Tampilkan postingan dengan label Traveling. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Traveling. Tampilkan semua postingan

Minggu, 26 Oktober 2014

Sebelum dan Saat Kau Tak Ada

Sedang apa teman-teman di hari minggu ini? Heuhmm, tak ada yang terlalu spesial untuk saya hari ini. Yups, seperti yang dilakukan wanita single pada umumnya, hahaha, hari ini hanya saya nikmati dengan seharian istirahat di rumah sambil menikmati lagu-lagu album terbarunya The Script - No Sound Without Silence karena badan saya pegal serta memar setelah perjalanan kemarin sabtu. Ops?! abis jalan-jalan kemana Ndah? Hehehe mari sekilas info dulu ya teman-teman. Setelah lima bulan lebih tinggal di Sukadana akhirnya kemarin saya mendapatkan kesempatan beserta teman-teman ASRI mengunjungi indahnya pantai di Pulau Juanta. Pulau yang tak jauh dari daerah kami tinggal di Sukadana. Hanya cukup dengan mengendarai klothok (sejenis kapal kayu besar) selama satu jam dari tepi pantai Pulau Datuk kita sudah bisa menikmati indahnya panorama satwa laut di hijau dan jernihnya pantai Pulau Juanta. Lengkap cerita serunya jalan-jalan kemarin mungkin saya share next time saja, hehehe. :p

Yang ingin sekali saya bagi hari ini bukanlah tentang bagaimana hasil latihan renang saya di Pulau Juanta, melainkan menariknya obrolan saya dengan Kak Lia saat berada di klothok kemarin. Sambil menikmati sarapan sepiring berdua bakmi medan yang dibawa Kak Lia saat perjalanan, obrolan yang kami bicarakan pun bermacam-macam dari A sampai Z. Tetapi ada satu obrolan menarik yang mungkin ingin sekali saya share ke teman-teman dan semoga senantiasa menjadi pengingat bagi diri saya sendiri juga. Kak Lia bertanya pada saya, "Ndah, coba jawab satu pertanyaan dari kakak ya.. tapi jawabannya gak usah diucapkan keras-keras, cukup tulis dalam pikiranmu saja." Saya pun langsung bersemangat, "Yes kak! apa pertanyaannya?". "Jika ada suatu kondisi dimana Indah harus meninggalkan pekerjaan misal karena dinas ke luar atau karena tidak bekerja lagi di tempat Indah kerja, apakah Indah yakin pasti ada orang yang bisa menggantikan Indah saat tak ada?", tanya Kak Lia. Pertanyaan yang cukup membuat saya berpikir lama untuk memberikan jawaban yang tepat dalam pikiran saya. Setelah saya mendapatkan jawaban saya, saya bilang, "Sudah kak.". "Oke, sip.. kakak gak perlu tahu jawaban Indah, tapi untuk pertanyaan ini kita tahu pasti jawabannya ada dua kemungkinan. Pertama, jawabannya adalah 'tidak ada yang bisa menggantikan saya, karena peranan saya terlalu besar di pekerjaan saya, tidak ada yang bisa saya percaya menjalankan pekerjaan yang saya lakukan'. Lalu jawaban yang kedua adalah, 'saya punya rekan yang bisa saya percaya, yang bisa menghandel pekerjaan di tempat saya bekerja saat saya tak ada'. Sekarang menurut Indah di antara kedua jawaban tersebut mana yang paling baik?". Sebelum saya sempat menjawab pertanyaan tersebut, Kak Lia langsung lanjut menjelaskan. "Jawaban yang kedua adalah yang terbaik Ndah.. mengapa? seseorang dikatakan berhasil menjalankan pekerjaannya dengan baik ditunjukkan dengan seberapa besar ilmu dan manfaat yang sudah ia bagi kepada rekan-rekan kerjanya. Saat ia tidak ada disamping teman-temannya, pekerjaan yang ia tinggalkan tidak ada yang terlantar sehingga reward yang diterima di sini tidak hanya personal dimiliki satu orang saja, tetapi juga bisa dinikmati oleh team yang bekerja bersamanya. Karena pada akhirnya kita semua nanti memang akan pergi Ndah, tapi ada tanggung jawab yang akan kita tinggalkan dan diserahkan pada orang lain. Kamu gak ingin kan tanggung jawab tersebut akan berantakan saat  kau tak ada? itulah pentingnya mengapa kita harus berbagi ilmu dengan rekan-rekan kita Ndah.." Sebenarnya masih cukup panjang obrolan antara saya dan Kak Lia tentang hal ini, tetapi mungkin bisa sedikit saya sampaikan apa yang bisa saya simpulkan dari obrolan tersebut. Setelah obrolan tersebut, saya janjikan pada diri saya bahwa "Mungkin saya tidak bisa selamanya membantu dan bekerja di tempat ini. Suatu saat mungkin saya tidak ada atau pergi meninggalkan tempat ini. Tetapi sebelum waktu itu tiba saya akan senantiasa memberikan yang terbaik bersama rekan-rekan saya, saya tak ingin meninggalkan Pe-Er berat bagi orang-orang yang saya tinggalkan, saya tak mau pelit berbagi ilmu kepada rekan-rekan saya, dan saya ingin membangun sistem kerja yang rapi sehingga tidak hanya saya yang bisa mengerti dan melakukan apa yang saya kerjakan, tetapi orang lain pun bisa melakukannya saat saya tak ada. Bismillah, semangaaat Ndah!!" :)

Teman-teman juga semangaaat ya!! di mana pun tempat kalian bekerja janganlah lelah untuk senantiasa menimbun dan menebar ilmu. :)

Terima kasih Kak Lia.. (^o^)

Selasa, 27 Mei 2014

Selamat Datang Di Alam Sehat Lestari

Don't you ever give up to make a little dream!! why?? karena sekecil apapun suatu mimpi yang kita inginkan, selalu ada persentase kemungkinan mimpi itu akan terkabulkan. Dan akhirnya kali ini kembali lagi kuucapkan "Alhamdulillah" untuk satu mimpi sederhana saya yang akhirnya terkabul dengan cara yang tak pernah terbayangkan sebelumnya. Sebuah mimpi yang dahulu sempat terlupakan oleh realita, dan sebuah mimpi yang sepertinya terlalu panjang untuk diceritakan, so mungkin langsung cerita ke inti tulisan kali ini aja yaa.. hohoho. 

