali dilakukan oleh semua orang bahkan cenderung dilupakan, yaitu membandingkan diri sendiri terhadap diri sendiri. Kita sering kali terlalu sibuk mengurus orang lain dan melupakan diri kita sendiri, lupa untuk mengamati setiap perubahan yang terjadi pada diri kita dan mengevaluasi setiap proses kehidupan yang sudah kita lewati.

Aktivitas membandingkan diri saya yang sekarang terhadap diri saya yang dulu ini lah yang sedang asyik saya lakukan akhir-akhir ini. Dimulai dari hal-hal sederhana seperti membandingkan ukuran tubuh, kerajinan olahraga, peningkatan kesehatan, kedisiplinan, kedewasaan diri, dan sebagainya. Kadang saya merasa lucu terhadap betapa drastisnya perubahan yang terjadi pada diri saya. Selain pada kondisi tenang seperti malam ini, ada beberapa saat menarik di mana saya merasa itu lah saat yang tepat untuk membandingkan diri saya. Saat saya sedih dan lemah saya membandingkan diri saya terhadap masa-masa sulit saya dan melihat bagaimana saya bisa bertahan hingga hari ini. Saat saya merasa bodoh saya mulai membandingkan bagaimana cara saya belajar dulu dengan cara belajar saya sekarang. Eits!, bahkan ternyata hanya dari membandingkan diri saya terhadap diri saya sendiri saja juga kadang ada perasaan negatif yang muncul. Yah, tetapi setidaknya setiap perasaan negatif yang muncul itu tidak terekspansi lebih luas karena hanya melibatkan dua objek dan objek itu adalah diri saya sendiri. Walau ada sedikit perasaan negatif yang sering kali muncul, akan tetapi perasaan positif yang muncul dari rasa syukur dan apresiasi terhadap diri sendiri lebih terasa manfaatnya dan menjadi pemicu untuk melakukan yang terbaik lagi ke depannya. Manusia memang makhluk Tuhan yang tak sempurna, tapi manusia diciptakan untuk senantiasa berusaha melakukan yang terbaik di kehidupannya. Sebuah kehidupan yang tak abadi di dunia. Selamat mencoba membandingkan diri Anda! :)

Minggu, 11 Januari 2015

Senja Sore

Ada pertanyaan kecil yang muncul dalam diamku saat ini, "Tuhanku, mengapa senja sore selalu terasa nyaman? mengapa Engkau buat aku mencintai senja sore-Mu yang indah ini? Entah saat hujan maupun saat cerah, aku selalu memilih senja sore-Mu sebagai waktu terbaikku setiap hari..."

Di senja sore ini aku sedang duduk di depan meja belajarku menatap jingganya langit sore dari jendela kamarku. Dari jendela persegi berukuran 80x80 cm kuadrat ini aku sibuk menikmati apa yang alam tayangkan di sana. Kalian ingin tahu apa yang aku lihat?

Dari kedua mataku aku melihat langit sore yang sedikit cerah dan berawan dengan warna biru bercampur kuning keemasan. Angin hari ini pun begitu sejuk hingga membuatku ingin menutup mata karena kenyamanan yang diberikannya. Ada dua buah pohon kelapa dan satu buah pohon mangga yang menutupi pemandangan gunung dan hutan bakau dibelakangnya. Dalam indahnya lukisan alam ini sejenak ada dua ekor burung kecil yang melintas dan menambah kecantikan pemandangan yang kulihat. Namun sayangnya aku tidak tahu apa jenis burung-burung itu. Dan saat aku pasang telingaku dengan baik-baik maka dapat kudengar suara kicauan burung bersambutan. Aku pun kehabisan kata-kata untuk menjelaskan betapa indahnya sore hari ini karena terlalu banyak alasan yang membuat sore selalu memberikan sensasi kehangatan yang menyejukkan bagiku. Dalam hangatnya sore ini kutemukan sentuhan lembut Tuhanku yang menemaniku menghilangkan setiap kesedihan dan beban yang tiba-tiba kurasakan hari ini. Bersama tenggelamnya matahari pula selalu kubenamkan berbagai pertanyaan yang tak pernah kutemukan jawabannya. Rasa bahagia dan rindu yang hadir hari ini pun akan selalu menjadi memori indah yang tak pernah kulupakan.

