Jumat, 21 November 2014

Five Days, Four Nights

Tepat saat pemerintah memberitakan kenaikan harga BBM, saya bersama teman-teman ASRI sedang melakukan penyuluhan kesehatan dan lingkungan di 6 dusun sekitar Taman Nasional Gunung Palung selama lima hari empat malam. Lima dari 6 dusun tersebut belum terakses sinyal telekomunikasi, empat dari 6 dusun tersebut belum mempunyai sumber air bersih dan toilet memadai, dan satu dari 6 dusun tersebut belum mendapatkan fasilitas listrik sama sekali.

Perbatasan TNGP di dusun Matan Jaya
Banyak cerita menarik yang saya alami selama mengunjungi dusun-dusun tersebut. Tetapi salah satu hal yang menjadi perhatian saya adalah saat menghabiskan waktu di dusun Matan Jaya, salah satu dusun di sekitar Taman Nasional Gunung Palung yang tidak memiliki akses telekomunikasi, air bersih, dan listrik sama sekali. Untuk mendapatkan sinyal telepon mereka harus pergi ke desa lain yang sudah memiliki akses telekomunikasi. Sementara untuk sumber air rumah tangga mereka masih tetap menggunakan keruhnya air sungai di daerah mereka yang dialirkan melalui pipa. Kalian tidak akan menemukan toilet keramik di sini, karena toilet yang mereka gunakan merupakan toilet sederhana dengan lubang pipa besar. Lalu bagaimana dengan listrik? tadinya saya pikir saya tidak akan menemukan hal seperti ini lagi di Indonesia, tetapi ternyata masih ada suatu dusun yang menggunakan lampu minyak sebagai sumber penerangan utama di rumah mereka. Minyak yang mereka gunakan bukanlah minyak tanah yang saat ini sudah langka, tetapi dengan solar yang mempunyai harga lebih terjangkau daripada bensin. Harga solar di dusun tersebut kurang lebih Rp 10.000,-/liternya, sementara harga bensin adalah Rp 12.000,-/liternya. Entahlah berapa harganya sekarang saat pemerintah sudah menaikkan harga BBM di masyarakat. Belum lagi dusun Matan ini termasuk dusun yang sangat jauh dari perkotaan, bisa diperkirakan berapa banyak bensin yang mereka butuhkan untuk transportasi mereka sehari-harinya?. Yah, saya tahu, bahan bakar minyak menjadi salah satu pengeluaran terbesar mereka setiap bulannya.

Diakui atau tidak, berbagai macam pikiran pun muncul dalam renungan saya selama menghabiskan waktu bersama warga dusun-dusun tersebut. Apapun hasil renungan tersebut biarlah menjadi cerita saya sendiri untuk saat ini. Namun begitu saya mengetahui kabar tentang kenaikan harga BBM dan berbagai landasan ditetapkannya kebijakan tersebut, muncul secuil harapan yang ingin saya sampaikan kepada pemerintah negeri ini. "Wahai para pemimpin bangsa, pastikan setiap kebijakan yang diterapkan di negeri ini tidak hanya dihasilkan dari kebijakan pemikiran, akan tetapi dilakukan dengan kebijakan tindakan. Saat engkau menambahkan satu beban kehidupan pada rakyatmu, maka hendaklah engkau meringankan satu beban dalam kehidupan mereka."

Terima Kasih.