Mimpi yang pernah terucap dulu itu terkabul dengan datangnya kesempatan untuk bergabung dengan team Alam Sehat Lestari sejak tanggal 12 Mei 2014 kemarin. Di tempat ini saya diberikan tugas utama untuk membantu manajemen apotek klinik ASRI yang merupakan salah satu bagian dalam program yang dijalankan yayasan Alam Sehat Lestari. Selama dua minggu terakhir saya di sini, saya masih melakukan proses pengenalan dan adaptasi terhadap lingkungan tempat tinggal dan kerja. Detail cerita tentang Alam Sehat Lestari mungkin bisa saya uraikan sebentar dari segala kegiatan yang saya lakukan selama dua minggu ini antara lain sebagai berikut.

12 Mei 2014
Saya berangkat ke Kalimantan dengan naik pesawat Trigana Air rute Semarang-Ketapang. Setibanya di Ketapang saya dijemput oleh Pak Usuf, driver dari Yayasan Alam Sehat Lestari. Perjalanan dari Ketapang ke Sukadana ditempuh selama kurang lebih 2 jam. Yups, kedatangan saya saat itu disambut dengan gerimis hujan sehingga menutup ketakutan saya akan sugesti betapa panasnya pulau Kalimantan. Selama perjalanan menuju Sukadana yang saya lihat adalah rumah-rumah panggung yang kokoh, hutan-hutan bakau, dan lebatnya hutan hujan tropis Taman Nasional Gunung Palung.
Klinik ASRI
Saya tiba di klinik ASRI sekitar jam 4 sore. Saat itu klinik ASRI sudah tutup, so akhirnya saya langsung diantarkan ke Rumah Cewek, yaitu sebuah rumah yang disediakan dari yayasan untuk staff perempuan yang berasal dari luar kota. Setibanya saya di Rumah Cewek, ada Mbak Etty (manajer pendidikan dan konservasi di Alam Sehat Lestari) yang menyambut saya saat di rumah. Rumah dua lantai ini dibangun di atas pondasi layaknya rumah panggung, dengan lantai dasar kayu dan tertutup oleh sebagian kayu sebagian tembok. Oleh Mbak Etty, saya diantarkan ke kamar saya di lantai dua. Such lovable room for me. Kamar ini sederhana, tetapi terasa sekali kenyamanan saat memasukinya. 
My Room
Di Rumah Cewek berlantai dua ini, terdapat tujuh kamar tidur, satu buah ruang tamu, dapur, dua kamar mandi, ruang makan, garasi, teras, dan halaman. Saat semua penghuni rumah sudah tiba, saya pun mulai berkenalan dengan mereka. Saat saya datang, rumah ini sudah dihuni oleh Mbak Etty, Monica (dokter gigi), Yuli dan Nomi (keduanya adalah dokter umum), Patricia (volunteer dari Portland di konservasi), dan Debby (volunteer doctor di klinik gigi). Rumah ini sungguh nyaman dan hangat. :)



13 - 14 Mei
Hari pertama saya di Sukadana disambut dengan terangnya mentari dan sejuknya udara pagi, meriahnya kicau burung dan kera di hutan Gunung Palung, serta hijaunya pemandangan di sekitar. Hari pertama saya kerja di Klinik ASRI diawali dengan gaya hidup yang sehat. Mengapa bisa? karena transportasi utama yang saya gunakan disini bukanlah angkutan umum atau sepeda motor, tetapi sebuah sepeda roda dua yang sebenarnya tidak asing saya gunakan di Solo. Hanya saja berbeda ceritanya, kali ini saya bersepeda di tempat yang suplai oksigennya bisa mengisi paru-paru saya sepenuhnya melebihi yang biasanya saya peroleh di tempat-tempat sebelumnya.
Fasilitas klinik yang diberikan di klinik ASRI antara lain pelayanan dokter umum, dokter gigi, laboratorium, 5 tempat rawat inap, dan apotek. Rutinitas harian di klinik ASRI diawali dengan meeting pagi seluruh staff jam 8 pagi. Meeting ini bermanfaat sekali untuk menyampaikan segala perkembangan kegiatan seluruh program kegiatan yang berjalan di yayasan Alam Sehat Lestari. Pada pukul 08.30 klinik ASRI mulai menjalankan kegiatan prakteknya hingga jam 16.00. Hari kerja utama adalah hari senin-kamis, lalu hari jumat biasanya ada agenda khusus seperti imunisasi, bersih-bersih, english class, dan sebagainya. Praktek klinik juga melayani On-Call untuk pasien-pasien emergency di luar jam kerja.
Untuk menunjang visi misi dari Alam Sehat Lestari, proses pelayanan kesehatan yang dilakukan di klinik ASRI pun sangat menarik. Pada dasarnya proses pelayanan kesehatannya umum seperti yang dilakukan di balai pengobatan lain, yaitu pertama-tama pasien melakukan pendaftaran untuk pengobatan, lalu anamnesis perawat dilanjutkan anamnesis dokter. Setelah selesai pemeriksaan, pasien dapat mengambil obat yang diresepkan dan melakukan pembayaran. Lalu apa yang berbeda di klinik ASRI??? Yang berbeda disini adalah,
1. Pengklasifikasian pasien
Pasien di klinik ASRI diklasifikasikan menjadi empat jenis sesuai dengan aktifitas illegal logging daerah atau dusun mereka tinggal. Ada daerah hijau, biru, merah, dan ungu. Daerah hijau adalah daerah yang tidak melakukan aktivitas illegal logging sama sekali di gunung Palung, merah adalah daerah yang penduduknya sebagian besar melakukan illegal logging, lalu daerah ungu adalah daerah yang berada di luar kawasan daerah gunung Palung. Pembagian daerah ini fungsi utamanya adalah untuk memotivasi masyarakat menurunkan aktivitas illegal loging di daerahnya, karena adanya fasilitas diskon harga pengobatan untuk daerah yang tidak melakukan aktivitas illegal logging. Misalnya daerah hijau yang berhak mendapatkan fasilitas diskon pengobatan hingga 80%.
2. Sistem Pembayaran Obat
Papan penjelasan
sistem pembayaran obat
Ada dua cara pembayaran pengobatan di klinik ASRI, yaitu bisa dilakukan dengan pembayaran tunai dan bisa juga dilakukan pembayaran dengan sistem barter. Bagi pasien yang tidak mampu membayar biaya pengobatan tunai, bisa menggantinya dengan sistem barter. Sistem barter yang berlaku di sini antara lain yang pertama adalah dengan menukarkan biji-bijian (yang akan digunakan sebagai bibit untuk kegiatan rebosiasi), gerabah, atau dengan kotoran hewan (yang akan digunakan sebagai pupuk untuk kegiatan rebosiasi). Barter yang kedua adalah dengan meluangkan waktunya untuk membantu kegiatan Alam Sehat Lestari baik di klinik maupun di kegiatan konservasi hutan Gunung Palung.
3. Kekeluargaan yang erat
Karyawan tetap Alam Sehat Lestari tidaklah terlalu banyak, sekitar 30-40an orang yang bertanggung jawab penuh di klinik dan manajemen utama team konservasi. Sementara untuk kegiatan lapangan team konservasi sering kali menggunakan jasa karyawan harian. Dengan jumlah karyawan yang tidak terlalu banyak tersebut dan sistem manajemen yang terbuka di dalamnya membuat suasana kekeluargaan antar karyawan Alam Sehat Lestari terjaga dengan sangat baik. Senang sekali rasanya saat saya disambut dengan hangat oleh seluruh karyawan di sini. Selain itu hubungan karyawan Alam Sehat Lestari dengan masyarakat di sekitar hutan Gunung Palung sendiri membuat saya kagum akan keramahan, kepercayaan, dan kedekatan di antara keduanya.

