Tampilkan postingan dengan label Farmasi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Farmasi. Tampilkan semua postingan

Minggu, 29 Juni 2014

I'm Clinical and Community Pharmacist


Seperti halnya ketakutan setiap mahasiswa apoteker yang baru saja lulus, hal itu pula yang saya rasakan saat saya mulai meninggalkan gerbang Ganesha. Berbagai tuntutan dan tantangan sebagai lulusan baru pun mulai menghampiri. Apalagi untuk mahasiswa yang tergolong standar-standar saja seperti saya saat kuliah. Banyak keraguan yang muncaul saat masuk dunia kerja ini. Apakah saya akan menemukan tempat yang tepat sesuai keinginan dan keahlian saya? Dan jawaban untuk pertanyaan itu tidak datang langsung seketika kepada saya. Allah memberi saya waktu enam bulan untuk menikmati dan mencari pengalaman di berbagai tempat sebelum menemukan saya dengan jodoh pekerjaan saya. Baik rumah sakit maupun apotek sudah saya coba selama enam bulan tersebut. Walau banyak pengalaman dan manfaat yang saya terima selama bekerja di tempat-tempat tersebut, entah mengapa saya masih merasa kurang bahagia. Ada sesuatu yang mengganjal dalam diri saya, ada sebuah kepuasan yang tak terpenuhi. Bukanlah kepuasan materil yang tidak saya dapatkan, tetapi kepuasan batin terkait dengan idealisme diri yang saya terapkan. Selama lima tahun kuliah di program studi farmasi jurusan farmasi klinik dan komunitas, baik di bangku kuliah maupun organisasi-organisasi yang saya ikuti telah menyuntikkan dalam pikiran dan karakter saya tentang bagaimana peranan yang tepat seorang farmasis (apoteker) klinik dan komunitas di masyarakat. Kesalahan saya di sini adalah saya menerapkan standar yang terlalu ideal dalam tujuan hidup saya sebagai seorang farmasis klinik. Enam bulan pengalaman kerja yang telah saya cicipi justru membuat saya pesimis dan menyimpulkan bahwa saya tak akan menemukan pekerjaan sesuai idealisme itu di Indonesia. Tapi kembali untuk kesekian kalinya, ternyata Allah menunjukkan saya bahwa tidak ada yang tak mungkin selama saya mempunyai niat yang kuat. Allah kenalkan saya pada Yayasan Alam Sehat Lestari (ASRI) yang saat itu sedang membutuhkan tenaga apoteker di klinik ASRI. Saya pernah mendengar dan mengenal tentang ASRI sebelumnya saat kuliah, dan saya langsung jatuh cinta pada organisasi ini saat saya mengetahuinya dahulu. Maka tanpa pikir panjang saya pun langsung menerima tawaran itu segera saat kesempatan itu datang.

Hari ini tepat sudah dua bulan saya membantu di klinik ASRI sebagai seorang apoteker. Lalu apa bedanya apoteker di klinik ASRI dengan apoteker di tempat lain? sebenarnya saya masih terlalu dini di dunia kerja, tetapi jika dibandingkan dengan beberapa tempat saya bekerja sebelumnya, baik saat magang kuliah maupun setelah lulus kuliah, saya rasa di sini lah farmasi klinik dan komunitas benar-benar terimplementasikan dengan baik. Dan satu hal penting yang saya dapatkan di sini, yaitu akhirnya saya menemukan sebuah kebahagiaan yang sudah saya cari sebelum-sebelumnya. Penasaran seperti apa kebahagiaan yang saya temukan di sini? baca tulisan saya selanjutnya di bawah, hehe.