Ketika sore-soreku mulai berakhir, aku selalu menutupnya dengan berkata pada diriku sendiri bahwa, "Segala kebahagiaan dan kesedihan hari ini akhirnya terbenam bersama matahari, dan saat esok matahari terbit aku akan kembali mendapatkan kebahagian dan perjuangan yang baru lagi.. terima kasih Yaa Rabb yang untuk kesekian kalinya memberikanku satu hari yang berarti lagi hari ini..."

Jumat, 05 September 2014

Ku Tak Mau Seperti Ilalang

Pernahkah kalian berpikir bahwa alang-alang itu indah? bahwa alang-alang itu romantis? Oh yeah, aku pun pernah berpikir seperti itu. Maklum lah dulu aku masih anak muda yang terjebak pada romantika fiktif sebuah drama. Walau bukan berarti sekarang aku tak muda lagi dan tak yakin juga apakah sekarang aku sudah sedikit waras untuk melihat realita, hahaha. Tapi kemarin ada sebuah fakta menarik yang membuatku menyimpulkan hal lain tentang alang-alang.

Saat itu aku bersama team ASRI sedang dalam perjalanan pulang setelah setengah hari melakukan evaluasi program di desa Riam Berasap. Dalam perjalanan itu aku terhanyut sejenak dalam lamunanku di luar jendela mobil. Indahnya barisan tanaman alang-alang sepanjang jalan menjadi pemandangan yang cukup menarik perhatianku saat itu. Tiba-tiba aku pun teringat pada banyaknya alang-alang yang tumbuh di hutan bekas penebangan liar. Spontan aku pun langsung tanya pada salah satu temanku, "Erica, mengapa hutan yang ditebang selalu hanya ditumbuhi oleh alang-alang? mengapa pohon hutan tak bisa tumbuh di sana?". Setelah mendengar pertanyaanku tersebut Erica pun langsung menjawabnya, "Tanah hutan pada dasarnya merupakan tanah yang baik, tetapi ketika 
tanah tersebut mengalami perubahan ekosistem karena penebangan liar akhirnya kualitas tanah pun perlahan-lahan mulai memburuk. Akibat dari penurunan kualitas tanah ini lah yang menyebabkan hanya tanaman alang-alang yang bisa tumbuh di atasnya. Karena salah satu kehebatan tanaman alang-alang adalah tumbuh di berbagai jenis tanah dengan baik. Tetapi tanaman alang-alang bukanlah tanaman yang baik saat ia sudah tumbuh. Akar alang-alang merupakan salah satu faktor yang mampu mengganggu pertumbuhan akar tanaman hutan lainnya sehingga membuat tanaman hutan sulit tumbuh. Keberadaan akar alang-alang ini pula yang justru membuat kualitas tanah hutan semakin lebih memburuk sehingga mempersulit reboisasi hutan. Apalagi alang-alang termasuk jenis tanaman yang panas, yang artinya jenis tanaman yang mudah mengering di musim kemarau sehingga sering kali menyebabkan terjadinya kebakaran hutan."
"Oh begitu..." itulah jawaban singkatku untuk jawaban panjang Erica. Setelah mendengar jawaban itu aku pun kembali tenggelam dalam pemikiranku sendiri. "Jika aku sebuah tanaman mungkin aku tak ingin menjadi alang-alang. Sebuah tanaman yang bebas tumbuh dimana saja tetapi tidak memberikan manfaat untuk sekitarnya." Mungkin kesimpulan ini terdengar cukup polos dan tergesa-gesa, hanya saja boleh kan aku memberikan kesimpulan pada setiap wawasan baru yang kuterima? hehehe. Kesimpulan lain yang kuterima hari itu adalah bahwa Allah memberikanku kesempatan untuk belajar arti kehidupan tak hanya dari segala problematika manusia, tetapi bahkan dari tanaman yang mungkin tak berharga seperti alang-alang pun aku diingatkan kembali untuk senantiasa terus memberikan yang terbaik pada siapapun dan apapun yang ada di sekitarku.

