Tampilkan postingan dengan label Renungan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Renungan. Tampilkan semua postingan

Minggu, 24 April 2016

Why I Admire This Woman

Hari rabu, 20 April 2016, saya dan Bu Setyawati berangkat ke desa Pangkal Tapang dari jam 9 pagi berboncengan dengan motor. Di desa itu lah kami akan melakukan pemeriksaan kambing yang dimiliki oleh sekitar 10 orang janda yang tinggal di sana. Saya mengawali perjalanan dengan antusias yang tinggi karena pagi yang cerah. Tetapi antusias tersebut pun langsung berubah serius 15 menit kemudian saat saya menyaksikan bagaimana rusaknya satu-satunya jalan utama yang harus kita ambil untuk bisa ke lokasi. Akibat struktur aspal yang tidak baik, hujan selama beberapa bulan terakhir, aktivitas mobilisasi kendaraan besar, dan kurangnya fasilitas perawatan dan perbaikan jalan, maka tidak heran kondisi jalan utama tersebut semakin hari semakin memburuk. Hampir setiap 100-200 meter di jalan selalu kami temukan lubang besar yang harus kami waspadai. Hanya dari masalah yang timbul setelah lima belas menit perjalanan ini saja, saya langsung berpikir, "Tugas Ibu Set berbahaya dan berat sekali ternyata..". Tiga puluh menit setelah keluar jalan aspal, kami harus melewati jalan utama yang belum diaspal (baca: masih tanah merah), dan ingin tahu seperti apa kondisi jalannya? cek foto-foto di bawah ini. Saat melewati jalan tanah ini saya pun beberapa kali terpaksa harus turun dari motor dan berjalan kaki karena motor sulit untuk lewat. Sepanjang jalan Ibu Setyawati tak pernah berhenti memberikan saya senyuman sehingga membuat perjalanan yang tak mudah itu tetap terasa menyenangkan. Melihat bagaimana kondisi jalanan yang selalu dilewati Ibu Setyawati ini, membuat saya merasa tertampar dan menyesal karena saya sering mengeluhkan pekerjaan saya yang belum lah seberapa.
 

Setelah hampir satu jam melewati tanah merah, akhirnya kami tiba di lokasi jam 11 siang. Saat kami tiba di sana, langit tiba-tiba mulai mendung sehingga membuat rintikan hujan mengiringi empat jam waktu kami untuk memeriksa kambing. Satu persatu secara teliti Ibu Setyawati memeriksa kondisi kambing para janda tersebut. Kali ini saya bertugas membantu mencatat hasil pemeriksaan kambing. Kambing-kambing tersebut adalah bagian dari salah satu program konservasi ASRI, yaitu Program Kambing Untuk Janda. Program ini merupakan sebuah program yang fokus dalam kegiatan peningkatan nilai ekonomi dan sosial para ibu-ibu janda yang tinggal di sekitar Taman Nasional Gunung Palung dengan memberikan alternatif pencaharian melalui peternakan kambing agar aktivitas perambahan hutan dapat berkurang. Pemeriksaan yang dilakukan bu Setyawati pun tidak hanya memastikan pemerataan kambing, tetapi juga mengecek kesehatan kambing, kondisi kandang, dan melakukan pengobatan seperlunya untuk kambing yang sakit. Selama pemeriksaan saya melihat secara langsung bagaimana sabar dan cakapnya Bu Setyawati saat berkomunikasi dengan para janda serta betapa teliti dan pedulinya dia terhadap kesehatan kambing-kambing tersebut. She is the best!
 

Proses pemeriksaan kambing berakhir di jam setengah tiga sore dan kami pun langsung pulang setelahnya. Perjalanan pulang kami pun kembali diiringi oleh derasnya hujan yang sempat berhenti sebelumnya. Untuk pulang, kami harus kembali melewati jalan yang sama seperti saat kami berangkat. Di perjalanan pulang bu Setyawati berkata pada saya, "Alhamdulillah Mbak Indah hari ini kita bisa pulang awal, saya terkadang biasanya pulang malam karena langsung kejar dua desa sekaligus..". Mendengar hal itu, saya pun terdiam dan berpikir, "Di usianya yang sudah di atas 40 tahun ini, wanita ini harus bekerja dengan menempuh puluhan kilometer jalan rusak, berjam-jam menenggelamkan diri dan pikiran memeriksa kambing-kambing di kandangnya, tidak peduli cuaca hari itu cerah atau hujan, dan tak peduli waktu pagi, siang atau malam, ia selalu tersenyum dan melakukan pekerjaannya dengan maksimal. Betapa kecilnya saya!". Inilah mengapa Bu Setyawati yang rendah hati ini adalah salah satu wanita yang saya apresiasi dan kagumi. Dari pekerjaannya yang merupakan bentuk kontribusi nyata pada kehidupan sosial dan ekonomi masyarakat Indonesia itu, entah berapa puluh wanita (janda) yang telah tertolong kehidupannya dari segala dedikasi yang diberikan oleh Ibu Setyawati dalam pekerjaannya. Bulan April yang identik dengan peringatan hari Kartini dan hari Bumi ini pun, saya memilih memberikan penghargaan terbaik dan apresiasi tinggi kepada Ibu Setyawati yang sudah menjadi sahabat para ibu-ibu Janda di sekitar Taman Nasional untuk bersama-sama menjaga hutan kita. Pekerjaan hebat ini hanya bisa dilakukan oleh wanita yang hebat. Terima kasih Ibu Setyawati. :)

Rabu, 02 Desember 2015

Kini Saat Usiaku 25 Tahun

Saat ini aku sedang duduk di atas meja kerjaku, mengotak-atik laptopku sambil menunggu antrian resep berikutnya datang untuk kusiapkan segera. Setiap menuliskan tanggal hari ini di kertas etiket obat yang kusiapkan, aku menjadi teringat sesuatu hal kecil sederhana, "Oh yeah, ini sudah bulan desember ya.. 2015 segera berakhir." Ingatan kecil ini lah yang mengarahkan pikiranku selanjutnya untuk sebuah pertanyaan, "Hey Ndah, what have you done until now?"

Kini saat usiaku 25 tahun, yang aku tahu adalah aku masih menjalani hidupku dengan baik. Jujur aku bukan orang yang selalu mempunyai plan masa depan yang wah atau bagaimana, mungkin aku termasuk orang yang selalu membiarkan diriku terbawa alur apapun itu sepanjang alur itu mampu memuaskan tujuan sederhana hidupku yang hanya ingin terus berusaha memberikan kebaikan, kebahagiaan, dan manfaat untuk banyak orang (tujuan hidup yang absurd yak?! hehe). Aku hanya selalu ingin menjalani hidupku dengan penuh syukur. Tetapi tidak dipungkiri juga aku pun juga pernah dan masih punya ambisi hidup entah itu untuk asmara, pekerjaan, atau pendidikan yang sangat ingin sekali kuraih, walau sayangnya banyak ambisi-ambisi itu yang belum bisa terwujud hingga saat ini. Entah mungkin karena akunya yang kurang berusaha atau memang belum waktunya saja mungkin. Hehe. #TepokJidat

Kini saat usiaku 25 tahun, aku sangat memperhatikan kesehatanku dengan detail. Hal ini berawal dari banyaknya pasien dengan penyakit degeneratif di usia muda yang kutemui di klinik, sehingga perhatianku terhadap kesehatanku sendiri sangat meningkat. Selama satu tahun terakhir aku kontrol makananku dengan tidak banyak makan makanan instan lagi seperti dulu, dan untuk hal ini aku pun semakin rajin berkreasi dengan masakanku di rumah. Sayur-sayuran dan buah selalu menjadi menu wajib dalam setiap makananku. Salah satu atau dua dari olahraga rutinku (yoga, pilates, lari, bersepeda dan renang) selalu menjadi agenda wajib pagi dan soreku setidaknya minimal 15 menit per hari. Waktu istirahat (baca: tidur) yang cukup juga selalu jadi catatan penting. Efek positifnya adalah akhirnya sekarang tubuhku jarang sekali mudah lelah seperti dulu, dan proporsi tubuh ideal yang dari dulu kuimpikan akhirnya kini berhasil kumiliki. Fufu~ :)