15 - 17 Mei
Di luar jam kerja di klinik ASRI, salah satu hal yang tak boleh terlupa adalah mengeksplor seluruh keindahan di daerah Sukadana ini. Ada apa aja di Sukadana? berikut beberapa tempat indah yang saya eksplor di minggu pertama saya di Sukadana. Masih banyak tempat-tempat yang belum saya kunjungi, dan itu sudah jadi agenda saya berikutnya, hohoho.
1. Pantai Pulau Datuk
Pantai ini hanya berjarak sekitar 500-600 meter dari tempat tinggal saya, dan hanya cukup ditempuh dengan 3-4 menit naik sepeda. Merupakan salah satu objek wisata yang cukup ramai dikunjungi wisatawan dari luar Sukadana.






2. Pantai Tambak Rawang
Pantai ini ditempuh dengan naik sepeda sekitar 15-20 menit dari tempat tinggal saya. Pantai ini termasuk pantai yang sepi pengunjung sehingga sering kali disebut sebagai private beach. Di pantai ini lah saya mengagendakan diri untuk mulai belajar renang bersama Mbak Etty setiap hari sabtu, hohoho. Tapi harus hati-hati karena banyak kulit kerang yang bisa menggores kulit kalian, fufufu~.




3. Hutan Bakau dan Sungai
Sebagian besar tanah daerah Sukadana terdiri atas hutan bakau yang mulai diubah menjadi kawasan perumahan. Tetapi jejak-jejak hutan bakau tentunya masih mendominasi sebagian besar daerah Sukadana.







4. Hutan Gunung Palung
Inilah objek utama yang ingin dilindungi oleh Alam Sehat Lestari. Salah satu sumber supplai oksigen terbesar di seluruh dunia. Tidakkah kalian sedih jika hutan ini menjadi korban keegoisan manusia dalam illegal logging??






19 Mei
Akhirnya saya mendapatkan kesempatan untuk ikut kegiatan monitoring area hutan Gunung Palung oleh team konservasi. Penanggung jawab utama untuk kegiatan monitoring ini adalah Mas Agus. Kegiatan monitoring ini dilakukan dengan tujuan untuk meninjau kembali kondisi status ilegal logging di daerah gunung Palung. Karena saat itu tidak banyak staff yang bisa ikut monitoring, akhirnya saya hanya dikenalkan untuk monitoring TPK (tempat penumpukan kayu) di beberapa daerah yang termasuk daerah merah atau daerah dengan aktivitas ilegal loggingnya sangat aktif.


22 Mei
 

Di tengah minggu kedua saya kali ini, saya diajak untuk ikut bergabung bersama team ASRI Kids mengikuti kelas rutin mingguan di salah satu SD di daerah gunung Palung. ASRI Kids merupakan bagian dari Alam Sehat Lestari yang memiliki fungsi utama memberikan edukasi tentang lingkungan kepada anak-anak di sekitar Gunung Palung. Penanggung jawab utama kegiatan ini adalah Mbak Etty. Segala kegiatan yang dilakukan di ASRI Kids selalu menggunakan metode-metode menarik dan aplikatif sehingga mudah dimengerti oleh anak-anak dan merangsang keaktifan mereka. Minggu ini kurikulum yang disampaikan di kelas ASRI Kids adalah tentang bagaimana cara membuat kertas daur ulang. Menyenangkan sekali rasanya bisa menghabiskan sejenak waktu bersama mereka. :)


Masih banyak segudang kegiatan saya selama di Alam Sehat Lestari nanti. So, tunggu tulisan-tulisan saya berikutnya... hahaha. Doakan saya dapat berkontribusi dengan baik di tempat ini. Semangaaaaat!!! :)

Minggu, 18 Mei 2014

Umbul Sidomukti, Ungaran, Jawa Tengah

Tidak poll rasanya kalo ke kabupaten Semarang tanpa mengunjungi tempat yang menarik satu ini, yaitu Umbul Sidomukti. Mungkin untuk info lengkap tentang tempat ini bisa klik link ini. Oke, saatnya saya mulai cerita perjalanan saya kesana bersama asisten saya Trisna.
Kami berangkat jam 5 pagi dari kost saya di daerah Sambiroto, kota Semarang. Perjalanan ditempuh dengan mengendarai motor sekitar kurang lebih 1,5 jam hingga tempat tujuan. Selama perjalanan kami sempat berhenti di beberapa spot menarik untuk mengambil foto pemandangan.

Pemandangan sunrise yang
diambil dari bukit tembalang.
Sunrise di jam 06.00 yang diambil
dari pom bensin.
Rute untuk menuju puncak gunung Ungaran cukup terjal, but it's okay, karena daerahnya sudah ditetapkan sebagai daerah wisata resmi, maka jalannya sudah dibangun dengan halus. Banyak hal yang menarik perhatian saya selama perjalanan. Seperti misalnya adalah bahwa di daerah ini hanya ada satu sekolah dasar. Beruntung saya datang di pagi hari, karena saya bisa melihat bahwa banyak anak-anak SD yang bersemangat menempuh berpuluh-puluh kilometer dari atas gunung untuk mendapatkan ilmu di sekolah yang hanya ada di kaki gunung. Saya melihat berbagai macam sayuran yang saya makan tiap hari ditanam dengan baik di sepanjang gunung ini. Tanpa para petani gunung ini entah dari mana suplai sayur segar bisa saya peroleh (feeling blessed). Ops, oh iya yang paling menarik adalah di antara tanaman-tanaman sayuran ini ditanam juga tanaman yang tak mungkin bisa kita bayangkan ternyata cukup serasi disandingkan, yaitu tanaman mawar. Saya sendiri heran, bukan kah umumnya di samping kacang itu adalah jagung ya? baru kali ini saya lihat di samping kacang adalah mawar, haha.
Perkebunan sayur di gunung Ungaran
Bunga mawar yang di tanam di sekitar
tanaman perkebunan.