Hidup adalah proses pembelajaran. :)

Selasa, 11 Maret 2014

A Million Reasons To Smile

Apa yang ingin saya ceritakan kali ini? Sejujurnya saya bingung bagaimana cara yang tepat untuk berbagi perasaan saya saat ini. Bahkan tulisan ini sudah saya coba berkali-kali tulis dari kemarin, tetapi langsung saya hapus karena saya tak tahu bahasa yang tepat untuk mengungkapkan perasaan saya. Apa yang harus saya ungkapkan kali ini? Euhmmm baiklah, saya coba dengan kalimat sederhana terlebih dahulu saja kalo begitu.

Quote favorit saya dari dulu hingga kini adalah, “Enjoy your life, no matter how hard it may seem. When life gives you a thousand reasons to cry, show the world you have a million reasons to smile.”. Yups, a million reasons to smile. Adakah yang pernah bilang atau mengalami hidup yang selalu bahagia tanpa pernah mengalami kesedihan? Sayangnya, jika ada yang bilang atau mengalaminya maka bisa dipastikan hal itu tidaklah mungkin. Karena semua yang terjadi di dunia ini berjalan dengan seimbang, termasuk emosi manusia. Begitu pula dengan hidup saya, ada saat-saat dimana saya jatuh dan sedih, tetapi ada pula saat-saat dimana saya bahagia berbunga-bunga. Kata orang tua, “saat sedih maupun senang, kita harus senantiasa mensyukurinya..”. Mewujudkan rasa syukur saat kita bahagia tentunya sangatlah mudah, tetapi bagaimana cara mewujudkan rasa syukur saat sedih? Menurut saya salah satu caranya adalah dengan menemukan ‘sejuta alasan untuk tersenyum’ yang kita miliki.

Saat kesedihan-kesedihan itu datang, saya selalu berusaha menemukan alasan-alasan untuk tetap tersenyum. Mulai dari mendekatkan diri dengan Allah, mengingat keluarga tercinta yang saya miliki, mencari support dari sahabat dan teman-teman saya, dan berbagai alasan lain. Tetapi ada hal menarik yang menjadi alasan baru saya untuk senantiasa semangat dan tersenyum dalam sebulan terakhir ini. Yaitu para pasien-pasien saya, orang-orang yang cukup baru saya kenal dalam hidup saya. 

Dulu, saat saya sedih sering kali saya menghabiskan waktu satu atau dua hari mengurung diri untuk menenangkan diri. Tetapi sebulan terakhir ini ceritanya berbeda. Tidak hanya didasarkan karena tanggung jawab pekerjaan dan kewajiban saya terhadap pasien-pasien saya tiap hari yang membuat saya tidak memiliki waktu untuk mengurung diri, tetapi semakin lama saya menjalaninya, saya mempunyai kebutuhan pribadi dari hasil interaksi dengan pasien saya. Pasien yang datang tiap hari dengan berbagai macam keluhan, berbagai usia, berbagai karakter, membuat saya belajar banyak hal. Profesi saya tidak hanya sekedar mengetahui penyakit dan obatnya, tetapi mempelajari setiap perkembangannya yang variatif pada pasien saya dan senantiasa merangsang diri untuk belajar lebih banyak hal lagi. Profesi saya tidak hanya sekedar mendengar keluhan, tetapi mencoba mengerti keluhan-keluhan mereka, ikut ber-empati dan ikut membantu mencari solusi yang tepat akan keluhan-keluhan mereka. Profesi saya tidak hanya sekedar memberi saran, tetapi tahu cara komunikasi yang tepat menyampaikan saran-saran itu dengan bahasa yang baik dan mudah untuk mereka mengerti. Profesi saya tidak hanya berwajah manis, tetapi senantiasa memberikan wajah yang ramah, positif, dan menyegarkan untuk menularkan semangat kepada para pasien. Profesi saya tidak hanya hubungan antara apoteker dan pasiennya, tetapi sebuah interaksi manusia yang bersahabat. Sebuah profesi yang tak menuntut, tetapi membuat saya sadar secara otomatis bahwa saya harus senantiasa menjaga semangat dan senyum saya bukan hanya untuk diri saya, melainkan juga untuk pasien-pasien saya. Berbagai cerita dan keluhan yang mereka alami, sering kali membuat saya kembali teringat dan tersadar akan berbagai keberuntungan kecil yang saya miliki dan sempat saya lupakan. Terima kasih untuk pasien-pasien saya, karena mereka membuat hidup saya berjalan dengan penuh semangat dan positif walau saat saya sedih sekalipun. Terima kasih... terima kasih sudah menjadi bagian dalam ‘sejuta alasan saya untuk tetap tersenyum’. J

Selasa, 25 Februari 2014

Dimanakah Apoteker Lulusan ITB Seharusnya Berada?