Kini saat usiaku 25 tahun, menjaga ketenangan pikiran adalah target yang selalu menjadi point utamaku setiap pagi. Karena dengan semakin banyaknya pekerjaan yang kulakukan, semakin banyaknya aku berinteraksi dengan orang, dan semakin banyaknya masalah hidup yang kutemui maka berbagai metode untuk menjaga pikiran tetap jernih termasuk PR besarku tiap hari. Ibadah dan memandang hal secara positif merupakan salah satu kunci untuk hal ini. It's not easy. >_<

Kini saat usiaku 25 tahun, aku ingin lebih banyak berpetualang lagi, banyak sekali tempat-tempat yang masuk dalam daftar wajib dikunjungi tahun ini. Masih banyak daftar gunung yang ingin kudaki, masih banyak tempat yang ingin kueksplor, masih banyak lautan yang ingin kuseberangi, dan masih banyak panorama alam lain yang ingin kujelajahi. Ayok ayok siapa mau ikut? :D

Kini saat usiaku 25 tahun, pertanyaan dan kegalauan tentang pernikahan selalu menjadi topik yang muncul di tengah-tengah percakapan entah saat bersama orang tua, sahabat, atau bahkan saat pembicaraan privatku dalam doa dengan Tuhan. Tapi untuk hal ini aku pun tidak tahu harus menulis apa, yang pasti yang bisa kulakukan hanyalah senantiasa memperbaiki dan menyiapkan diri hingga waktu indah yang entah kapan akan tiba nanti. Hehe. :p

Kini saat usiaku 25 tahun, aku selalu berterima kasih untuk setiap detik nafasku atas segala rahmat, rezeki, dan cinta dari Allah SWT melalui keluarga dan orang-orang yang kutemui dalam hidupku serta segala hal yang sudah dan akan kudapatkan nanti. Tetap semangat!! \(^o^)/

Selasa, 27 Oktober 2015

Dementor Berwujud Kabut

Untuk pertama kalinya selama 17 bulan saya tinggal di tanah Borneo, baru hari ini saya benar-benar merasa lelah, jenuh, dan bosan dengan apapun yang saya lakukan di tempat yang saya nilai sebagai salah satu tempat terindah yang pernah saya temui sebelumnya. Alasan sederhana untuk segala perasaan sedih ini hanyalah karena rasa rindu saya pada keindahan surga yang dulu dimiliki tempat ini, langit biru, air sejuk, udara segar, dan hijaunya pepohonan yang kini sudah tidak bisa dilihat lagi karena kabut asap yang mengepung. Saya merindukan suara burung dan klempyau (sejenis monyet) yang selalu menjadi penyemangat pagi saya. Saya merindukan indahnya senja jingga sore yang selalu menutup hari saya. Saya merindukan barisan-barisan bintang yang selalu menemani malam-malam saya di sini. Dan ketika semua sumber kebahagiaan saya itu hilang satu persatu, rasanya seolah-olah kebahagiaan saya pun ikut diserap oleh dementor yang bersembunyi dalam pekatnya kabut asap. Berbagai cara saya lakukan untuk berusaha memperbaiki kebahagiaan saya, mulai dari lari ke laut hingga lari ke gunung. Tetapi ke mana pun saya berlari, dementor berwujud kabut asap ini tetap menghantui. Dan yang sadari saat ini adalah tiga bulan tinggal di bumi berkabut ternyata sangatlah tidak mudah untuk saya yang masih berusia seperempat abad ini. Bisa dibayangkan bagaimana lebih tidak mudahnya bagi anak-anak dan para lansia yang mempunyai fisik lebih lemah daripada saya.

Yaa Allah Yaa Rabb, hanya pada-Mu kami memohon ampunan, pertolongan, dan keselamatan. I miss the rain. :(

Selasa, 30 Juni 2015

Pangkatku di Dunia

Jika dunia ini ibarat sebuah pemerintahan maka aku dalam diriku sendiri adalah seorang Ratu. Aku dalam keluarga kecilku adalah seorang Putri. Aku dalam pekerjaanku adalah seorang Panglima perang. Aku dalam negaraku adalah seorang Rakyat jelata. Aku dalam alam semesta hanyalah setitik debu pasir di lautan.

Kamis, 25 Juni 2015

Manusia Sejuta Nama

Sebutan ini bukan hanya untuk kamu, dia, atau mereka kawanku. Sebutan ini berlaku untuk kita semua. Benar, kita semua lahir tidak hanya dengan satu nama, tetapi sejuta nama ada pada diri kita saat hidup di dunia. Semakin panjang hidup manusia, semakin panjang pula nama-nama yang tertulis pada dirinya. Awalnya hanya membawa nama diri sendiri, kemudian membawa nama ayah, nama ibu, nama keluarga, berlanjut membawa nama daerah asalnya, lalu nama almamaternya, hingga nama lembaga dimana ia bekerja. Satu keberhasilan maupun satu kesalahan selalu menjadi penghargaan dan kecacatan untuk nama-nama tersebut.
Tahukah kamu kawanku apa hal lucu dari semua itu? ironisnya saat kita meninggal, maka kita tinggalkan pula semua nama itu di dunia dan kita menghadap kepada Tuhan kembali sebagai makhluk tak bernama untuk mempertanggungjawabkan semua perbuatan kita selama di dunia.

Kita manusia sejuta nama yang berakhir tanpa nama di hadapan-Nya.
Ramadhan #8

Selasa, 19 Mei 2015

Jemputan Bapak

Cerita kali ini dimulai dari percakapanku dengan Bapakku kemarin sore.
Bapak : "Nduk, lagi ngapain?"
Aku : "Lagi masak Pak, buat makan malam. Bapak udah pulang kerja?"
Bapak : "Udah, ini lagi duduk santai. Nduk, minggu depan jadi pulang kan? Nanti kalo udah nyampe telpon Bapak ya.. biar bisa langsung Bapak jemput."
Aku : "Jadi dong Bapakku sayang.. Siap Pak!! dijemput di tempat biasa ya Pak?"
Bapak : "Oke. Udah ya, nanti kamu masaknya gosong. Bapak mau istirahat dulu."
Aku: "Wokeeeee!!"