Akhirnya tepat jam 06.50 kami tiba di atas gunung Ungaran, yaitu di tempat wisata Umbul Sidomukti. Sulit untuk mendeskripsikan keindahannya. So, just check these photos out!! :)

 

 

Terima kasih Trisna sudah menemaniku berpetualang ke tempat ini. Ini tempat terindah yang kukunjungi sebelum meninggalkan Semarang. Semoga ada kesempatan kembali kita bisa berpetualang bersama lagi. :)

Minggu, 22 Desember 2013

Mengunjungi Semarang

Alhamdulillah.. akhirnya hari minggu!!! akhirnya bisa hibernasi!!! inilah kebahagiaan terbaik minggu ini setelah berhari-hari diisi 'sok' kepadatan dan 'sok' kesibukan agenda saya, hahaha. Ngomong-ngomong soal minggu, saya mau cerita tentang perjalanan saya minggu kemarin ke Semarang. Saat ini saya sedang sakit (akumulasi demam satu minggu), so maaf yak ceritanya singkat aja. :)

Pada awalnya saya harus ke Semarang untuk kegiatan interview kerja hari senin (16 Desember), tetapi sayang sangat sayang jika kita ke tempat baru yang belum pernah kita kunjungi tanpa harus mengeksplorasi tempat tersebut, hihihi. Finally, saya mengubah agenda saya menjadi tak hanya sekedar datang interview, tetapi menjadi sebuah petualangan kecil di kota Semarang. :)

Kamis, 12 Desember
Petualangan saya dimulai dengan perjalanan dari Bandung ke Solo terlebih dahulu. Alasannya sederhana, karena saya kangen rumah, jadi mau mampir dulu ke rumah. Perjalanan ke Solo saya tempuh dengan kereta Kahuripan. Hanya dengan membayar Rp 50.000,- dalam waktu 10 jam saya sudah bisa tiba di Solo. Kereta Kahuripan berangkat jam 20.30 WIB dari stasiun Kiara Condong. Karena saya naik kereta di hari kerja, saya bisa mendapatkan satu baris kursi kosong yang bisa saya jajah sendirian sepanjang perjalanan. Sahabat saya saat di kereta hanyalah buku dan musik yang mampu membuat saya menikmati perjalanan dengan nyaman.

Jumat, 13 Desember

Saya tiba di Stasiun Jebres jam 06.15 WIB, lima belas menit terlambat dari jadwal seharusnya. Saat saya tiba, ayah saya sudah menunggu di depan pintu gerbang dengan motor birunya, hahaha motor yang saya tabrakkan seenaknya bulan lalu. Saya di rumah hanya sekitar 3 jam, cukup untuk mencicipi masakan ibu, mengantar Yaya ke sekolah, dan mengemas ulang bawaan saya ke Semarang nanti.

Pukul 10.00 WIB saya berangkat ke Semarang dengan naik bus Safari dan cukup membayar Rp 20.000,- untuk perjalanan dari Solo ke Semarang. Pertama kali saya tahu bahwa ternyata perjalanan ke Semarang saya harus melewati daerah-daerah berikut ini, Boyolali - Salatiga - Ungaran - Banyumanik - Semarang. Perjalanan hanya membutuhkan waktu 2-3 jam tergantung kecepatan supir mengemudi, haha karena tidak ada macet sama sekali sepanjang perjalanan. Sepanjang jalan yang saya lihat adalah betapa hijaunya tanah jawa ini, apalagi saat melewati daerah Ungaran yang berbukit-bukit.

Perayaan Kelulusan
SMA di
Purwokerto
Pukul 11.30 WIB saya tiba di daerah Sukun, Semarang. Disana sahabat terbaik saya saat SMA, Ratna (saya memanggilnya Nae), sudah menunggu untuk menjemput saya. Saya sangat rindu dengan sahabat saya ini, ia adalah sahabat saya sejak kelas 1 SMA, dan sudah hampir 3 tahun saya hanya bisa berkomunikasi dengannya melalui dunia maya. Di tempatnya lah saya akan menetap dan menginap selama di Semarang. Nae saat ini sedang melanjutkan studi S2 nya di Undip, jadi otomatis kostan dia berada di daerah Undip Tembalang. Saya merasa kelelahan setibanya saya di Semarang, jadi akhirnya saya lewatkan seharian istirahat di kostan Nae. Nae mempunyai selera buku, musik, dan tontonan yang sama dengan saya, sehingga sejak SMA kamarnya adalah surga hiburan buat saya, begitu juga sebaliknya. Sepanjang sore  hingga malam hanya kita gunakan untuk mengobrolkan berbagai cerita yang tertunda dengan saya sambil membaca buku dan Nae asik nonton drama korea yang saya bawa khusus buat dia.

 

Selama saya di Semarang saya hanya menikmati menu makanan pagi hingga malam bersama Nae di sekitar kostan Nae. Saya tidak terlalu memprioritaskan menu kuliner untuk perjalanan kali ini, haha maaf uang masih mepet untuk foya-foya. Dengan menu makanan normal sehari-hari, saya hanya cukup mengeluarkan uang Rp 7.000 - Rp 10.000 untuk setiap kali makan. Selama 4 hari di Semarang, saya hitung pengeluaran saya untuk makan dan jajan hanya menghabiskan sekitar Rp 100.000,- hingga saya pulang.

Sabtu, 14 Desember

Waktunya untuk jalan-jalan. Mengelilingi kota Semarang agak cukup merepotkan jika kau tak punya kendaraan pribadi. Sangat sulit menjelajah kota ini jika harus mengandalkan angkutan umum, tetapi juga berarti tidak mungkin, hanya saja sedikit sulit, haha. Inilah daftar tempat yang saya kunjungi bersama Nae.

1. Kota Tua Semarang
Kawasan dimana kau bisa menemukan gedung-gedung dan jalanan kota Semarang sisa jaman penjajahan Belanda. Kita bisa mengelilingi kawasan kota Tua ini dengan jalan kaki atau naik motor. Kawasan Kota Tua merupakan kawasan terbuka, jadi tidak diminta bayaran sama sekali saat memasukinya. Nae mengajak saya mengunjungi salah satu gereja tertua peninggalan Belanda di Semarang, yaitu gereja Blenduk. Saat mengunjungi gereja ini, kami cukup membayar biaya parkir Rp 2.000,-.
 