Minggu, 26 Oktober 2014

Sebelum dan Saat Kau Tak Ada

Sedang apa teman-teman di hari minggu ini? Heuhmm, tak ada yang terlalu spesial untuk saya hari ini. Yups, seperti yang dilakukan wanita single pada umumnya, hahaha, hari ini hanya saya nikmati dengan seharian istirahat di rumah sambil menikmati lagu-lagu album terbarunya The Script - No Sound Without Silence karena badan saya pegal serta memar setelah perjalanan kemarin sabtu. Ops?! abis jalan-jalan kemana Ndah? Hehehe mari sekilas info dulu ya teman-teman. Setelah lima bulan lebih tinggal di Sukadana akhirnya kemarin saya mendapatkan kesempatan beserta teman-teman ASRI mengunjungi indahnya pantai di Pulau Juanta. Pulau yang tak jauh dari daerah kami tinggal di Sukadana. Hanya cukup dengan mengendarai klothok (sejenis kapal kayu besar) selama satu jam dari tepi pantai Pulau Datuk kita sudah bisa menikmati indahnya panorama satwa laut di hijau dan jernihnya pantai Pulau Juanta. Lengkap cerita serunya jalan-jalan kemarin mungkin saya share next time saja, hehehe. :p

Yang ingin sekali saya bagi hari ini bukanlah tentang bagaimana hasil latihan renang saya di Pulau Juanta, melainkan menariknya obrolan saya dengan Kak Lia saat berada di klothok kemarin. Sambil menikmati sarapan sepiring berdua bakmi medan yang dibawa Kak Lia saat perjalanan, obrolan yang kami bicarakan pun bermacam-macam dari A sampai Z. Tetapi ada satu obrolan menarik yang mungkin ingin sekali saya share ke teman-teman dan semoga senantiasa menjadi pengingat bagi diri saya sendiri juga. Kak Lia bertanya pada saya, "Ndah, coba jawab satu pertanyaan dari kakak ya.. tapi jawabannya gak usah diucapkan keras-keras, cukup tulis dalam pikiranmu saja." Saya pun langsung bersemangat, "Yes kak! apa pertanyaannya?". "Jika ada suatu kondisi dimana Indah harus meninggalkan pekerjaan misal karena dinas ke luar atau karena tidak bekerja lagi di tempat Indah kerja, apakah Indah yakin pasti ada orang yang bisa menggantikan Indah saat tak ada?", tanya Kak Lia. Pertanyaan yang cukup membuat saya berpikir lama untuk memberikan jawaban yang tepat dalam pikiran saya. Setelah saya mendapatkan jawaban saya, saya bilang, "Sudah kak.". "Oke, sip.. kakak gak perlu tahu jawaban Indah, tapi untuk pertanyaan ini kita tahu pasti jawabannya ada dua kemungkinan. Pertama, jawabannya adalah 'tidak ada yang bisa menggantikan saya, karena peranan saya terlalu besar di pekerjaan saya, tidak ada yang bisa saya percaya menjalankan pekerjaan yang saya lakukan'. Lalu jawaban yang kedua adalah, 'saya punya rekan yang bisa saya percaya, yang bisa menghandel pekerjaan di tempat saya bekerja saat saya tak ada'. Sekarang menurut Indah di antara kedua jawaban tersebut mana yang paling baik?". Sebelum saya sempat menjawab pertanyaan tersebut, Kak Lia langsung lanjut menjelaskan. "Jawaban yang kedua adalah yang terbaik Ndah.. mengapa? seseorang dikatakan berhasil menjalankan pekerjaannya dengan baik ditunjukkan dengan seberapa besar ilmu dan manfaat yang sudah ia bagi kepada rekan-rekan kerjanya. Saat ia tidak ada disamping teman-temannya, pekerjaan yang ia tinggalkan tidak ada yang terlantar sehingga reward yang diterima di sini tidak hanya personal dimiliki satu orang saja, tetapi juga bisa dinikmati oleh team yang bekerja bersamanya. Karena pada akhirnya kita semua nanti memang akan pergi Ndah, tapi ada tanggung jawab yang akan kita tinggalkan dan diserahkan pada orang lain. Kamu gak ingin kan tanggung jawab tersebut akan berantakan saat  kau tak ada? itulah pentingnya mengapa kita harus berbagi ilmu dengan rekan-rekan kita Ndah.." Sebenarnya masih cukup panjang obrolan antara saya dan Kak Lia tentang hal ini, tetapi mungkin bisa sedikit saya sampaikan apa yang bisa saya simpulkan dari obrolan tersebut. Setelah obrolan tersebut, saya janjikan pada diri saya bahwa "Mungkin saya tidak bisa selamanya membantu dan bekerja di tempat ini. Suatu saat mungkin saya tidak ada atau pergi meninggalkan tempat ini. Tetapi sebelum waktu itu tiba saya akan senantiasa memberikan yang terbaik bersama rekan-rekan saya, saya tak ingin meninggalkan Pe-Er berat bagi orang-orang yang saya tinggalkan, saya tak mau pelit berbagi ilmu kepada rekan-rekan saya, dan saya ingin membangun sistem kerja yang rapi sehingga tidak hanya saya yang bisa mengerti dan melakukan apa yang saya kerjakan, tetapi orang lain pun bisa melakukannya saat saya tak ada. Bismillah, semangaaat Ndah!!" :)