Berbeda dengan caraku berkomunikasi dengan Ibu, pembicaraanku dengan Bapak memang lah selalu singkat, padat, dan jelas. Tetapi begitulah ciri khas Bapakku yang kata orang-orang merupakan sifat umum yang dimiliki seorang laki-laki, hehehe. Uniknya percakapan yang kutulis di atas adalah pembicaraan yang tidak hanya terjadi sekali saja kemarin, melainkan sebuah percakapan yang sudah diulang berkali-kali sejak awal bulan Mei ini karena kepulanganku di akhir bulan nanti. Sejak awal bulan Bapakku sayang selalu telpon untuk menanyakan dan memastikan hal yang sama bahwa beliau akan menjemputku saat aku tiba di Solo nanti. Dan karena tingkah lucu Bapakku ini, aku pun tersadar akan sebuah fakta menarik. Jika kalian tanyakan padaku tentang hal berharga apa yang kumiliki saat ini, maka salah satu jawaban yang bisa kuberikan adalah jemputan Bapakku untuk selalu membawaku pulang ke rumah tercinta. Bapakku sayang yang selalu menjemputku saat pulang sekolah walau harus menunggu berjam-jam. Bapakku sayang yang selalu menjemputku saat aku pulang dari kemah berhari-hari. Bapakku sayang yang selalu menjemputku saat aku harus pulang malam. Bapakku sayang yang selalu menjemputku pulang saat aku ujian di luar kota. Bapakku sayang yang selalu menjemputku di stasiun kereta baik subuh maupun tengah malam saat aku pulang dari perantauan kuliah. Bapakku sayang yang selalu menjemputku di terminal bus saat aku pulang dari petualanganku ngebolang. Dan kini Bapakku yang sedang menunggu untuk menjemput putrinya yang akhirnya pulang setelah satu tahun meninggalkan rumah. Rutinitas sederhana ini entahlah mengapa bagiku merupakan suatu rutinitas yang tak ingin aku lepas dalam hidupku. Karena dari rutinitas ini lah salah satu dari sekian cara aku tahu bahwa Bapakku yang disiplin dan tegas selalu mendampingi dan mencintaiku. Sungguh tak sabar dijemput Bapakku sayang minggu depan!! I miss you Dad.. :)

Rabu, 08 April 2015

“Sotonya Ibu Jual Rp 2.000,- Nduk“

Terpisah antara Pulau Jawa dan Kalimantan memaksa saya hanya bisa berkomunikasi dengan kedua orang tua saya via telpon. Saya yang aslinya anak rumahan, untuk pertama kalinya tak terasa sudah hampir satu tahun saya pergi meninggalkan rumah dan belum pulang sampai bulan Mei nanti. Telpon adalah satu-satunya pengobat rindu saya kepada keluarga.

Di tengah perjalanan saya pulang kerja kemarin saya menelpon ibu saya, tentunya hanya karena alasan sederhana, saya kangen Ibu. Dalam lima menit perjalanan saya pulang dari Klinik ke rumah ada pembicaraan singkat namun menarik dan insya Allah akan selalu saya ingat sepanjang hidup saya.

Senin, 6 April 2015 jam 16.20 WIB.

Saya : “Ibu sedang apa?”
Ibu : “Lagi duduk Nduk jaga warung sambil ngobrol ama Mbah Yem..” (FYI: Ibu saya Alhamdulillah memulai usaha warung soto nya sejak bulan Januari kemarin. Sebuah warung soto sederhana yang dibuka di depan rumah saya. J )
Saya : “Wah, masih buka jam segini? Gimana Bu dagangan hari ini?”
Ibu : “Alhamdulillah Nduk, namanya jualan kadang habis kadang sisa, namun tetap Alhamdulillah..”
Saya : “Iya Bu, Alhamdulillah… Lingkungan sekitar rumah sudah mulai rame ya Bu?” (terlihat sekali saya kurang tahu bagaimana perubahan kondisi desa saya khususnya area sekitar rumah selama saya tinggalkan. #tepokjidat)
Ibu : “Alhamdulillah rame sekarang Nduk.. mulai banyak anak-anak yang maen sepak bola di lahan kosong deket rumah juga. Mereka selalu mampir ke warung setiap habis main bola. Seneng kalo ngeliat anak-anak abis olahraga..”
Saya : “Wah seruuuuu!!! Warungnya Alhamdulillah jadi ikut laris ya Bu..”
Ibu : “Alhamdulillah rame, tapi kalo soal untung Ibu gak terlalu ngejar Nduk..”
Saya : “Kenapa gitu Bu?”
Ibu : “Ibu kasihan kalo ngeliat anak-anak abis olahraga, pasti lapar dan namanya anak-anak yang masih minta uang saku ke orang tua pastilah uangnya gak banyak, jadi Ibu jual aja sotonya cuma Rp 2.000,- buat mereka.”
Saya : “Walah!! Gak papa gitu Bu? Kan Ibu biasanya juga cuma jual sotonya Rp 5.000,- yang sebenarnya menurut Genduk gak terlalu mahal.”
Ibu : “Nggak papa, kan ibadah, ada doa nya, khususnya buat anak-anak Ibu.”
Saya : “Hmmm???” (muncul blo’on nya)
Ibu : “Iya nggak papa Nduk, mungkin dengan apa yang Ibu lakukan, Allah akan menggantinya dengan memberikan hal yang sama pada anak-anak Ibu. Semoga Allah membalas dengan menjaga anak-anak Ibu yang sedang jauh di sana. Semoga saat anak-anak Ibu mengalami kesulitan dan Ibu tidak bisa mendampingi, Allah memberikan pertolongan-Nya dari tangan-tangan orang-orang di sekitarnya.”
Saya : #speechless (mewek di jalan sambil naik sepeda)

Terlepas dari ilmu untung-rugi ala pedagang, saya lebih belajar tentang arti ketulusan menjalani hidup, melakukan kebaikan, dan memberi tanpa mengharapkan imbalan. Semua saya pelajari dari Allah SWT melalui Ibu saya tercinta.

I love you Mom… T____T

Senin, 16 Maret 2015

Membandingkan Diri Dengan....

Salah satu sikap manusiawi yang sering dilakukan orang adalah membandingkan dua objek berbeda, entah itu membandingkan dirinya sendiri dengan orang lain, atau membandingkan orang lain terhadap orang lain. Efek samping dari aktivitas membandingkan dua objek ini sering kali menghasilkan efek negatif pada subjek yang melakukan dengan mulai munculnya sifat iri, sifat rendah diri, sifat mencela, sifat superior, hilangnya kepercayaan diri, hilangnya sifat menghargai orang lain dan sebagainya. Walau memang pastinya masih banyak juga orang yang dapat mengambil nilai positif dan justru menjadi aktivitas yang mampu memicunya untuk lebih semangat menjalani hidup. Tetapi kalau boleh memilih, saya secara pribadi mungkin lebih baik memilih mendapatkan efek positif dengan menghindari terjadinya efek negatif. Ops, bagaimana caranya? caranya sangat mudah untuk teman-teman yang masih senang beraktivitas membandingkan dua objek dengan menghindari efek negatif dari aktivitas itu. Cara mudah itu adalah cara yang yang jarang sekali dilakukan oleh semua orang bahkan cenderung dilupakan, yaitu membandingkan diri sendiri terhadap diri sendiri. Kita sering kali terlalu sibuk mengurus orang lain dan melupakan diri kita sendiri, lupa untuk mengamati setiap perubahan yang terjadi pada diri kita dan mengevaluasi setiap proses kehidupan yang sudah kita lewati.

Aktivitas membandingkan diri saya yang sekarang terhadap diri saya yang dulu ini lah yang sedang asyik saya lakukan akhir-akhir ini. Dimulai dari hal-hal sederhana seperti membandingkan ukuran tubuh, kerajinan olahraga, peningkatan kesehatan, kedisiplinan, kedewasaan diri, dan sebagainya. Kadang saya merasa lucu terhadap betapa drastisnya perubahan yang terjadi pada diri saya. Selain pada kondisi tenang seperti malam ini, ada beberapa saat menarik di mana saya merasa itu lah saat yang tepat untuk membandingkan diri saya. Saat saya sedih dan lemah saya membandingkan diri saya terhadap masa-masa sulit saya dan melihat bagaimana saya bisa bertahan hingga hari ini. Saat saya merasa bodoh saya mulai membandingkan bagaimana cara saya belajar dulu dengan cara belajar saya sekarang. Eits!, bahkan ternyata hanya dari membandingkan diri saya terhadap diri saya sendiri saja juga kadang ada perasaan negatif yang muncul. Yah, tetapi setidaknya setiap perasaan negatif yang muncul itu tidak terekspansi lebih luas karena hanya melibatkan dua objek dan objek itu adalah diri saya sendiri. Walau ada sedikit perasaan negatif yang sering kali muncul, akan tetapi perasaan positif yang muncul dari rasa syukur dan apresiasi terhadap diri sendiri lebih terasa manfaatnya dan menjadi pemicu untuk melakukan yang terbaik lagi ke depannya. Manusia memang makhluk Tuhan yang tak sempurna, tapi manusia diciptakan untuk senantiasa berusaha melakukan yang terbaik di kehidupannya. Sebuah kehidupan yang tak abadi di dunia. Selamat mencoba membandingkan diri Anda! :)