Seperti halnya apotek klinik pada umumnya, tentunya tidak terlalu berbeda mengenai tugas dasar seorang farmasis saat mengelola suatu apotek klinik. Farmasis bertugas dalam mengelola inventarisasi apotek mulai dari perencanaan, pengadaan, penyimpanan, pengelolaan, pendistribusian dan penyerahan obat hingga pemusnahan obat. Penyiapan obat yang tepat dari saat resep diterima hingga obat diberikan pada pasien pun juga sudah merupakan rangkaian wajib tugas seorang apoteker di apotek klinik. Tetapi saat berbicara tentang farmasi klinik, maka tentunya tak hanya hal inventarisasi yang dilaksanakan di dalamnya, melainkan juga tentang peranan apoteker dalam pemilihan obat. Klinik ASRI yang terbentuk dalam budaya kerja kekeluargaan yang kuat sangat menjunjung tinggi kerja sama yang baik antara seluruh praktisi kesehatan dalam memberikan pelayanan pengobatan kepada pasien. Dalam setiap pemilihan pengobatan yang tepat, diskusi antara dokter, perawat, dan farmasis sudah menjadi budaya kombinasi yang selalu dijalankan di klinik ASRI. Inilah satu dari sekian kebahagiaan yang saya peroleh, sebuah kebahagiaan tentang bagaimana setiap ilmu yang saya miliki benar-benar dihargai dan dibutuhkan di sini, sebuah kebahagiaan di mana pendapat apoteker (farmasis) juga dilibatkan dalam pengambilan keputusan pemilihan obat.

Salah satu hal yang tidak dapat saya lakukan di tempat-tempat kerja sebelumnya adalah memaksimalkan kegiatan konseling obat kepada pasien. Tetapi tidak di sini. Di klinik ASRI penjelasan detail obat kepada pasien juga merupakan tanggung jawab utama apoteker saat penyerahan obat. Di sini saya diperbolehkan berinteraksi langsung dengan pasien dan menjelaskan sebanyak-banyak hal yang dibutuhkan pasien terkait pengobatan yang diterimanya. Inilah keistimewaan di klinik ASRI, dimana mungkin beberapa tempat pelayanan kesehatan di luar sana masih sering kali terjadi perebutan dan debat tentang porsi atau peranan dokter dan farmasis, tetapi di klinik ASRI justru konten tanggung jawab masing-masing praktisi kesehatan sangatlah jelas dan sinergis. Kedekatan dan kerja sama antara berbagai praktisi kesehatan terjalin baik secara personal dan profesional. Bagaimana hal ini bisa terjalin dengan baik di ASRI? satu yang sadari adalah karena semua orang di sini datang dengan tujuan yang sama dan diperlakukan sama satu sama lainnya.

Kegiatan menarik lainnya yang dilakukan di klinik ASRI adalah kegiatan medical teaching harian yang diberikan baik dari volunteer doctor yang sangat berpengalaman dari luar maupun dari dokter klinik ASRI sendiri untuk memberikan pengetahuan tambahan kepada praktisi kesehatan lainnya. Saat berbicara tentang ilmu, maka ilmu tersebut tidaklah hanya berhak diperoleh oleh sebagian atau sekelompok orang saja, melainkan untuk siapapun yang membutuhkannya. Saya pun mempunyai kesempatan belajar lebih tentang penyakit, diagnosis, dan management pengobatan dari para dokter di klinik ASRI melalui kegiatan medical teaching ini. Yaa Rabb, tempat ini sungguh sempurna untuk saya.

Yang terakhir saat kita berbicara tentang farmasi komunitas maka tentunya hal itu terkait dengan kehidupan sosial seorang farmasis di lingkungan ia berada dan seberapa besar manfaat yang bisa ia berikan pada komunitas masyarakatnya. Ada dua kegiatan menarik di ASRI yang sangat mendukung kegiatan komunitas saya sebagai seorang farmasis. Salah satunya adalah kegiatan klinik keliling ASRI ke daerah-daerah pedalaman yang sulit dijangkau transportasi. Kegiatan ini dilakukan selama satu atau dua kali dalam sebulan, tergantung daerah yang membutuhkan. Kegiatan klinik keliling ASRI dilakukan selama dua hari di daerah yang bersangkutan. Pada kegiatan klinik keliling ini selalu diberangkatkan sebuah team yang terdiri dari seorang dokter, seorang perawat, dan seorang farmasis. Kesinergisan seluruh praktisi kesehatan dalam memberikan pelayanan klinik keliling ASRI tidaklah berbeda dengan apa yang seperti biasanya dilakukan di klinik ASRI harian. Selain kegiatan klinik keliling, implementasi farmasi komunitas yang saya jalankan di sini adalah melalui penyuluhan kesehatan ke daerah-daerah sekitar taman nasional yang dilakukan sebulan sekali. Kegiatan penyuluhan ini selalu menjadi agenda menarik karena seluruh lapisan masyarakat selalu datang penuh antusias untuk mendengarkan. Baik anak-anak, remaja, maupun lansia. Selain itu ada pula kegiatan promosi kesehatan kepada masyarakat yang dilakukan di klinik setiap minggunya. Baik kegiatan penyuluhan kesehatan di desa maupun kegiatan promosi kesehatan di klinik selalu menyampaikan penjelasan tentang penyakit dan manajemen penanganan yang bisa dilakukan oleh masyarakat saat mendapatinya. Setiap kegiatan yang dijalankan selalu membuat saya bersemangat dan tentunya dengan banyaknya manfaat farmasis di sini maka saya pun tak mungkin tak bahagia. :)