Teman-teman juga semangaaat ya!! di mana pun tempat kalian bekerja janganlah lelah untuk senantiasa menimbun dan menebar ilmu. :)

Terima kasih Kak Lia.. (^o^)

Senin, 13 Oktober 2014

Welcome 24!!

Aku tak pernah berpikir istimewa untuk ulang tahunku tahun ini jika dibandingkan dengan tahun-tahun sebelumnya. Entahlah, mungkin karena usia yang tidak lah lagi muda, mungkin karena mulai sadar semakin sedikitnya waktu yang tersisa untuk mencapai semua angan yang dicita-citakan, dan mungkin karena sedang jauh dari keluarga dan sahabat-sahabat tercinta. So, aku pun memulai pagi 11 Oktober dengan perasaan 'today is just like another day..'. Bahkan aku pun menyiapkan puding ulang tahunku sendiri, hahahaha. Tetapi ternyata di hari yang sempat kuanggap biasa kemarin, aku mendapatkan kejutan-kejutan spesial dari orang-orang baru dalam hidup saya. Orang-orang yang tak hanya rekan kerja tetapi mendekat menjadi satu keluarga baru yang membuat hari ulang tahun saya yang ke-24 dihiasi dengan kebahagiaan. Hari kemarin, saya merasakan kembali besarnya cinta dan perhatian orang-orang di sekitar saya. 

Terima kasih ibunda, ayah, dan adik-adik tersayang untuk telpon cintanya sehingga aku bisa memulai pagi hariku dengan senyum cerah. Terima kasih untuk sahabat-sahabat tersayang, teman-teman, dan rekan-rekan yang tak lupa mengucapkan dan mendoakan. Terima kasih untuk telur, tepung, bubuk kopi, dan air es nya dari keluarga ASRI dan ASRI Kids. Hahaha.

Hari kemarin bukanlah hari untuk mengulang hari lahir saya, tetapi adalah hari untuk mengulang dan mengingatkan kembali betapa banyaknya cinta yang hadir melalui orang-orang yang saya sayangi. (T____T) #nangisbawangbombay

Welcome 24!! semoga tahun ini bisa menjadi pribadi yang lebih baik lagi dan semakin banyak pengalaman hidup yang bisa dibagi... amiin... :)

Malam bersama ASRI Kids
Sore bersama keluarga ASRI

Minggu, 28 September 2014

Aku dan Lagu Indonesia Raya

Oke, apa sih yang sedang HOT diomongin orang-orang saat ini? RUU Pilkada? atau perdebatan tentang 6x4 dan 4x6? Cukup! apapun hal seru itu saya sedang tidak ingin membahasnya di sini. :D Lebih baik saya ceritakan sesuatu yang ringan untuk para pembaca blog saya di hari minggu. Hehehe (sok banget kayak blognya bakal dibaca aja?!)