Minggu, 18 Januari 2015

Memasuki Hutan Hujan Tropis Indonesia di Borneo

 
Sabtu, 17 Januari kemarin saya mendapatkan hadiah terbesar dalam hidup saya sebagai penduduk Indonesia, Sang Zamrud Katulistiwa. Selama 24 tahun hidup saya akhirnya kemarin saya bisa menghabiskan 6 jam menikmati surga dunia di hutan Gunung Palung, salah satu hutan hujan tropis dengan ekosistem terlengkap yang dipuji dunia. Sulit untuk mendeskripsikan hebatnya sensasi yang saya rasakan kemarin. Dan ketika suatu keindahan sulit diungkapkan dengan kata-kata, maka keindahan tersebut pastilah terlalu indah melebihi persepsi manusia. Akhirnya hanya muncul deskripsi sederhana dari saya yang mungkin tidak bisa mewakili seluruh kemegahan yang saya rasakan kemarin.


"Begitu indahnya Tuhan menciptakan jutaan pohon dan hewan di sekitar kita. Suatu tempat dimana aku berlindung dari derasnya hujan di bawah lebatnya dedaunan pohon yang besar. Suatu tempat dimana aku berpegangan pada kokohnya pohon dan kuatnya akar agar tak terjatuh saat berjalan. Suatu tempat dimana aku yang sering kali merasa besar mulai menciutkan diri bahwa aku bukanlah apa-apa dimata ciptaan Tuhan yang lainnya. 


Tempat itu penuh suara burung yang tak wajar dibandingkan suara burung-burung yang sehari-hari aku dengar. Di tempat itu, aku bisa mendengar bahwa burung-burung itu sedang berbicara bersama alam. Musik alam pun diperindah dengan merdunya suara aliran sungai yang jernih dan segar. Kuhentikan sejenak langkahku untuk merendamkan diri dalam dinginnya air hutan yang menyejukkan. Aku merasa hidup dalam setiap tetes air yang kuteguk darinya. Di tempat itu aku merasa aku lah orang terkaya di dunia. Dan jika kau bertanya kekayaan apa yang kumiliki? kuberitahukan pada kau bahwa kekayaan yang kumiliki adalah rasa syukur dan puji terhadap setiap keindahan yang Tuhan ciptakan di duniaku."


Alhamdulillahirobbil alamin... :)

Minggu, 11 Januari 2015

Senja Sore

Ada pertanyaan kecil yang muncul dalam diamku saat ini, "Tuhanku, mengapa senja sore selalu terasa nyaman? mengapa Engkau buat aku mencintai senja sore-Mu yang indah ini? Entah saat hujan maupun saat cerah, aku selalu memilih senja sore-Mu sebagai waktu terbaikku setiap hari..."

Di senja sore ini aku sedang duduk di depan meja belajarku menatap jingganya langit sore dari jendela kamarku. Dari jendela persegi berukuran 80x80 cm kuadrat ini aku sibuk menikmati apa yang alam tayangkan di sana. Kalian ingin tahu apa yang aku lihat?

Dari kedua mataku aku melihat langit sore yang sedikit cerah dan berawan dengan warna biru bercampur kuning keemasan. Angin hari ini pun begitu sejuk hingga membuatku ingin menutup mata karena kenyamanan yang diberikannya. Ada dua buah pohon kelapa dan satu buah pohon mangga yang menutupi pemandangan gunung dan hutan bakau dibelakangnya. Dalam indahnya lukisan alam ini sejenak ada dua ekor burung kecil yang melintas dan menambah kecantikan pemandangan yang kulihat. Namun sayangnya aku tidak tahu apa jenis burung-burung itu. Dan saat aku pasang telingaku dengan baik-baik maka dapat kudengar suara kicauan burung bersambutan. Aku pun kehabisan kata-kata untuk menjelaskan betapa indahnya sore hari ini karena terlalu banyak alasan yang membuat sore selalu memberikan sensasi kehangatan yang menyejukkan bagiku. Dalam hangatnya sore ini kutemukan sentuhan lembut Tuhanku yang menemaniku menghilangkan setiap kesedihan dan beban yang tiba-tiba kurasakan hari ini. Bersama tenggelamnya matahari pula selalu kubenamkan berbagai pertanyaan yang tak pernah kutemukan jawabannya. Rasa bahagia dan rindu yang hadir hari ini pun akan selalu menjadi memori indah yang tak pernah kulupakan.

Ketika sore-soreku mulai berakhir, aku selalu menutupnya dengan berkata pada diriku sendiri bahwa, "Segala kebahagiaan dan kesedihan hari ini akhirnya terbenam bersama matahari, dan saat esok matahari terbit aku akan kembali mendapatkan kebahagian dan perjuangan yang baru lagi.. terima kasih Yaa Rabb yang untuk kesekian kalinya memberikanku satu hari yang berarti lagi hari ini..."

Jumat, 21 November 2014

Five Days, Four Nights

Tepat saat pemerintah memberitakan kenaikan harga BBM, saya bersama teman-teman ASRI sedang melakukan penyuluhan kesehatan dan lingkungan di 6 dusun sekitar Taman Nasional Gunung Palung selama lima hari empat malam. Lima dari 6 dusun tersebut belum terakses sinyal telekomunikasi, empat dari 6 dusun tersebut belum mempunyai sumber air bersih dan toilet memadai, dan satu dari 6 dusun tersebut belum mendapatkan fasilitas listrik sama sekali.

Perbatasan TNGP di dusun Matan Jaya
Banyak cerita menarik yang saya alami selama mengunjungi dusun-dusun tersebut. Tetapi salah satu hal yang menjadi perhatian saya adalah saat menghabiskan waktu di dusun Matan Jaya, salah satu dusun di sekitar Taman Nasional Gunung Palung yang tidak memiliki akses telekomunikasi, air bersih, dan listrik sama sekali. Untuk mendapatkan sinyal telepon mereka harus pergi ke desa lain yang sudah memiliki akses telekomunikasi. Sementara untuk sumber air rumah tangga mereka masih tetap menggunakan keruhnya air sungai di daerah mereka yang dialirkan melalui pipa. Kalian tidak akan menemukan toilet keramik di sini, karena toilet yang mereka gunakan merupakan toilet sederhana dengan lubang pipa besar. Lalu bagaimana dengan listrik? tadinya saya pikir saya tidak akan menemukan hal seperti ini lagi di Indonesia, tetapi ternyata masih ada suatu dusun yang menggunakan lampu minyak sebagai sumber penerangan utama di rumah mereka. Minyak yang mereka gunakan bukanlah minyak tanah yang saat ini sudah langka, tetapi dengan solar yang mempunyai harga lebih terjangkau daripada bensin. Harga solar di dusun tersebut kurang lebih Rp 10.000,-/liternya, sementara harga bensin adalah Rp 12.000,-/liternya. Entahlah berapa harganya sekarang saat pemerintah sudah menaikkan harga BBM di masyarakat. Belum lagi dusun Matan ini termasuk dusun yang sangat jauh dari perkotaan, bisa diperkirakan berapa banyak bensin yang mereka butuhkan untuk transportasi mereka sehari-harinya?. Yah, saya tahu, bahan bakar minyak menjadi salah satu pengeluaran terbesar mereka setiap bulannya.