Masih banyak tantangan dan tanggung jawab saya sebagai seorang farmasis klinik dan komunitas di tempat ini atau mungkin di tempat lain suatu saat nanti. Semoga sedikit tulisan ini bisa menjadi penyemangat untuk para farmasis klinik yang membacanya. Terus semangat untuk memberikan yang terbaik sebagai seorang farmasis klinik dan komunitas. Hidup farmasis Indonesia!! :)

Sabtu, 14 Juni 2014

Perbedaan Farmasis Dan Apoteker?

Oke, sudah lama nih sepertinya saya tidak menulis tentang keprofesian yang saya emban dalam hidup saya. Tulisan kali ini berawal dari peristiwa sederhana yang terjadi tiga minggu yang lalu. Tiga minggu yang lalu Mbak Etty sakit masuk angin akibat rutinitasnya yang cukup padat. Walau saya banyak belajar dan bekerja di bidang obat sintetik, tetapi untuk kehidupan sehari-hari saya lebih memilih menggunakan cara-cara tradisional. Otomatis saat mbak Etty sakit, saya pun segera buatkan wedang jahe dan bubur sayur buat mbak Etty. Alhamdulillah dengan tambahan istirahat yang cukup, mbak Etty pun kembali segar bugar setelahnya. :)

Saya merasa apa yang saya lakukan hanyalah hal biasa yang sering dilakukan masyarakat Indonesia pada umumnya. Tetapi ternyata hal tersebut justru menjadi perhatian menarik bagi dr. Krista Farey, seorang volunteer doctor dari California.

dr Krista : "Indah, how did you know about traditional medicine like that?"
Me : "Ohhh, I always used traditional medicines in my daily life since childhood dr Krista... And I learned more when I was in college."
dr Krista : "It's a good thing that you know about chemical and traditional medicines.. You know, in London, pharmacist is someone that only know about chemical medicines, then apothecary is someone that knowing more about traditional medicines.. you're great because you know about both of them..."

Saat mendengar penjelasan tersebut pun sebenarnya saya menjadi bingung, lalu sebutan apa yang sebaiknya diberikan kepada farmasis atau apoteker Indonesia yang sebagian besar memang memadu-padankan ilmu pengobatan kimia dan tradisional dalam satu rumpun ilmu yang disebut farmasi? heuhmmm... -_- yah sudahlah, apa yang diberitahukan dr. Krista kan memang sistem yang berlaku di luar negeri sana dan tidak berlaku di Indonesia, fufufufu~. Saya terima saja bagaimana sistem yang berlaku di negeri ini. Karena di luar kebingungan saya itu, saya lebih mensyukuri ternyata banyak ilmu yang saya pelajari dan dapat terus saya kembangkan. Saya semakin termotivasi untuk menjadi seorang ahli farmasi seutuhnya, baik di bidang obat-obat kimia maupun tradisional khususnya untuk aplikasi kliniknya.

Semangaaaat farmasis Indonesia!!! :) 