Pada saat kegiatan pertemuan evaluasi akhir kontrak Program Sahabat Hutan ASRI yang dilaksanakan di hari kamis kemarin, 25 September 2014, saya tidak hanya datang sebagai notulis acara tetapi juga diberi kesempatan untuk menjadi dirigen pada sesi menyanyikan lagu Indonesia Raya. Sering kah kalian melihat banyak orang berleha-leha saat menyanyikan lagu Indonesia Raya di suatu upacara? Gak serius sama sekali bahkan malah menguap berulang kali? Wahhh kalau saja kalian ikut datang di acara kami kemarin kalian pasti akan terpukau dengan betapa serius dan semangatnya para Sahabat Hutan dan seluruh staf ASRI dalam menyanyikan lagu Indonesia Raya. Tatapan yang tajam, posisi berdiri yang tegap, dan fokus yang tergambarkan dalam diam. Oh tidaaaak!! saya pun nervous abis sebelum memulai mengangkat tangan untuk memandu mereka bernyanyi. "Oke bismillah, you can do it Ndah!!" adalah kalimat yang saya ucapkan keras-keras dalam hati. Duh tiba-tiba tersadar, kapan yak terakhir kali saya memimpin lagu Indonesia Raya?? sepertinya saat saya SMP, hahaha, yang berarti sudah 9 atau 10 tahun yang lalu cuy! OMG! haha #TepokJidat. Hal yang paling saya takutkan adalah bagaimana memulai ketukan 4/4 yang tepat? fyuhhh~~ dan yang bisa saya lakukan hanyalah belajar dadakan 5 menit sebelum memulai nyanyian.. (-__-").

Oke mari kita mulai bernyanyi!! And hey look! alhamdulillah ternyata hal yang saya takutkan tersebut tidak terjadi. YES!! start ketukan 4/4 berjalan dengan lancar.. hihihi (^_^). Setelah merasa berada di zona aman, saya pun mulai menikmati gerakan tangan dan nyanyian yang sedang disandungkan. Lalu tibalah kami pada bagian lirik "Hiduplah tanahku, Hiduplah negriku, Bangsaku Rakyatku semuanya..." dan jreng jreng jreng seolah kepala saya diketok batok kelapa, "setelah ini bagian lirik akhirnya harus diulang berapa kali yak??" God, saya LUPA!! (>O<) Huks! patah hati rasanya, ambruk, hancur perasaan saya karena merasa gagal menjadi warga Indonesia (T___T) #LebayKlimaks. Haduh Ndah,.. 23 tahun menjadi warga Indonesia kenapa bisa lupa lirik sih?? #JLEB!. Akhirnya saya tetap mencoba menjaga fokus dan kepedean penampilan saya sebagai dirigen. Harga diri harga mati cuy!!. Akhirnya tibalah kami di bagian lirik akhir "Indonesia Raya Merdeka Merdeka, Tanahku negriku yang kucinta..". Dan dengan kepedean serta harga diri tinggi, "sepertinya lagunya berhenti di bagian ini..", saya pun langsung menghentikan gerakan tangan saya saat tiba di akhir lirik "Hiduplah Indonesia Raya..." yang seharusnya masih harus diulang satu kali lagi. Saya menutup gerakan tangan saya dengan pose yang anggun, tetapi sayangnya pose anggun ini berubah menjadi canggung karena ternyata masih ada pengulangan lirik dan semua orang masih fokus menyanyi. Sungguh rasa malu yang tidak tertahankan, rasanya pengen terjun dari gunung Himalaya!! (jauh amat Ndah?!). Semua orang yang memperhatikan pun tetap melanjutkan nyanyian dengan menahan tawa. Yaa Tuhaaan, apa yang harus saya lakukan selanjutnya??? akhirnya saya kembali mengangkat tangan dan melanjutkan memberi arahan lagu Indonesia Raya hingga akhir. Saat lagu selesai hanya ada dua  hal yang terjadi, pertama, jebolnya tawa semua orang yang tertahan saat menyanyi dan yang kedua adalah saya yang langsung lari ke pojokan menyembunyikan rasa malu. #RedFace