Kemarin sore asisten apoteker saya bertanya pada saya, “Mbak Indah, mbak kan lulusan ITB, pinter dan bisa cari kerjaan bagus, kok mau sih kerja di sini dan milih di Semarang? Apa gak sayang tuh Mbak? Lulusan ITB lho padahal?”

Tak dipungkiri itu merupakan salah satu pertanyaan yang sudah saya antipasti suatu saat akan ditanyakan orang dan tentunya bukan pertanyaan yang mudah untuk saya jawab. Akhirnya saya jawab saja pertanyaan itu dengan apa adanya dan kondisi sebenarnya.

“Saat saya lulus apoteker kemarin Ayah saya berkata, ‘jangan jadikan embel-embel ITB mempersulit langkahmu ke depan.. ITB adalah tempat kamu belajar dan mencari ilmu, bukan menjadi tuntutan di mana kamu akan bekerja. Tempat bekerja adalah suatu tempat yang memenuhi tiga kriteria utama, yaitu tempat yang sesuai karakter kepribadianmu, tempat yang tepat ilmu-mu dapat diterapkan, dan tempat dimana kamu dapat terus belajar.. setiap orang punya posisi dan peranan masing-masing di dunia ini, temukan posisi yang tepat dimana ilmumu bisa bermanfaat…’ Lalu apa yang salah dengan saya bekerja disini? Bagi saya tidak ada yang salah. Tempat ini lebih dekat dari keluarga saya dibandingkan Bandung atau Jakarta, tempat ini sesuai kepribadian saya yang senang berinteraksi dengan banyak orang, di tempat ini ilmu saya dapat diterapkan, dan di tempat ini saya setiap hari selalu belajar hal-hal baru, ilmu kesehatan, ilmu sosial, ilmu komunikasi, dan sebagainya. Di tempat ini pun banyak tantangan bagi saya sebagai seorang apoteker yang harus tetap diasah dengan serius. Walau saya tidak yakin apakah saya akan berada disini dalam jangka waktu yang sangat lama, karena tidak dipungkiri saya pun masih punya satu list rencana dan cita-cita pribadi yang ingin saya capai dalam hidup saya.. tetapi saya menikmati pekerjaan saya disini saat ini. Asal saya senantiasa terus bergerak dan berkontribusi dengan baik bersama ilmu saya, itu cukup untuk saya… So, kenal lah saya sebagai seorang apoteker, bukan sebagai seorang apoteker lulusan ITB, karena ITB hanyalah tempat saya mencari ilmu, tapi di sini adalah salah satu tempat saya bisa mengaplikasikan ilmu…J “

Selasa, 11 Februari 2014

Apresiasi Tertinggi

Sudah lupakah kamu dari mana kamu mampu dapatkan apresiasi tertinggi dalam hidupmu?
Bukan dari orang-orang yang memuji perjuanganmu.
Bukan dari setumpuk piala dan piagam penghargaan yang kau timbun.
Bukan dari seberapa banyak harta dunia yang kau kumpulkan.
Bukan dari setinggi-tingginya posisi yang kau miliki.
Bukan dari lama tidaknya hidupmu.

Karena pada dasarnya, pujian-pujian orang tersebut, banyaknya piagam dan harta-harta dunia tersebut, setinggi apapun posisi itu, serta selama apapun kehidupanmu, mereka hanyalah perihal duniawi yang bersifat sesaat. Jangan buat dirimu diperbudak oleh hal-hal duniawi itu. Pada awal dan akhirnya apresiasi tertinggi hanya bisa diperoleh dari Tuhanmu. Sebuah apresiasi terindah yaitu Jannah-Nya yang sudah disiapkan untuk kehidupan abadimu kelak. Salah satu dari sekian cara untuk mendapatkan apresiasi-Nya adalah dengan mengikhtiarkan diri melakukan segala hal di dunia ini dengan niat untuk mendekatkan diri dengan-Nya. Menjadikan setiap keringat, tangis, dan senyuman yang tercurahkan hanya untuk diberikan kepada-Nya.