Senin, 05 Desember 2011

Pagi yang Cerah di Kampusku

Senin pagi, jika orang lain mungkin ada yang mengeluhkan,
"wahh, pekan udah selesai.."
"Yahhh senin lagi.."
Dan berbagai keluhan lain yang justru mungkin mampu merusak hari pertama mereka minggu ini, tapi bagi saya, hari ini saya mengucapkan "alhamdulillah.." dan terukir senyuman manis saya hari ini. Salah satu kutipan kalimat menarik yang saya baca pagi ini telah mampu membawa saya ke semangat pagi yang menyenangkan,
"A change of scenery can help, especially your mental scenery. To be somewhere new, meet different people and have different experiences is important. You have to keep as much awe in your reality as you possibly can and remain grateful."
Yups, dari kutipan tersebut, saya berangkat ke kampus hari ini dengan penuh semangat dan pemikiran yang sangat positif, "saya akan menemukan sesuatu yang menarik hari ini.."
Betul sekali, alhamdulillah setelah badai hujan yang menakutkan kemarin sore, hari ini saya mendapatkan hari yang sangat cerah. Langit pagi ini biru, awan putih, udara segar, angin similir, dan pemandangan kampus terlihat cerah karena bunga-bunga baru sudah mulai mekar. Satu yang syukuri pagi ini, alhamdulillah saya masih diberi kesempatan untuk menikmatinya. :)
Buat kalian yang baca ini sekarang, coba sekarang kalian hentikan sejenak aktivitas di kamar kalian, segarkan diri menikmati udara luar yang segar dan cerah hari ini. Percayalah, udara pagi lebih menyenangkan daripada kalian terkukung di kamar kalian. :)
Selamat menikmati hari senin... ^__^

Senin, 28 November 2011

Anxiety Disorder

Wahhh ternyata UAS tinggal seminggu lagi dan seperti biasa, ITB selalu terdepan untuk ujian! haha.. okey, menjelang UAS sudah saatnya mulai mengulang kembali semua materi kuliah yang telah disampaikan di kelas. Nah, kali ini saya ingin sedikit mereview materi kuliah Farmakoterapi minggu kemarin. Materi kuliah kali ini adalah tentang Anxiety Disorder atau bahasa sederhananya yaitu gangguan kecemasan.

Anxiety Disorder
Mungkin anda bingung, kenapa gangguan kecemasan bisa tergolong dalam suatu penyakit?, mari saya jelaskan dulu pengertian dasarnya. Apa sih anxiety disorder? Anxiety disorder adalah suatu keadaan emosional yang biasanya terjadi akibat persepsi mengenai antisipasi akan bahaya dan keterancaman pada suatu individu. Kondisi ini bisa dikatakan sudah abnormal jika sudah mulai mengganggu aktivitas dan menyebabkan individu yang mengalaminya memberikan reaksi atau respon yang berlebihan pada lingkungan. Secara patofisiologi, penyakit ini disebabkan karena adanya gangguan pada prefrontal cortex dan amygdala yang sangat berperan dalam pengaturan sistem emosi di otak, apabila kedua hal ini terganggu maka akan meyebabkan sistem saraf otonomik menjadi hipersensitif dan bereaksi berlebihan terhadap berbagai rangsangan. Selain itu, gangguan ini bisa juga disebabkan oleh 2 neurotransmitter yang mempunyai fungsi abnormal, yaitu:
1. Adanya penurunan aktivitas sistem reseptor asam y-aminobutirat (GABA) sehingga menyebabkan terjadinya penurunan masuknya ion Cl- kedalam neuron sehingga membuat orang tersebut menjadi lebih hiperaktif atau semakin tak tenang.
2. Adanya transmisi serotonin (5-HT) yang berlebihan sehingga menyebabkan rangsangan berlebihan pada jalur stimulasi 5-HT

Aduuuwh berat juga penjelasan di atas, tapi ya memang itulah kondisi sebenarnya kenapa kita bisa mengalami gangguan kecemasan. Nah, pasti kalian bertanya lalu apa sich bedanya stress dengan cemas? Stress itu muncul karena adanya faktor pemicu stress (stressor) dan akan langsung sembuh ketika stressor itu hilang, sementara kecemasan itu terjadi ketika pasien masih tetap mengalami stress walaupun stressornya sudah hilang. Sesungguhnya kecemasan masih tergolong dalam kondisi ringan karena pasien masih tampak seperti orang normal hanya saja selalu mengalami gelisah dan rasa takut. Jika kecemasan ini tidak ditangani dengan baik maka ia mampu berkembang menjadi gangguan mental (masih mampu membedakan kondisi di sekitarnya tetapi kondisi mentalnya sudah abnormal) dan perkembangan lanjut yang paling dihindari adalah pasien menjadi mengalami gangguan jiwa (pasien sudah tidak mampu membedakan antara dunia khayal dengan dunia nyata).