2. Masjid Agung Jawa Tengah
Satu kalimat yang saya ucapkan saat tiba di tempat ini, "Subhanallah.. indahnyaaa...". Seperti namanya, masjid ini dikemas dengan agungnya. Masjid ini dibuat dengan mengikuti kombinasi arsitektur jawa dan arab, sungguh indah. Hanya cukup membayar biaya parkir Rp 1.000,- saya bisa menikmati keagungan masjid ini. Masjid ini merupakan tujuan utama saya ke Semarang, saya sudah ingin sekali mengunjunginya sejak 2 tahun yang lalu setelah melihat foto teman saya di facebook. Alhamdulillah, akhirnya kesampean juga, hehe.


3. Gedung Lawang Sewu
Gedung ini diberi nama 'lawang sewu' yang artinya seribu pintu dikarenakan struktur bangunannya yang tersusun atas sekian banyak pintu. Aslinya jumlah pintu itu tidak nyampe seribu kok, alay aja itu yang ngasih nama. Mengapa gak diberi nama 'lawang satus' aja coba?! yang menurut saya sepertinya jumlah pintunya hanya ratusan, haha. Memasuki area gedung ini saya cukup membayar tiket masuk Rp 10.000,. Di gedung ini terdapat ruangan bawah tanah yang katanya cukup menarik untuk dilihat, tetapi entah mengapa saya sedang tidak tertarik saat itu, saya cukup puas menikmati permukaan gedung Lawang Sewu. Sebenarnya jika ingin menikmati ruang bawah tanah tersebut hanya dikenakan biaya tambahan tour guide Rp 15.000,- saja. Menjelajahi Kota Tua dan Lawang Sewu membawa saya seolah kembali ke jaman penjajahan Belanda dulu. Tepat di seberang Lawang Sewu adalah monumen Tugu Muda sebagai lambang penghormatan untuk pahlawan pada Pertempuran Lima Hari Semarang. Di samping Tugu Muda terdapat Museum Pahlawan, tetapi karena sedang tidak berminat berkunjung museum akhirnya saya belum sempat mengeksplorasi isi museum itu.


4. Klenteng Sam Poo Kong

Selamat datang di China!! itulah kesan pertama yang saya dapatkan saat memasuki area ini. Klenteng Sam Poo Kong ini merupakan klenteng terbesar di Semarang. Katanya ada gua disana, tetapi saya tidak mengunjunginya karena terancam hujan yang segera turun saat itu. Di dalam kawasan ini juga terdapat patung raksasa Marinir Zheng He. Untuk memasuki area ini, harga tiket turis lokal hanyalah Rp 3.000,- dan parkir Rp 2.000,-. Kunjungan saya ke klenteng ini merupakan agenda terakhir untuk hari itu, sisanya dilanjutkan esok harinya, haha.

Minggu, 15 Desember


Sebenarnya dalam list perjalanan saya banyak sekali yang ingin saya kunjungi, tetapi karena alasan tertentu akhirnya banyak yang harus dibatalkan. Contohnya saat saya mengajak Nae untuk mengunjungi pantai. Nae dengan senang hati bersedia menemani saya tetapi sebelumnya dia bilang bahwa kawasan pantai di Semarang sudah sangat kotor sekali, jadi tidak enak dipandang. Nae menyarankan kalau mau sebaiknya mengunjungi pantai di Jepara saja, yahhh tentunya sangat jauh jika dua gadis harus menempuhnya dengan sepeda motor. Finally, saya coret sang pantai dari list saya, huks. Di hari minggu saya dan Nae hanya mengunjungi satu tempat wisata, yaitu Pagoda Buddhagaya Watugong. Pagoda ini merupakan tempat ibadah utama umat buddha di Semarang. Saya saat itu baru tahu, bahwa ternyata pagoda ini merupakan pagoda tertinggi di Indonesia. Wooooowww!!! Mengunjungi tempat ini bisa saya bayangkan bagaimana suasana di negeri gajah Thailand yang memiliki pagoda-pagoda yang lebih besar dan tinggi, haha.

Senin, 16 Desember
Kegiatan saya hanya interview kerja di hari ini. Selesai interview kerja saya langsung pulang lagi dulu ke Solo dengan naik bus Safari.

Selasa, 17 Desember
Cukup puas menghabiskan satu hari satu malam di rumah, akhirnya selasa malam saya berangkat ke Bandung lagi. Setumpuk pekerjaan dan tanggung jawab sudah menunggu saya di Bandung. :)

Senin, 15 April 2013

Walau Kami Hanya Seorang Pedagang Pasar

Pada tanggal 11 Januari 2013 aku pulang ke Solo dengan naik kereta api Malabar yang tiba di stasiun Solo Balapan jam 01.15 WIB. Setibanya aku di stasiun, ayahku sudah siap di gerbang menunggu kedatanganku. Seperti biasa, jika aku pulang dengan jadwal kereta tersebut, aku dan ayahku tidak langsung pulang ke rumah, tapi mampir dulu untuk mencicipi nasi liwet dekat Pasar Nusukan favorit kami. Bukan warung yang mewah, hanya warung di pinggir jalan tanpa atap dan beralas tikar biasa, tapi kami menyukai nasi liwet itu. Di Solo, sebagian besar nasi liwet memang buka lapaknya di atas jam 12 malam. Kuliner tengah malam di Solo memang tak pernah mengecewakan, hehehe. Sehabis puas menikmati malam kuliner kami, aku dan ayahku langsung berangkat pulang ke rumah. 

Di tengah perjalanan, kami melewati sebuah pasar yang cukup terkenal di daerah kami, mulai dari Pasar Nusukan, Pasar Klodran, Pasar Dibal, hingga Pasar Manggung. Saat itu jam tanganku menunjukkan jam 01.45 WIB, dan kalian tahu hal menarik apa yang tak pernah kulewatkan? di semua pinggiran jalan pasar-pasar yang kulewati tersebut sudah banyak para pedagang mulai menggelar tikarnya. Mulai dari yang jualan bumbu dan sayur hingga yang jual peralatan dapur. Di sepanjang jalan yang kulewati, lebih dari lima kali aku bertemu dengan para pedagang dengan sepeda onthel dan keranjang di belakang sepeda mereka berangkat ke pasar. Aku bahkan tak tahu ke pasar mana mereka akan berangkat, mungkin ke pasar yang lebih jauh seperti Pasar Klewer, Pasar Kliwon, dan yang lainnya. Sebagian besar dari yang kulihat adalah ibu-ibu dan bapak-bapak di atas 30 tahun. Bahkan ada yang berada di usia senja di atas 50 tahun. Aku tahu benar sebagian besar dari orang yang kutemui tersebut adalah orang-orang yang tinggal di desa sepertiku, bahkan mungkin ada di antara mereka adalah tetanggaku, tetapi karena gelapnya malam membuatku tak mudah mengenali mereka. Jam dua pagi aku bertemu mereka di area kota, dengan kata lain mereka sudah berangkat dari rumah mereka sekitar jam 1 malam. Dari desaku untuk ke kota saja dibutuhkan 30-45 menit dengan naik sepeda.