Insya Allah Yaa Rabb, saya sedang berusaha. :)

Jumat, 07 Februari 2014

Start Another Long Journey

Aku merasa excited, tetapi tak dipungkiri aku pun merasa takut. Aku selalu berkata, "It's okay mom, i have many strengths and spirit, I'll be okay..". Tapi itu hanya untuk membuat keadaan menjadi tak mengkhawatirkan bagi mereka bahkan diriku sendiri. Aku mencoba menantang ketakutan ini. Aku tak yakin apakah petualanganku esok akan lancar atau penuh dengan hambatan. Aku hanya mempunyai sedikit keberanian untuk memulai dan menguatkan diri. Mulai besok perjalanan panjangku akan dimulai seorang diri. Mencoba mengenal orang-orang baru di sekitarku. Mencoba beradaptasi dengan kemandirian yang kumiliki di tempat-tempat baru. Ya Rabb, jagalah aku untuk perjalanan panjangku mulai esok. Jagalah mereka yang aku tinggalkan untuk petualangan ini. Dan pertemukan kami nanti setelah perjalanan ini usai dengan bahagia.

Okey, bismillah... let's go!!!! :)

Sabtu, 01 Februari 2014

Happy Morning


Perasaan ini tidak kudapatkan dari pengalaman yang Wah untuk diceritakan. Perasaan ini tidak didapatkan dari kisah-kisah nyata diri sendiri maupun orang lain. Perasaan ini diperoleh hanya satu dari sekian caraku mengisi waktu di pagi hari. Perasaan ini diperoleh hanya dari secuil cerita menarik komik yang kubaca pagi ini. Sebuah perasaan sederhana, "Ah inilah perasaanku yang ingin kuungkapkan untuk orang-orang yang kucintai.. Ah inilah perasaan yang kuinginkan dan kudengar dari orang lain untukku.. Please, just be honest each other..." #HappyMorning :)


Kamis, 30 Januari 2014

The Definition of Relationships

Each expecting different things, each looking at different places, each dreaming different dreams… Everything that happens between one man and one woman, is just continuous love and war. You sulk, you pacify, you fight, you make up, you hurt, you embrace. A relationship like a manic-depressive patient who can’t make up his mind. But the hardest thing about the relationship between a man and a woman is the timing. If the love doesn’t begin at the same time, it’s unlikely to ever begin at all.

Answer Me 1997 Episode 11

Sabtu, 25 Januari 2014

Mengapa Bisa?

First Question.
Mengapa bisa tidak terjadi banjir di desa?

Walau tinggal di desa, kami sangat pintar untuk menjaga kebersihan lingkungan kami. Setiap warga desa mempunyai kesadaran bahwa membersihkan lingkungan tidak hanya membersihkan lingkungan di dalam rumah saja, melainkan juga lingkungan di luar rumah (baca: jalanan, selokan, kebun, dan area-area lainnya). Kami tidak pernah membuang sampah ke selokan kami, justru selokan pun termasuk area yang kami sapu setiap hari agar aliran air tetap lancar dan tidak pernah tersumbat. Kami tidak pernah menimbun sampah dalam waktu yang lama karena sampah yang kita sapu langsung kita bakar saat itu juga. Apakah kami tidak khawatir dengan polusi udara? tentu saja tidak, sampah kami sebagian besar adalah sampah-sampah organik, kalau pun ada sampah anorganik saat pembakaran itu tidak terlalu mengkhawatirkan. Mengapa? karena di desa kami masih banyak pepohonan yang akan mereduksi secara cepat asap-asap hasil pembakaran tersebut.
Agar peresapan air tetap baik, pengembangan jalan aspal hanya kami lakukan di jalan utama. Sementara untuk halaman dan jalanan-jalanan kecil kami biarkan tetap berupa tanah biasa sebagai daerah rembesan air.
Jadi sekarang apakah kamu tahu mengapa di desa tidak pernah terjadi banjir? :)

Second Question.
Mengapa bisa melihat bintang dengan jelas di desa?