Anxiety Disorder ini sendiri dapat diklasifikasikan menjadi 5 kelompok utama (Dickey et al., 2002), yaitu:
1. Generalized Anxiety Disorder (GAD)
Yaitu kondisi pasien yang mengalami kegelisahan dan kekhawatiran berlebihan untuk sejumlah peristiwa atau aktivitas. GAD mempunyai persentase kekambuhan yang paling tinggi dan kecepatan pemulihan kembali yang lebih rendah dibanding kelompok lain. Contoh dari GAD yaitu adalah kondisi cemas umum yang berlangsung secara terus menerus yang sangat mengganggu aktivitas sehari-harinya dan mereka sulit untuk mengendalikannya hingga berakibat menjadi susah tidur, ketegangan atau sakit pada otot, gemetar, merasa lemah ataupun sakit kepala, tidak dapat bersikap tenang, cemas dan mudah marah, dan sulit konsentrasi
2. Obsessive Compulsive Disorder (OCD)
Yaitu kelainan dimana seseorang memiliki ritual-ritual yang tidak bisa dia kontrol karena dia dihantui oleh pikiran-pikiran tertentu. Pasien terjebak dalam keteraturan yang kuat, perfeksionisme, dan kontrol mental sehingga mereka menjadi tidak fleksibel, tidak terbuka, dan tidak efisien. Contohnya adalah orang-orang yang sangat takut dan tidak ingin adanya kuman sehingga dia harus selalu melakukan prosedur yang terlalu berlebihan dengan urutan tertentu. Kelainan ini bisa sangat mengganggu kegiatan sehari-hari dan hubungan sosialnya.
3. Panic Disorder
Gejala inti dari panic disorder adalah panic attack. Orang dengan panic attack memiliki perasaan adanya teror yang menyerang secara tiba-tiba dan berulang tanpa adanya peringatan sebelumnya. Mereka tidak dapat memprediksi kapan suatu serangan akan terjadi. Dan beberapa orang mengalami anxiety yang hebat diantara tiap episodenya. Mereka juga mencemaskan kapan dan dimana serangan berikutnya akan terjadi. Terkadang mereka dapat menderita agarophobia sehingga berusaha menghindari tempat-tempat umum.
Ketika terjadi panic attack, beberapa gejala-gejala yang dapat muncul antara lain jantung berdebar dan sakit pada dada, berkeringat, gemetar, nafas pendek dan muncul sensasi seperti tercekik, mual ataupun rasa sakit pada perut, kepala terasa pusing, berkhayal dan diskoneksi dengan orang-orang disekitarnya, merasa takut kehilangan kontrol, “menjadi gila”, atau merasa sekarat, mati rasa, merasa kedinginan atau kepanasan.
Karena gejalanya yang parah, terkadang penderita panic disorder mengira bahwa diri mereka menderita serangan jantung ataupun penyakit lain yang mengancam jiwa.
4. Phobia
Phobia merupakan rasa takut yang berlebihan dan persisten terhadap objek, situasi, ataupun akitivitas tertentu. Rasa takut ini membuat penderitanya menghindari hal yang mereka takuti dengan sikap yang berlebihan.
Seseorang didiagnosis menderita phobia apabila rasa takut mereka sangat mengganggu hidup dan aktivitas mereka sehari-hari. Phobia dibagi menjadi tiga: social phobia, specific phobia, dan agoraphobia (American Psychiatric Association, 2005)
-Social phobia-
Social phobia atau social anxiety disorder merupakan suatu rasa takut atau kegelisahan yang berlebihan apabila seseorang berada di lingkungan sosial. Mereka takut merasa malu ataupun takut apabila dipehatikan oleh orang banyak. Misalnya berbicara di depan umum.
-Spesific phobia-
Spesific phobia merupakan rasa takut yang berlebihan terhadap suatu hal yang sedikit atau bahkan tidak berbahaya sama sekali. Penderita biasanya sadar bahwa rasa takut mereka terlalu berlebihan, namun mereka tidak sanggup untuk mengatasi rasa takut tersebut. Misalnya takut naik pesawat, atau takut terhadap hewan tertentu.
-Agoraphobia-
Agoraphobia merupakan rasa takut apabila berada di suatu tempat dimana penderita merasa tidak ada jalan keluar atau pertolongan orang lain. Apabila kondisi ini tidak ditangani, maka kondisi akan bertambah serius bahkan membuat penderitanya takut untuk keluar rumah dan selalu berusaha menghindari tempat-tempat umum.
5. Post Traumatic Stress Disorder (PTSD)
Post-traumatic stress disorder merupakan kondisi yang melemahkan seseorang yang berkembang akibat suatu kejadian yang menakutkan. Kondisi ini dapat muncul pada orang-orang yang berhasil selamat dari peristiwa fisik ataupun emosional yang sangat menakutkan.
Orang yang mengalaim PTSD biasanya mengalami mimpi buruk yang terus berulang, kenangan yang terus terbayang dan sangat menganggu, atau bahkan merasa kejadian buruk yang dia alami akan terulang kembali apabila dia berada pada situasi tertentu.
Orang dengan PTSD dapat mengalami gejala seperti mati rasa, gangguan tidur, merasa diawasi oleh seseorang, dan mudah marah. Kejadian yang dapat memicu PTSD contohnya adalah peperangan, serangan kekerasan personal, bencana alam, tragedi (misalnya pesawat jatuh), kekerasan fisik atau seksual ketika anak-anak, ataupun menyaksikan orang lain dalam suatu kecelakaan yang parah.