Pelajaran yang saya ambil kali ini adalah: "Ingat Ndah, lirik akhir lagu Indonesia Raya harus diulang dua kali!" Hahaha

Jumat, 05 September 2014

Ku Tak Mau Seperti Ilalang

Pernahkah kalian berpikir bahwa alang-alang itu indah? bahwa alang-alang itu romantis? Oh yeah, aku pun pernah berpikir seperti itu. Maklum lah dulu aku masih anak muda yang terjebak pada romantika fiktif sebuah drama. Walau bukan berarti sekarang aku tak muda lagi dan tak yakin juga apakah sekarang aku sudah sedikit waras untuk melihat realita, hahaha. Tapi kemarin ada sebuah fakta menarik yang membuatku menyimpulkan hal lain tentang alang-alang.

Saat itu aku bersama team ASRI sedang dalam perjalanan pulang setelah setengah hari melakukan evaluasi program di desa Riam Berasap. Dalam perjalanan itu aku terhanyut sejenak dalam lamunanku di luar jendela mobil. Indahnya barisan tanaman alang-alang sepanjang jalan menjadi pemandangan yang cukup menarik perhatianku saat itu. Tiba-tiba aku pun teringat pada banyaknya alang-alang yang tumbuh di hutan bekas penebangan liar. Spontan aku pun langsung tanya pada salah satu temanku, "Erica, mengapa hutan yang ditebang selalu hanya ditumbuhi oleh alang-alang? mengapa pohon hutan tak bisa tumbuh di sana?". Setelah mendengar pertanyaanku tersebut Erica pun langsung menjawabnya, "Tanah hutan pada dasarnya merupakan tanah yang baik, tetapi ketika 
tanah tersebut mengalami perubahan ekosistem karena penebangan liar akhirnya kualitas tanah pun perlahan-lahan mulai memburuk. Akibat dari penurunan kualitas tanah ini lah yang menyebabkan hanya tanaman alang-alang yang bisa tumbuh di atasnya. Karena salah satu kehebatan tanaman alang-alang adalah tumbuh di berbagai jenis tanah dengan baik. Tetapi tanaman alang-alang bukanlah tanaman yang baik saat ia sudah tumbuh. Akar alang-alang merupakan salah satu faktor yang mampu mengganggu pertumbuhan akar tanaman hutan lainnya sehingga membuat tanaman hutan sulit tumbuh. Keberadaan akar alang-alang ini pula yang justru membuat kualitas tanah hutan semakin lebih memburuk sehingga mempersulit reboisasi hutan. Apalagi alang-alang termasuk jenis tanaman yang panas, yang artinya jenis tanaman yang mudah mengering di musim kemarau sehingga sering kali menyebabkan terjadinya kebakaran hutan."
"Oh begitu..." itulah jawaban singkatku untuk jawaban panjang Erica. Setelah mendengar jawaban itu aku pun kembali tenggelam dalam pemikiranku sendiri. "Jika aku sebuah tanaman mungkin aku tak ingin menjadi alang-alang. Sebuah tanaman yang bebas tumbuh dimana saja tetapi tidak memberikan manfaat untuk sekitarnya." Mungkin kesimpulan ini terdengar cukup polos dan tergesa-gesa, hanya saja boleh kan aku memberikan kesimpulan pada setiap wawasan baru yang kuterima? hehehe. Kesimpulan lain yang kuterima hari itu adalah bahwa Allah memberikanku kesempatan untuk belajar arti kehidupan tak hanya dari segala problematika manusia, tetapi bahkan dari tanaman yang mungkin tak berharga seperti alang-alang pun aku diingatkan kembali untuk senantiasa terus memberikan yang terbaik pada siapapun dan apapun yang ada di sekitarku.

Hidup adalah proses pembelajaran. :)