Sebenarnya hal itu bukan hal baru juga untukku, aku pun pernah mengalaminya sendiri. Saat usiaku 8 tahun, ibuku coba banting setir dari penjahit menjadi pedagang daging ayam. Ayam-ayam itu selalu datang ke rumah kami di sore hari, lalu jam 11 malam ibuku merebus air yang akan digunakan untuk mbeteti nanti (baca: mbeteti =  menghilangkan bulu-bulu ayam). Ayahku selalu menjadi bagian yang menyembelih ayam, sisanya adalah pekerjaanku dan ibuku. Ibuku tak pernah membiarkanku ikut mbeteti kulit ayam, jadi aku selalu menjadi bagian yang menyiapkan air, buang bulu dan kotoran ayam yang sudah dibeteti, lalu menyiapkan sepeda dan keranjang ibuku. Jam dua pagi, ibuku dengan sepedanya sudah berangkat menuju pasar. Kegiatan tersebut berjalan selama kurang lebih 6-7 bulan, penghasilannya cukup untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari kami, tapi karena fisik ibuku mulai melemah akhirnya ibuku berhenti dan kembali menjadi penjahit. Tahukah kalian pelajaran apa yang bisa kuambil dari semua cerita ini? Mari kujelaskan.. :)

Hal-hal ini muncul dalam pikiran dan perasaanku saat itu, kutanyakan pada diriku sendiri, Mengapa mereka harus berangkat sedini itu? apakah akan ada pelanggan yang datang di jam segitu?
Aku belajar dari para pedagang-pedagang pasar itu. Mereka datang ke pasar sedini itu hanya dengan satu tujuan, yaitu untuk memberikan pelayanan terbaik kepada pelanggannya. Demi para pelanggannya walau hanya satu atau dua orang yang akan datang di jam sedini itu, mereka sudah ada untuk memberikan pelayanan yang mereka butuhkan. Lalu aku bercermin pada diri sendiri, lalu bagaimana dengan diriku saat ini? aku yang hanya harus berangkat kuliah jam 7 pagi, menghabiskan waktu hanya dengan duduk di kelas dan menyerap ilmu dari dosen-dosenku, justru sering kali malas dan mengeluh. Aku malu dengan para pedagang-pedagang tersebut, mereka bertahun-tahun melakukan aktivitas keras itu, rasa syukur mereka untuk setiap rezeki yang mereka terima lebih besar dibandingkan rasa lelah yang mereka rasakan. Walau mereka tahu lelah mereka terkadang harganya lebih besar dibandingkan berapa uang yang mereka hasilkan tiap harinya, tetapi mereka tetap melakukannya, demi keluarga dan kehidupan mereka. Sekarang mana yang akan lebih kita banggakan? kehidupan pendidikan kita tapi penuh keluh kesah? atau dunia keras mereka yang penuh syukur dan perjuangan? Setiap orang di dunia ini diberi modal yang berbeda-beda untuk mempertahankan kehidupan mereka, ada yang diberi modal ilmu maupun harta, tapi ingat kedua modal tersebut tidak akan berjalan tanpa adanya satu modal yang sering kali terlupakan, yaitu modal kerja keras. Para pedagang itu, yang mungkin tak bermodal ilmu maupun harta, tetapi dengan modal kerja keras mereka mampu mempertahankan hidup mereka. The power of hardwork.

Rabu, 30 November 2011

Wisata Alam di Parongpong

Salah satu kenikmatan minggu terakhir sebelum UAS adalah semua praktikum, laporan praktikum, dan tugas-tugas sudah berakhir sehingga kita bisa mulai konsentrasi untuk UAS. Walaupun saya masih ada TA yang harus dipikirkan dan diselesaikan secepatnya, akan tetapi setelah berkutat selama tiga minggu penuh di lab akhirnya membuat imunitas tubuh saya menurun dan terpaksa harus bed rest total hari sabtu - minggu kemarin.
Suatu hari seminggu yang lalu, teman saya mengajak saya untuk mencicipi salah satu kuliner di Bandung, yaitu I scream for Ice Cream, ingin tahu tempatnya gimana? mungkin bisa dibaca dari link ini I Scream For Ice Cream
Yupz, salah satu kegiatan yang menyenangkan saya minggu itu, dan sesaat sebelum pulang saya melihat di teras rumah makan itu terdapat beberapa bunga yang menarik perhatian saya dan langsung saat itu juga saya bilang ke teman saya, "saya mau beli bunga ini, saya mau pergi ke lembang pokoknya", hahha dan itulah saya, selalu mantap dan tidak bisa dibantah kalau memang mempunyai keinginan tertentu. Tetapi apa boleh buat, dengan persiapan UAS saya sendiri ragu, "kapan ya bisa ke Lembang nya?" apalagi saat itu sabtu-minggu saya sedang sakit.
Tetapi diluar rencana saya, pada hari senin kemarin tiba-tiba teman saya yang berencana TA tentang bahan alam mengajak saya untuk menemaninya mengambil kuesioner ke daerah Ciburial (daerah atasnya Dago Pakar, sudah termasuk kawasan Lembang juga sich kalo gak salah, tapi Lembang sebelah Timur, kalo salah maaf yaa.. saya paling bermasalah dengan peta soalnya.. haha). Medan daerah Ciburial ternyata cukup sulit hingga akhirnya saya meminjam motor teman untuk transport ke sana. Saat pergi ke Ciburial, saya pergi bersama Laras dan Manda, jadi saat itu kita bertiga berangkat cukup dengan 2 motor. Di Ciburial kita mampir ke tempat terapi sengat lebah "Syifa Madu", dimana di tempat itulah kami menitipkan kuesioner yang ingin diolah datanya oleh teman saya. Di sana kami ditawari untuk mencoba menggunakan terapi sengat lebah. Saat itu awalnya kita bertiga tidak ada yang berani mencoba, tetapi saya tiba-tiba berpikir "Wahhh kalo gak dicoba sekarang kapan lagi berani nyoba ya?", dan akhirnya saya yang emang orangnya serba nekatan, memberanikan diri untuk mencoba. Sengatan pertama dimulai dari titik di dekat kepala, ternyata tidak sakit dan salah satu teman saya yang melihat saya tenang-tenang saja akhirnya ikut mencoba, tetapi dia ternyata lebih merasa kesakitan daripada saya. Anda tahu mengapa responnya berbeda? haha,..kami pun juga heran kenapa responnya beda hingga akhirnya "Ummi" panggilan akrab kami untuk Ibu tuan rumah menjelaskan bahwa justru saya lah yang tidak normal. Sengatan lebah itu merupakan salah satu metode yang hampir sama seperti akupuntur, keterlambatan atau ketidakpekaan saya menerima rasa sakit ternyata justru menunjukkan bahwa kemungkinan ada salah satu penyumbatan saraf di otak saya, walau sebenarnya saya tidak kaget karena saya tahu memang ada masalah dengan saraf otak saya.
Saya pun ternyata tidak puas hanya sampai disitu, lalu saya mencoba untuk disengat di titik telapak tangan saya. Pada saat telapak tangan saya disengat, sakitnya minta ampun bahkan hingga membuat saya menjerit kesakitan. Lalu Ummi menjelaskan bahwa kemungkinan besar saya mempunyai gangguan lambung dan kolesterol. Wahhh seremlah ini, antara percaya gak percaya, tapi karena saya memulai niat hanya ingin mencoba-coba akhirnya membuat saya juga tidak menganggap serius benar tidaknya pernyataan itu. Sakit karena sengatan lebah di tangan saya itu bahkan hingga hari ini pun masih sedikit terasa.. T___T