Diakui atau tidak, berbagai macam pikiran pun muncul dalam renungan saya selama menghabiskan waktu bersama warga dusun-dusun tersebut. Apapun hasil renungan tersebut biarlah menjadi cerita saya sendiri untuk saat ini. Namun begitu saya mengetahui kabar tentang kenaikan harga BBM dan berbagai landasan ditetapkannya kebijakan tersebut, muncul secuil harapan yang ingin saya sampaikan kepada pemerintah negeri ini. "Wahai para pemimpin bangsa, pastikan setiap kebijakan yang diterapkan di negeri ini tidak hanya dihasilkan dari kebijakan pemikiran, akan tetapi dilakukan dengan kebijakan tindakan. Saat engkau menambahkan satu beban kehidupan pada rakyatmu, maka hendaklah engkau meringankan satu beban dalam kehidupan mereka."

Terima Kasih.

Minggu, 26 Oktober 2014

Sebelum dan Saat Kau Tak Ada

Sedang apa teman-teman di hari minggu ini? Heuhmm, tak ada yang terlalu spesial untuk saya hari ini. Yups, seperti yang dilakukan wanita single pada umumnya, hahaha, hari ini hanya saya nikmati dengan seharian istirahat di rumah sambil menikmati lagu-lagu album terbarunya The Script - No Sound Without Silence karena badan saya pegal serta memar setelah perjalanan kemarin sabtu. Ops?! abis jalan-jalan kemana Ndah? Hehehe mari sekilas info dulu ya teman-teman. Setelah lima bulan lebih tinggal di Sukadana akhirnya kemarin saya mendapatkan kesempatan beserta teman-teman ASRI mengunjungi indahnya pantai di Pulau Juanta. Pulau yang tak jauh dari daerah kami tinggal di Sukadana. Hanya cukup dengan mengendarai klothok (sejenis kapal kayu besar) selama satu jam dari tepi pantai Pulau Datuk kita sudah bisa menikmati indahnya panorama satwa laut di hijau dan jernihnya pantai Pulau Juanta. Lengkap cerita serunya jalan-jalan kemarin mungkin saya share next time saja, hehehe. :p

Yang ingin sekali saya bagi hari ini bukanlah tentang bagaimana hasil latihan renang saya di Pulau Juanta, melainkan menariknya obrolan saya dengan Kak Lia saat berada di klothok kemarin. Sambil menikmati sarapan sepiring berdua bakmi medan yang dibawa Kak Lia saat perjalanan, obrolan yang kami bicarakan pun bermacam-macam dari A sampai Z. Tetapi ada satu obrolan menarik yang mungkin ingin sekali saya share ke teman-teman dan semoga senantiasa menjadi pengingat bagi diri saya sendiri juga. Kak Lia bertanya pada saya, "Ndah, coba jawab satu pertanyaan dari kakak ya.. tapi jawabannya gak usah diucapkan keras-keras, cukup tulis dalam pikiranmu saja." Saya pun langsung bersemangat, "Yes kak! apa pertanyaannya?". "Jika ada suatu kondisi dimana Indah harus meninggalkan pekerjaan misal karena dinas ke luar atau karena tidak bekerja lagi di tempat Indah kerja, apakah Indah yakin pasti ada orang yang bisa menggantikan Indah saat tak ada?", tanya Kak Lia. Pertanyaan yang cukup membuat saya berpikir lama untuk memberikan jawaban yang tepat dalam pikiran saya. Setelah saya mendapatkan jawaban saya, saya bilang, "Sudah kak.". "Oke, sip.. kakak gak perlu tahu jawaban Indah, tapi untuk pertanyaan ini kita tahu pasti jawabannya ada dua kemungkinan. Pertama, jawabannya adalah 'tidak ada yang bisa menggantikan saya, karena peranan saya terlalu besar di pekerjaan saya, tidak ada yang bisa saya percaya menjalankan pekerjaan yang saya lakukan'. Lalu jawaban yang kedua adalah, 'saya punya rekan yang bisa saya percaya, yang bisa menghandel pekerjaan di tempat saya bekerja saat saya tak ada'. Sekarang menurut Indah di antara kedua jawaban tersebut mana yang paling baik?". Sebelum saya sempat menjawab pertanyaan tersebut, Kak Lia langsung lanjut menjelaskan. "Jawaban yang kedua adalah yang terbaik Ndah.. mengapa? seseorang dikatakan berhasil menjalankan pekerjaannya dengan baik ditunjukkan dengan seberapa besar ilmu dan manfaat yang sudah ia bagi kepada rekan-rekan kerjanya. Saat ia tidak ada disamping teman-temannya, pekerjaan yang ia tinggalkan tidak ada yang terlantar sehingga reward yang diterima di sini tidak hanya personal dimiliki satu orang saja, tetapi juga bisa dinikmati oleh team yang bekerja bersamanya. Karena pada akhirnya kita semua nanti memang akan pergi Ndah, tapi ada tanggung jawab yang akan kita tinggalkan dan diserahkan pada orang lain. Kamu gak ingin kan tanggung jawab tersebut akan berantakan saat  kau tak ada? itulah pentingnya mengapa kita harus berbagi ilmu dengan rekan-rekan kita Ndah.." Sebenarnya masih cukup panjang obrolan antara saya dan Kak Lia tentang hal ini, tetapi mungkin bisa sedikit saya sampaikan apa yang bisa saya simpulkan dari obrolan tersebut. Setelah obrolan tersebut, saya janjikan pada diri saya bahwa "Mungkin saya tidak bisa selamanya membantu dan bekerja di tempat ini. Suatu saat mungkin saya tidak ada atau pergi meninggalkan tempat ini. Tetapi sebelum waktu itu tiba saya akan senantiasa memberikan yang terbaik bersama rekan-rekan saya, saya tak ingin meninggalkan Pe-Er berat bagi orang-orang yang saya tinggalkan, saya tak mau pelit berbagi ilmu kepada rekan-rekan saya, dan saya ingin membangun sistem kerja yang rapi sehingga tidak hanya saya yang bisa mengerti dan melakukan apa yang saya kerjakan, tetapi orang lain pun bisa melakukannya saat saya tak ada. Bismillah, semangaaat Ndah!!" :)

Teman-teman juga semangaaat ya!! di mana pun tempat kalian bekerja janganlah lelah untuk senantiasa menimbun dan menebar ilmu. :)

Terima kasih Kak Lia.. (^o^)

Jumat, 05 September 2014

Ku Tak Mau Seperti Ilalang

Pernahkah kalian berpikir bahwa alang-alang itu indah? bahwa alang-alang itu romantis? Oh yeah, aku pun pernah berpikir seperti itu. Maklum lah dulu aku masih anak muda yang terjebak pada romantika fiktif sebuah drama. Walau bukan berarti sekarang aku tak muda lagi dan tak yakin juga apakah sekarang aku sudah sedikit waras untuk melihat realita, hahaha. Tapi kemarin ada sebuah fakta menarik yang membuatku menyimpulkan hal lain tentang alang-alang.