Kami masyarakat desa pun membutuhkan cahaya untuk menerangi kegelapan saat malam. Tetapi kita tahu, bahwa fungsi utama mengapa kita memerlukan cahaya yaitu adalah saat kegelapan itu hadir. Sehingga kami hanya menggunakan cahaya lampu secukupnya. Tidak semua rumah membutuhkan lampu jalan di malam hari. Jika satu rumah sudah mempunyai lampu jalan di rumahnya yang cukup untuk menerangi jalanan beberapa rumah di sekitarnya, maka rumah di sekitarnya tak harus menyalakan lampu jalan. Selain untuk menghemat biaya listrik, tentunya kami juga tahu bahwa menyalakan lampu lebih dari seharusnya hanya sia-sia. Kami menyukai indahnya bintang-bintang di saat malam dan kami tahu bahwa semakin banyak cahaya yang terpancarkan ke atas maka akan semakin membuat kami sulit melihat bintang. Sehingga lampu jalan di depan rumah kami selalu kami tutup dengan tudung besi di atasnya. Selain agar lampu tidak roboh karena hujan maupun angin, yah tentunya agar cahaya lampu benar-benar terpusat ke bawah. Jadi sekarang kamu tahu mengapa kita bisa melihat bintang dengan jelas di desa?

Kita diberi kebebasan untuk melakukan eksploitasi alam agar memudahkan aktivitas kita, tetapi jangan lupa, kita juga harus sadar tentang bagaimana cara mengeksploitasi yang tepat tanpa pernah merusak keseimbangannya.

Selasa, 31 Desember 2013

Tiga Puluh Satu Desember

Selamat pagi.. hari ini hari terakhir tahun masehi 2013. Tidak ada hal yang khusus hari ini, aku masih harus ke kantor seperti biasa. Seminggu ini cuaca di kota kembang selalu cerah dari pagi hingga sore, tapi entahlah mengapa pagi ini gerimis sudah menyambutku saat bangun tidur. Walau pagi ini terasa dingin, aku tetap merasa nyaman di dalamnya.

Heuhmmm akhir tahun, dan besok kalender pun sudah berganti. 1 Januari 2014, banyak hal yang melintas di pikiranku mengingat tanggal tersebut. Mulai besok berbagai kebijakan pemerintah mulai berjalan, berlakunya SJSN, redenominasi rupiah, pemilihan presiden baru, bahkan termasuk juga kebijakan bahwa KUA mulai hanya melakukan akad nikah di kantor KUA saja, dan dan dan sebagainya. Bagiku sendiri, aku pun juga mulai diingatkan agenda untuk kencan dengan para dokter (cek EEG, operasi keloid, dan ke dokter gigi).

Setiap tahun selalu ada hal yang membuat kita tersenyum, tertawa, menangis, kecewa, marah, dan berbagai luapan emosi lainnya. Setiap tahun selalu ada pengalaman yang meninggalkan kenangan dan pembelajaran dengan caranya sendiri. Setiap tahun selalu ada pertemuan dan perpisahan yang mengharukan. Setiap tahun selalu ada harapan-harapan baru setelah terpenuhi atau mungkin terpupusnya harapan-harapan yang lalu. Dan ketika tahun mulai berganti, sudah saatnya aku harus meninggalkan masa lalu dan mulai menyambut masa depan yang sudah menunggu.