Sepulangnya mengambil kuesioner data di Ciburial, akhirnya kami langsung pulang. Saat itu jam masih menunjukkan jam 13.00 WIB dan karena sudah tidak ada kuliah sama sekali saya berpikir, "sepertinya sayang jika harus langsung pulang..". Akhirnya spontanitas saya bilang ke teman-teman saya, "Aku mau maen ke Parongpong ni, mau beli bunga, ada yang mau ikut?", salah satu teman saya (Manda) langsung mengiyakan ikut pergi bersama saya, sementara Laras tidak bisa ikut serta karena masih ada kesibukan lain. Walaupun cuaca saat itu mendung total, dengan keniatan dan kenekatan yang kuat, akhirnya saya dan Manda nekat berangkat ke Parongpong (Lembang Barat) untuk jalan-jalan. Kita berdua pergi dengan berboncengan menggunakan motor yang saya pinjam dari teman saya.
Ketika tiba di daerah dekat Universitas Pendidikan Indonesia tiba-tiba hujan turun dengan deras dan kita terpaksa berteduh dekat penjual nanas karena kita tidak bawa mantel besar, hanya ada mantel jaket di motor untuk satu orang. Hampir satu jam lebih kita berteduh karena hujan yang tak kunjung reda. Setelah hujan cukup reda walau tidak reda sepenuhnya kami akhirnya nekat untuk melanjutkan perjalanan karena jam sudah menunjukkan jam 14.45 WIB, akan lebih bahaya kalau kita terlalu sore disana.

Ada banyak tujuan wisata yang bisa kita temukan di Parongpong, salah satunya tempat yang selalu dan sangat ingin saya kunjungi saat itu, yaitu Wisata Bunga Cihideung dimana tempat saya ingin membeli bunga yang saya inginkan minggu kemarin.
Di kebun bunga ini sepanjang jalan akan kita temukan banyaknya toko-toko khusus menjual bunga yang sangat indah untuk dinikmati dan bisa bercuci mata ria dengan warna-warni bunga yang menarik serta harga bunga yang lumayan sesuai kantong, hehehe seperti gambar di samping ini.. ^^
untuk informasi profil lokasi wisatanya mungkin kalian bisa buka link ini Wisata Bunga Cihideung

Tetapi begitu tiba di lokasi wisata bunga tiba-tiba teman saya bilang, "Ndah, bener gak sich di Parongpong ada kebun teh?". Wahhh ternyata teman saya belum pernah jalan-jalan ke area sini, dan saya merasa cukup beruntung karena pernah setidaknya sekali ke tempat ini, dan saya tahu persis bahwa jika kami meneruskan perjalanan terus ke atas beberapa kilometer maka kita bisa mampir ke salah satu area perkebunan teh peninggalan Belanda milik PTPN XIII. Dulu saya pernah ke tempat itu dalam rangka kegiatan perpisahan kepengurusan Kabinet KM ITB 2010/2011. Lokasi perkebunan teh ini cukup menyenangkan walaupun jalannya sangaaaaaaat tidak rata, apalagi saat itu masih hujan sehingga saya mengendarai motor dengan sangat hati-hati. Berikut foto-foto yang saya ambil saat saya menghabiskan waktu kurang lebih 30 menit bersama Manda untuk merasakan dan menikmati kesejukan udara kebun teh Pangheotan di Kebun Sukawana. Yupz, itulah nama perkebunan teh yang asri itu. :). Owh iya, di perkebunan teh ini juga terdapat villa unik yang dikelola oleh PTPN XIII, masyarakat lebih sering memanggilnya Villa Merah, mungkin karena cat dan gaya arsitekturnya yang berwarna merah. :D Tentunya yang paling seru adalah villa ini disewakan untuk umum lho,.. jadi kalo kalian tidak puas hanya bermain beberapa jam disana kalian bisa menginap atau menyewa sewa sesuai keinginan kalian dengan harga 200-300ribu permalam. :) Saat datang kesana villa itu sedang tertutup, sehingga kami hanya dapat melihatnya dari luar, padahal sebenarnya kalau kita masuk kita bisa dapat menikmati nyamannya sebuah rumah berarsitektur Belanda dan beberapa foto dokumentasi perkebunan yang dimuseumkan di dalamnya. Teringat dulu saat saya menginap di villa itu bersama teman-teman Kabinet, pada malam hari sangat bisa dirasakan dinginnya puncak dan indahnya pemandangan Bandung Barat, sedangkan pada pagi hari bisa kita nikmati sejuk dan segarnya embun pagi. Sungguh nuansa yang merindukan.
Profil lengkap tentang lokasi ini bisa dibaca di link ini Kebun Teh Pangheotan. Setelah puas kurang lebih 30 menit menikmati kesejukan kebun teh, saya dan Manda akhirnya memutuskan untuk segera pulang karena memang kita tidak bernecana untuk pulang lebih dari jam 5 sore hari itu. Saat perjalanan pulang tentu saja kami tidak lupa dengan tujuan awal kami, yaitu membeli bunga di kebun bunga. Kami sangat menikmati saat dimana kami mulai berkeliling mencari bunga, walau dalam hati ingin sekali membeli hampir semua bunga yang ada disana, tetapi yah tidak mungkin untuk status anak kost saat ini. Hahaha nanti deh kalau udah punya rumah sendiri, akan kuhias rumahku dengan berbagai jenis bunga dan tanaman. :)
Saat itu saya membeli tiga jenis bunga, dan sayangnya saya tidak tahu dengan detail bunga apa saja itu. Bunga pertama yang saya beli tentunya bunga yang saya lihat bersama teman saya saat wisata kuliner kemaren, tetapi saya hanya membeli satu buah dan justru malah saya berikan ke kost teman saya, saya tidak tahu alasan saya apa, tapi saya yakin teman saya akan merawat bunga itu dengan baik karena dia tahu saya sangat menyukai bunga itu. Lalu bunga kedua yang saya beli adalah bunga krisan putih, hal ini karena memang saya sangat suka krisan dari kecil, saya adalah tipe orang yang menyukai berbagai jenis asteraceae, bunga-bunga itu sederhana dan selalu memberi semangat jika dilihat. Sedangkan bunga terakhir yang saya beli adalah bunga yang kembaran dengan bunga yang dibeli Manda, bunganya mempunyai bentuk seperti terompet tetapi ukurannya kecil dan kombinasi 2 warna. Saya memilih kombinasi warna putih-pink dengan daun hijau muda, sementara manda memilih kombinasi warna putih-ungu dengan daun hijau muda juga, lalu kita membelikan satu untuk teman kami (Fitri) pilihan warna hitam-ungu dengan daun hijau tua. Wahhhh benar-benar bahagia sekali saya hari itu. Setelah selesai berwisata, saya dan Manda langsung pulang dan kami pun tiba di kost sekitar pukul 16.00 WIB. Saat itu hujan masih mengguyuri Bandung.