Saat itu aku bersama team ASRI sedang dalam perjalanan pulang setelah setengah hari melakukan evaluasi program di desa Riam Berasap. Dalam perjalanan itu aku terhanyut sejenak dalam lamunanku di luar jendela mobil. Indahnya barisan tanaman alang-alang sepanjang jalan menjadi pemandangan yang cukup menarik perhatianku saat itu. Tiba-tiba aku pun teringat pada banyaknya alang-alang yang tumbuh di hutan bekas penebangan liar. Spontan aku pun langsung tanya pada salah satu temanku, "Erica, mengapa hutan yang ditebang selalu hanya ditumbuhi oleh alang-alang? mengapa pohon hutan tak bisa tumbuh di sana?". Setelah mendengar pertanyaanku tersebut Erica pun langsung menjawabnya, "Tanah hutan pada dasarnya merupakan tanah yang baik, tetapi ketika 
tanah tersebut mengalami perubahan ekosistem karena penebangan liar akhirnya kualitas tanah pun perlahan-lahan mulai memburuk. Akibat dari penurunan kualitas tanah ini lah yang menyebabkan hanya tanaman alang-alang yang bisa tumbuh di atasnya. Karena salah satu kehebatan tanaman alang-alang adalah tumbuh di berbagai jenis tanah dengan baik. Tetapi tanaman alang-alang bukanlah tanaman yang baik saat ia sudah tumbuh. Akar alang-alang merupakan salah satu faktor yang mampu mengganggu pertumbuhan akar tanaman hutan lainnya sehingga membuat tanaman hutan sulit tumbuh. Keberadaan akar alang-alang ini pula yang justru membuat kualitas tanah hutan semakin lebih memburuk sehingga mempersulit reboisasi hutan. Apalagi alang-alang termasuk jenis tanaman yang panas, yang artinya jenis tanaman yang mudah mengering di musim kemarau sehingga sering kali menyebabkan terjadinya kebakaran hutan."
"Oh begitu..." itulah jawaban singkatku untuk jawaban panjang Erica. Setelah mendengar jawaban itu aku pun kembali tenggelam dalam pemikiranku sendiri. "Jika aku sebuah tanaman mungkin aku tak ingin menjadi alang-alang. Sebuah tanaman yang bebas tumbuh dimana saja tetapi tidak memberikan manfaat untuk sekitarnya." Mungkin kesimpulan ini terdengar cukup polos dan tergesa-gesa, hanya saja boleh kan aku memberikan kesimpulan pada setiap wawasan baru yang kuterima? hehehe. Kesimpulan lain yang kuterima hari itu adalah bahwa Allah memberikanku kesempatan untuk belajar arti kehidupan tak hanya dari segala problematika manusia, tetapi bahkan dari tanaman yang mungkin tak berharga seperti alang-alang pun aku diingatkan kembali untuk senantiasa terus memberikan yang terbaik pada siapapun dan apapun yang ada di sekitarku.

Hidup adalah proses pembelajaran. :)

Kamis, 03 Juli 2014

Demi Yang Tercinta

Hai kawanku, apakah di sekitar rumah kalian ada lembaga pelayanan kesehatan seperti puskesmas, apotek, klinik, atau mungkin rumah sakit? Berapa menit kah atau mungkin berapa jam waktu yang kalian butuhkan dari rumah untuk ke sana saat berobat? Saya yakin buat kalian yang tinggal di daerah perkotaan tentunya sangatlah mudah untuk mendapatkan pelayanan kesehatan kapan pun kalian membutuhkan karena banyak lembaga pelayanan kesehatan bertaburan di sana, banyak praktisi kesehatan (dokter, bidan) yang bahkan adalah tetangga kalian sendiri, dan banyak apotek dimana kalian bisa memperoleh obat bebas dengan mudah. Tapi kawanku, kali ini aku ingin berbagi sedikit cerita tentang mereka masyarakat Taman Nasional Gunung Palung yang tidak mendapatkan keberuntungan seperti yang kalian nikmati di kota sana.

Tidak hanya satu atau dua kali pasien dari daerah sekitar Taman Nasional Gunung Palung datang ke klinik kami dengan cerita yang sama. Cerita apa? yaitu cerita tentang bagaimana dan berapa lama jarak serta waktu yang harus mereka tempuh untuk bisa memperoleh pengobatan di klinik kami. Bukan setengah atau satu jam perjalanan yang harus mereka tempuh dari rumah ke klinik kami, tetapi lima hingga delapan jam perjalanan. Bahkan ada yang harus berangkat di hari sebelumnya dan baru bisa berobat di hari berikutnya. Cerita pun tak berhenti hanya di situ saja. Lamanya waktu dan jarak tidak hanya satu-satunya kendala yang harus mereka hadapi. Kondisi permukaan jalan yang tak rata, berbukit, becek, dan berbatu sering kali menjadi kendala apalagi saat hujan. Mau tidak mau, suka tidak suka, walau harus menempuh perjalanan yang lama dan rute yang berbahaya, mereka tetap harus menempuhnya agar keluarga tersayang mereka segera sembuh dan bisa kembali menikmati waktu bersama keluarga.

Beberapa waktu yang lalu jumlah pasien rawat inap di klinik kami tiba-tiba meningkat di luar hari biasanya. Kebutuhan akan cairan infus terutama metronidazole pun ikut meningkat. Saat itu hanya tersisa beberapa botol infus metronidazole di klinik kami. Untuk memenuhi kebutuhan tersebut, kami pun segera menghubungi beberapa distributor obat tetap kami apakah persediaan obat tersebut masih ada. Sayang, ternyata distributor tetap kami pun juga kehabisan obat tersebut. Akhirnya kami memutuskan untuk mencari di beberapa apotek di Ketapang. Ada beberapa apotek yang punya, tetapi kami kembali dihadapkan pada suatu masalah, yaitu untuk membeli obat di apotek tersebut kami harus datang sendiri ke Ketapang. Perjalanan dari klinik kami ke Ketapang membutuhkan waktu sekitar 2 jam lebih. Saat itu tiga mobil utama di klinik kami sedang tidak ada di tempat karena digunakan untuk kegiatan lain sehingga kami bingung bagaimana cara membeli obat tersebut. Akhirnya kami pun membicarakan kondisi tersebut kepada keluarga pasien untuk sama-sama mencari jalan keluar. Dari pihak keluarga pasien akhirnya memutuskan mereka lah yang akan pergi ke Ketapang untuk membeli infus metronidazole tersebut. Perjalanan pulang-pergi dari klinik ke Ketapang lalu kembali lagi ke klinik membutuhkan waktu kurang lebih 5-6 jam. Dengan mengabaikan rasa khawatir, jauhnya perjalanan,dan hujan deras yang menerpa mereka melakukan segala hal yang bisa diberikan untuk menyelamatkan anggota keluarganya. Semuanya hanya demi mereka yang tersayang.

Cerita-cerita ini hanyalah satu dari sekian banyak cerita perjuangan betapa hebatnya perjuangan yang sering dilakukan oleh orang-orang di sekitar kita untuk mereka yang dicintainya. Satu hal yang sangat saya sadari adalah, cara terbaik mengekspresikan cinta adalah tidak dengan harta kekayaan tetapi dengan ketulusan hati untuk menjaga mereka yang tercinta selalu berada dalam hati kita, dekat kita, dan memberikan mereka sebuah kebahagiaan karena menjadi bagian dalam hidup kita.

Ramadhan tahun ini adalah ramadhan ke-enam kembali saya tidak menikmati waktu bersama keluarga besar saya. Semoga semua orang yang saya cintai senantiasa didekatkan pada kebaikan dan mendapatkan kasih sayang dari orang-orang sekitarnya, karena yang bisa saya lakukan untuk orang-orang yang saya cintai jauh di sana adalah tak henti-hentinya mendoakan dan mencintai mereka. I miss you Mom..


Senin, 14 April 2014

Run To You by Lasse Lindh

I'm falling in love with this song... :)

Run To You

by. Lasse Lindh

With you... Everything seems so easy
With you... My heartbeat has found its rhythm
With you... I'm so close to finding my home

With you... I dont care if I´m a little bit crazy
Cause with you nothing's wrong 

I was broken, I was wasted
Then you came like an angel in the rain
Love used to slip trough me like waters slips trough hands
But with you it changed I know, I feel I'm closer to your heart.