Lupakan tentang tahun baru, cukup berpikir apa yang kuharapkan akan terjadi padaku esok hari saat aku kembali terbangun? sejenak kututup mataku, dan kupanjatkan sebuah doa untuk esok hari. Sebuah doa sederhana yang hanya berisi harapan agar hari esok selalu berjalan dengan baik, dan jika ternyata besok tidak berjalan dengan baik kuharapkan agar aku bisa mampu menjalaninya dengan baik. Semoga semua doaku dan doamu terkabul. Selamat menyambut tahun baru masehi.. selalu positif dan melakukan yang terbaik..J


“With the new day comes new strength and new thoughts.” 
- Eleanor Roosevelt 

Senin, 30 Desember 2013

Ketika Aku Terbangun

Selalu ada banyak cara untuk mengingatkan diri ini akan bagaimana mensyukuri segala hal, baik dari hal kecil maupun hal besar. Bulan ini, kedua kalinya saya diingatkan untuk mensyukuri betapa beruntungnya saya bahwa Allah masih membangunkan saya dari tidur lelap untuk menjalani kembali hari-hari. Waktu tidur adalah waktu antara hidup dan mati. Dalam tidur, dalam alam ketidaksadaran tersebut tak ada satu pun dari kita yang mengetahui apakah kita akan dibangunkan kembali atau mungkin dilelapkan seterusnya.

عَنْ حُذَيْفَةَ وَأَبِىذَرٍّ رَضِىَاللّهُعَنْهُمَا قَالَ : كَانَ رَسُولُ اللهِ صَلَّ اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِذَاأَوَى إِلىَ فِرَاشِهِ قَالَ :  بِاسْمِكَ اللّهُمَّ أَحْيَاوَأَمُوتُ ، وَإِذَااسْتَيْقَظَ قَالَ : اَلْحَمْدُ ِللهِ الَّذِى أَحْيَانَا بَعْدَمَا أَمَاتَنَا وَإِلَيْهِ النُّشُورُ . رَوَاهُ الْبُخَارِىُّ

Artinya:
Hudzaifah r.a. dan Abu Dzarr keduanya berkata : Adalah Rasulullah saw. jika akan tidur membaca : bismikallahumma ahya wa amutu (Dengan nama-Mu ya Allah aku hidup dan mati), dan apabila bangun tidur membaca ; alhamdulillahil ladzi ahyana ba’da ma amatana wailaihin nusyur (Segala puji bagi Allah yang menghidupkan aku kembali setelah mematikan aku dan kepada Allah akan bangkit). (Bukhari)

Minggu, 01 Desember 2013

A Miracle

Some people say there are miracles, and some people say there’s no such thing. But in moments of urgency, people inevitably pray and wait for a miracle. Thus, miracles need to exist so that in all times of urgency there is some glimmer of hope for people to dwell on. Miracles need to exist.

But miracles are miracles because they aren’t common. There are far more misfortunes we don’t think of than miracles we don’t expect. That is the world. Life is too cold and harsh to live believing only in miracles.

In the end, miracles are a matter of probability. Miracles only exist to one person, and to the 9,999 others, are simply empty talk of that thing they call miracles. Life is cruel with its absolute and overwhelming probability. But still, miracles are needed. Rather than the despair of a zero probability that will never come to pass, a ten-million-to-one chance is better. That is how hope exists.

Right now a miracle might happen to me.

Sabtu, 30 November 2013

My Normal Daily Activity

Setelah 5 tahun menjalani pola hidup mahasiswa yang bisa dibilang tidak terlalu beraturan, akhirnya aku kembali mendapatkan pola hidup normalku sejak bulan november ini. 

04.00 - 04.15 : Bangun tidur, sholat subuh.
04.15 - 06.00 : Baca-baca, ngenet, nyuci baju, masak, sarapan
06.00 - 06.30 : Mandi, siap-siap berangkat kerja
06.30 - 17.00 : Kerja
17.00 - 18.00 : Istirahat, males-malesan, mandi
18.00 - 19.00 : Sholat magrib, baca-baca, ngenet, sholat isya.
19.00 - 21.00 : Nonton TV, baca-baca, chating hingga akhirnya tertidur.
21.00 - 04.00 : Tidur nyenyak hingga terbangun kembali.

Jam biologis 7-8 jam perhari akhirnya bisa kunikmati dengan baik selama sebulan terakhir ini. Teringat saat kuliah dulu, aku bahkan bisa terjaga 3-4 hari tidak tidur sama sekali. Kehidupan yang normal terkadang membosankan, tetapi aku akui pula bahwa ini pola hidup yang sehat untuk tubuhku. Yah, nikmati saja pola teratur ini sebelum mungkin akan kembali tak beraturan, haha. :D