Petualangan hari itu cukup ditutup dengan insiden yang cukup menakjubkan, karena ternyata rasa nyeri sengatan lebah yang saya rasakan sepanjang hari itu membuat saya menjadi panas dalam dan demam semalaman penuh. Hal ini karena tanpa sepengetahuan saya, ternyata saya mempunyai alergi terhadap sengatan lebah, makanya saat itu saya demam, haduuuuwhhhhh ada-ada saja.. -____-"
Oke, hal utama saat itu yang penting adalah saya bahagia.. (walo sakit lagi endingnya) hahaha, semoga akan ada kesempatan-kesempatan liburan dan petualangan lain nanti.. yeaaahhh!! sekarang harus SEMANGAT UAS! :D

Rabu, 15 Juni 2011

Pasar Gilingan

Heuhmmm mungkin bagi beberapa masyarakat asli Solo sudah tidak asing dengan sebuah pasar malam yang sering dikenal dengan nama Pasar Gilingan.


Pasar ini terletak sebelah timur stasiun Solo Balapan. Perbedaan dari pasar ini dengan pasar umumnya yaitu bisa dikatakan pasar ini black market tradisional. Di pasar ini di jual berbagai jenis barang baru, barang bekas, barang batangan (barang tanpa surat resmi), dan beberapa mungkin diantaranya ada yang bilang kadang barang ilegal. Contoh beberapa barang yang dijual antara lain HP, baju, sepatu, dan lain-lain. Seperti yang sudah saya terangkan sebelumnya, pasar ini hanya buka di malam hari antara jam 19.00 s/d sebelum subuh. Tapi ada juga yang beberapa buka di siang hari. Mereka hanya menjual barang-barang mereka dengan beralaskan tikar dan cahaya lampu jalanan tanpa harus memikirkan sewa kios atau bayar listrik.


Gak banyak sich yang saya tahu juga soal pasar ini, hanya itu yang dijelaskan oleh Bapak saya saat mengantarkan saya ke stasiun semalam. :)

Minggu, 13 Maret 2011

Ngebolang di Masjid Pusdai

Hehehe, seharusnya sekarang saya belajar, karena peperangan UTS selama 2 pekan akan dimulai besok.. ^^
Oke, saya dalam tahap boring belajar, akhirnya saya kembali membuka laptop saya dan mengisi blog saya lagi.. :D
Saya mau cerita ini, ini tentang apa yang saya lakukan hari jumat kemarin (11 Maret 2011). Bagi saya hari jumat adalah kebebasan saya tiap minggu, dan saatnya jalan-jalan. Nah, penasaran pergi kemana saya hari jumat kemarin? (hahaha,. . pasti tidak). Setiap jumat saya hanya kuliah 2 jam yaitu dari jam 09.00 - 11.00 WIB, tanpa praktikum, tanpa kerjaan lain. Kebetulan hari itu saya harus pergi ke Jln. SUCI (Supratman Cicaheum) untuk mengecek pesanan jaket teman saya. Seperti biasa saya tampil dengan pakaian sporti saya (kaos putih, jaket hitam, celana jeans, sepatu olahraga, dan jilbab saya).. yeaaaaaahhh... dan dengan mobil pribadi saya warna hijau jurusan cicaheum-ciroyom saya berangkat!!! ^^
Transaksi di tempat konveksi hanya berlangsung sekitar 45 menit, selanjutnya dengan cuaca Bandung yang panas saya bingung mau kemana lagi setelah ini (karena masih ada waktu kosong sebelum kembali ke kampus) hehehe... Kebetulan lokasi konveksi dekat dengan masjid Pusdai Jabar (Pusat Dakwah Islam Jawa Barat) yang merupakan salah satu masjid terbesar di Bandung, lalu saya putuskan untuk mengunjungi masjid. Karena hari itu hari jumat, seperti biasa di sekitar masjid sedang berlangsung pasar jumat (pasar yang hanya ada di hari jumat dari jam 10.00 - 14.00). Banyak jajanan, barang bekas, barang-barang antik, dan beberapa shouvenir rumah. Niat beli terpaksa diurungkan karena uang sedang mepet, hohoho, lain waktu mampir ke pasar itu deh.. :D.
Memasuki area masjid, seperti biasa, banyak masyarakat masjid yang duduk di teras-teras masjid untuk melepaskan lelah maupun dengan aktivitas masing-masing. Saya pun langsung menuju ke spot favorit saya. Spot ini terletak di dekat parkir utama, di spot ini tumbuh pohon-pohon kembang kantil yang teduh dan mengharumkan masjid. Saya lalu mencari teras terdekat dan duduk sambil menikmati teras yang dingin dan aroma bunga kantil. Terasa damai... ditambah hadirnya angin yang sepoi-sepoi membuat saya sangat tenang.. :)