I am run-run-running to you 
And I'll keep you safe forever
Through the tears, trough the love and all the nights we share
I am run-run-running to you 
And I'll keep you safe forever
Don't you know my love, don't you know two hearts can beat as one? 

Love used to slip trough me like water slips trough hands but no more
No more lonely nights, no more, no more
So c'mon, c'mon, hold on, hold on, hold on 

I am run-run-running to you 
And I'll keep you safe forever
Through the tears, trough the love and all the nights we share
I am run-run-running to you 
And I'll keep you safe forever
Don't you know my love, don't you know two hearts can...
I am run-run-running to you 
And I'll keep you safe forever
Through the tears, trough the love and all the nights we share
I am run-run-running to you 
And I'll keep you safe forever
Don't you know two hearts can beat as one?

Selasa, 11 Maret 2014

A Million Reasons To Smile

Apa yang ingin saya ceritakan kali ini? Sejujurnya saya bingung bagaimana cara yang tepat untuk berbagi perasaan saya saat ini. Bahkan tulisan ini sudah saya coba berkali-kali tulis dari kemarin, tetapi langsung saya hapus karena saya tak tahu bahasa yang tepat untuk mengungkapkan perasaan saya. Apa yang harus saya ungkapkan kali ini? Euhmmm baiklah, saya coba dengan kalimat sederhana terlebih dahulu saja kalo begitu.

Quote favorit saya dari dulu hingga kini adalah,Enjoy your life, no matter how hard it may seem. When life gives you a thousand reasons to cry, show the world you have a million reasons to smile.. Yups, a million reasons to smile. Adakah yang pernah bilang atau mengalami hidup yang selalu bahagia tanpa pernah mengalami kesedihan? Sayangnya, jika ada yang bilang atau mengalaminya maka bisa dipastikan hal itu tidaklah mungkin. Karena semua yang terjadi di dunia ini berjalan dengan seimbang, termasuk emosi manusia. Begitu pula dengan hidup saya, ada saat-saat dimana saya jatuh dan sedih, tetapi ada pula saat-saat dimana saya bahagia berbunga-bunga. Kata orang tua, “saat sedih maupun senang, kita harus senantiasa mensyukurinya..”. Mewujudkan rasa syukur saat kita bahagia tentunya sangatlah mudah, tetapi bagaimana cara mewujudkan rasa syukur saat sedih? Menurut saya salah satu caranya adalah dengan menemukan ‘sejuta alasan untuk tersenyum’ yang kita miliki.

Saat kesedihan-kesedihan itu datang, saya selalu berusaha menemukan alasan-alasan untuk tetap tersenyum. Mulai dari mendekatkan diri dengan Allah, mengingat keluarga tercinta yang saya miliki, mencari support dari sahabat dan teman-teman saya, dan berbagai alasan lain. Tetapi ada hal menarik yang menjadi alasan baru saya untuk senantiasa semangat dan tersenyum dalam sebulan terakhir ini. Yaitu para pasien-pasien saya, orang-orang yang cukup baru saya kenal dalam hidup saya. 

Dulu, saat saya sedih sering kali saya menghabiskan waktu satu atau dua hari mengurung diri untuk menenangkan diri. Tetapi sebulan terakhir ini ceritanya berbeda. Tidak hanya didasarkan karena tanggung jawab pekerjaan dan kewajiban saya terhadap pasien-pasien saya tiap hari yang membuat saya tidak memiliki waktu untuk mengurung diri, tetapi semakin lama saya menjalaninya, saya mempunyai kebutuhan pribadi dari hasil interaksi dengan pasien saya. Pasien yang datang tiap hari dengan berbagai macam keluhan, berbagai usia, berbagai karakter, membuat saya belajar banyak hal. Profesi saya tidak hanya sekedar mengetahui penyakit dan obatnya, tetapi mempelajari setiap perkembangannya yang variatif pada pasien saya dan senantiasa merangsang diri untuk belajar lebih banyak hal lagi. Profesi saya tidak hanya sekedar mendengar keluhan, tetapi mencoba mengerti keluhan-keluhan mereka, ikut ber-empati dan ikut membantu mencari solusi yang tepat akan keluhan-keluhan mereka. Profesi saya tidak hanya sekedar memberi saran, tetapi tahu cara komunikasi yang tepat menyampaikan saran-saran itu dengan bahasa yang baik dan mudah untuk mereka mengerti. Profesi saya tidak hanya berwajah manis, tetapi senantiasa memberikan wajah yang ramah, positif, dan menyegarkan untuk menularkan semangat kepada para pasien. Profesi saya tidak hanya hubungan antara apoteker dan pasiennya, tetapi sebuah interaksi manusia yang bersahabat. Sebuah profesi yang tak menuntut, tetapi membuat saya sadar secara otomatis bahwa saya harus senantiasa menjaga semangat dan senyum saya bukan hanya untuk diri saya, melainkan juga untuk pasien-pasien saya. Berbagai cerita dan keluhan yang mereka alami, sering kali membuat saya kembali teringat dan tersadar akan berbagai keberuntungan kecil yang saya miliki dan sempat saya lupakan. Terima kasih untuk pasien-pasien saya, karena mereka membuat hidup saya berjalan dengan penuh semangat dan positif walau saat saya sedih sekalipun. Terima kasih... terima kasih sudah menjadi bagian dalam ‘sejuta alasan saya untuk tetap tersenyum’. J

Selasa, 25 Februari 2014

Dimanakah Apoteker Lulusan ITB Seharusnya Berada?

Kemarin sore asisten apoteker saya bertanya pada saya, “Mbak Indah, mbak kan lulusan ITB, pinter dan bisa cari kerjaan bagus, kok mau sih kerja di sini dan milih di Semarang? Apa gak sayang tuh Mbak? Lulusan ITB lho padahal?”

Tak dipungkiri itu merupakan salah satu pertanyaan yang sudah saya antipasti suatu saat akan ditanyakan orang dan tentunya bukan pertanyaan yang mudah untuk saya jawab. Akhirnya saya jawab saja pertanyaan itu dengan apa adanya dan kondisi sebenarnya.

“Saat saya lulus apoteker kemarin Ayah saya berkata, ‘jangan jadikan embel-embel ITB mempersulit langkahmu ke depan.. ITB adalah tempat kamu belajar dan mencari ilmu, bukan menjadi tuntutan di mana kamu akan bekerja. Tempat bekerja adalah suatu tempat yang memenuhi tiga kriteria utama, yaitu tempat yang sesuai karakter kepribadianmu, tempat yang tepat ilmu-mu dapat diterapkan, dan tempat dimana kamu dapat terus belajar.. setiap orang punya posisi dan peranan masing-masing di dunia ini, temukan posisi yang tepat dimana ilmumu bisa bermanfaat…’ Lalu apa yang salah dengan saya bekerja disini? Bagi saya tidak ada yang salah. Tempat ini lebih dekat dari keluarga saya dibandingkan Bandung atau Jakarta, tempat ini sesuai kepribadian saya yang senang berinteraksi dengan banyak orang, di tempat ini ilmu saya dapat diterapkan, dan di tempat ini saya setiap hari selalu belajar hal-hal baru, ilmu kesehatan, ilmu sosial, ilmu komunikasi, dan sebagainya. Di tempat ini pun banyak tantangan bagi saya sebagai seorang apoteker yang harus tetap diasah dengan serius. Walau saya tidak yakin apakah saya akan berada disini dalam jangka waktu yang sangat lama, karena tidak dipungkiri saya pun masih punya satu list rencana dan cita-cita pribadi yang ingin saya capai dalam hidup saya.. tetapi saya menikmati pekerjaan saya disini saat ini. Asal saya senantiasa terus bergerak dan berkontribusi dengan baik bersama ilmu saya, itu cukup untuk saya… So, kenal lah saya sebagai seorang apoteker, bukan sebagai seorang apoteker lulusan ITB, karena ITB hanyalah tempat saya mencari ilmu, tapi di sini adalah salah satu tempat saya bisa mengaplikasikan ilmu…J “

Jumat, 14 Februari 2014

Budaya Berjalan

Mulai hari minggu kemarin, 9 februari 2014, aku mulai menjadi anak kost kembali di daerah Jl. A, kelurahan K, kota Semarang. Kost baruku ini hanya berjarak 300-400 m dari tempat aku bekerja. Tentunya jarak dekat itu bisa ditempuh hanya dengan lima menit berjalan kaki. Bagiku, berjalan kaki merupakan hal biasa yang kulakukan setiap hari. Saat SD aku selalu berangkat ke sekolah dengan berjalan kaki. Saat SMP dan SMA aku selalu berangkat dengan naik sepeda. Lalu saat kuliah aku pun kembali menggunakan transportasi bernama jalan kaki. Ops, sebentar sebentar, walau aku tidak menyebutkan motor, gini gini aku juga bisa mengendarai motor kok, hahaha. Aku hanya mengendarai motor saat harus menempuh jarak berpuluh-puluh kilometer atau jarak yang tidak tersedia sarana transportasi umum sama sekali. Yah begitulah, karena kebetulan semarang merupakan kota yang masih terfasilitasi dengan angkutan umum dan jarak antara kost-tempat kerja masih bisa ditempuh dengan jalan kaki, akhirnya aku putuskan untuk tidak membawa motor selama tinggal di Semarang.

Kostku terletak di daerah yang cukup strategis, sehingga dengan mudah ditemukan pusat pertokoan dan jajanan di sekitarnya. Dengan kemudahan tersebut maka hanya dengan melangkahkan kaki beberapa meter aku bisa memenuhi kebutuhan sehari-hariku dengan mudah. Tetapi ada yang aneh di sini, hingga aku sempat satu kali berpikir sore tadi apakah mungkin hanya aku seorang diri yang aneh? oke, aku jelaskan sebentar. Aku memang hobbi sekali memperhatikan hal-hal tak penting, termasuk hal-hal yang tak menarik. Hari pertama aku kerja, seorang rekan kerjaku bertanya, "Mbak Indah di sini gak bawa motor?". Aku pun menjawab apa adanya, "Enggak Mbak, kost saya dekat, lima menit jalan kaki juga nyampe. Kalo harus jalan-jalan jauh saya juga cukup naik angkot...". Kemudian Mbak tersebut bilang, "Wah Mbak mending bawa motor sendiri di sini, jadi mau kemana-mana gak capek..".  Kali itu lah aku baru menyadari beberapa pengamatan menarik di daerah baru ini, di antaranya:
1. Seperti seolah menjadi sebuah keharusan bahwa di daerah ini harus mempunyai kendaraan pribadi untuk aktivitas sehari-hari.
2. Hanya untuk menempuh jarak 50 meter pun sering kali orang menggunakan kendaraan pribadi dibandingkan jalan kaki.
3. Sepertinya perbandingan orang jalan kaki dengan orang naik kendaraan pribadi disini bisa mencapai 1 banding sekian ribu. (Hal ini merupakan perkiraanku sendiri karena setiap aku berangkat atau pulang kerja tidak tampak adanya orang lain yang berjalan kaki di jalan selain aku.) --> sedikit merasa kesepian juga jadinya, haha.

Melihat kondisi tersebut aku pun mau tidak mau otomatis langsung membandingkan dan mempunyai pendapat tersendiri. Yah, menurutku silahkan saja sih bawa kendaraan pribadi jika memang daerahnya sulit untuk diakses dengan jalan kaki atau angkutan umum dalam memenuhi kebutuhan sehari-hari, it's okay. Tetapi jika daerah yang strategis dan mudah terakses dengan angkutan umum bahkan bisa hanya dengan jalan kaki, apakah harus sekali setiap meternya ditempuh dengan kendaraan pribadi? Dengan tegas saya bilang TIDAK. Well, dasar penilaian saya pun sangat sederhana, bukankah kebutuhan sehari-hari akan menjadi lebih boros karena konsumsi bensin untuk kendaraan pribadi? bukankah polusi akan semakin mengganggu karena banyaknya asap dan suara kendaraan? bukankah jalanan akan menjadi semakin macet karena kendaraan-kendaraan yang berlalu-lalang? bukankah dengan menggantungkan diri pada suatu alat justru menunjukkan betapa malasnya diri kita? bukankah budaya jalan kaki itu lebih sehat dibandingkan hanya duduk di atas kendaraan? Dan konyol sekali jika alasanmu menggunakan kendaraan pribadi hanya untuk ke minimarket yang hanya berjarak 100 m dari rumahmu. Ah, sungguh kenyataan yang sedih untuk dilihat dan dipikirkan.

Betapa indahnya jika penggunaan kendaraan pribadi di masyarakat dapat dikurangi. Tidak akan ada suara klakson dan asap knalpot yang mengganggu pagi, siang, dan malam-malam kami. Betapa indahnya jika semua orang terbiasa berjalan kaki untuk kegiatan sehari-hari. Akan tampak wajah-wajah masyarakat yang segar dan bugar saat menyambut pagi. Tapi, sayangnya hal ini seolah hanya pengandaianku seorang diri.

Selasa, 11 Februari 2014

Apresiasi Tertinggi

Sudah lupakah kamu dari mana kamu mampu dapatkan apresiasi tertinggi dalam hidupmu?
Bukan dari orang-orang yang memuji perjuanganmu.
Bukan dari setumpuk piala dan piagam penghargaan yang kau timbun.
Bukan dari seberapa banyak harta dunia yang kau kumpulkan.
Bukan dari setinggi-tingginya posisi yang kau miliki.
Bukan dari lama tidaknya hidupmu.

Karena pada dasarnya, pujian-pujian orang tersebut, banyaknya piagam dan harta-harta dunia tersebut, setinggi apapun posisi itu, serta selama apapun kehidupanmu, mereka hanyalah perihal duniawi yang bersifat sesaat. Jangan buat dirimu diperbudak oleh hal-hal duniawi itu. Pada awal dan akhirnya apresiasi tertinggi hanya bisa diperoleh dari Tuhanmu. Sebuah apresiasi terindah yaitu Jannah-Nya yang sudah disiapkan untuk kehidupan abadimu kelak. Salah satu dari sekian cara untuk mendapatkan apresiasi-Nya adalah dengan mengikhtiarkan diri melakukan segala hal di dunia ini dengan niat untuk mendekatkan diri dengan-Nya. Menjadikan setiap keringat, tangis, dan senyuman yang tercurahkan hanya untuk diberikan kepada-Nya.

Insya Allah Yaa Rabb, saya sedang berusaha. :)

Sabtu, 01 Februari 2014

Happy Morning


Perasaan ini tidak kudapatkan dari pengalaman yang Wah untuk diceritakan. Perasaan ini tidak didapatkan dari kisah-kisah nyata diri sendiri maupun orang lain. Perasaan ini diperoleh hanya satu dari sekian caraku mengisi waktu di pagi hari. Perasaan ini diperoleh hanya dari secuil cerita menarik komik yang kubaca pagi ini. Sebuah perasaan sederhana, "Ah inilah perasaanku yang ingin kuungkapkan untuk orang-orang yang kucintai.. Ah inilah perasaan yang kuinginkan dan kudengar dari orang lain untukku.. Please, just be honest each other..." #HappyMorning :)