Secara etiologi penyebab penyakit ini tidak diketahui dengan pasti, tergantung jenis klasifikasi dari AD yang diderita oleh pasien. AD pada umumnya lebih banyak terjadi pada wanita dibandingkan pada pria. Untuk proses diagnosanya sendiri juga didasarkan pada gejala yang ditunjukkan oleh pasien sehingga dokter mampu mengklasifikasikan jenis AD sesuai gejala-gejala tersebut.

Lalu sekarang, karena saya seorang calon farmasis tentunya yang jadi pusat perhatian saya adalah bagaimana terapi yang tepat yang harus kita berikan kepada penderita AD?
Terapi pertama yang disarankan untuk penderita AD adalah dengan terapi non-farmakologi (terapi tanpa menggunakan obat-obatan), pilihan terapi non-farmakologi yang dapat dilakukan antara lain:
1. Supportive/ Dinamic Psycotherapy
Yaitu terapi berkomunikasi dengan pasien dengan memberikan perhatian langsung terhadap pasien
2. Terapi kognitif
Pasien akan diajak memecahkan masalah-masalah menjadi beberapa bagian:
- Masalah sebagaimana orang melihatnya
- Pikiran seseorang mengenai masalah tersebut
- Emosi seseorang yang mengelilingi masalah tersebut
- Perasaan fisik seseorang pada saat itu
- Tindakan seseorang sebelum, selama, dan setelah masalah muncul
3. Terapi Behavioral
Konseling behavioral yang memfokuskan pada kegiatan (tindakan) yang dilakukan pasien.
4. Relaxation Training
Meningkatkan pemahaman tentang variabilitas dan signifikasi klinis hasil reduksi kecemasan.

Selanjutnya Terapi Farmakologi (penggunaan obat) yang dapat diberikan kepada pasien AD antara lain dibagi menjadi dua
1. Antidepresan
Antidepresan dapat digunakan sampai beberapa minggu sampai gejala mulai menghilang. Obat antidepresan yang digunakan untuk terapi anxiety diantaranya:
a. SSRIs.
Selective serotonin reuptake inhibitors atau SSRIs bekerja di otak pada serotonin dan memiliki efek samping lebih kecil dari antidepresan sebelumnya. Pada awal pemakaian pasien mungkin dapat mengalami rasa mual ataupun gugup, namun kondisi ini akan menghilang.
Beberapa pasien terkadang mengalami gangguan seksual setelah mengkonsumsi obat ini. Hal ini dapat diatasi dengan mengatur dosis obat ataupun menggantinya dengan SSRIs lain.
Fluoxetine, sertraline, fluvoxamine, paroxetine, dan citalopram merupakan SSRIs yang umum diberikan untuk kondisi panic disorder, OCD, PTSD, dan social phobia ataupun depresi. Venlafaxine (Golongan Serotonin Norepinefrin Reuptake Inhibitor) merupakan obat yang masih berhubungan dengan obat-obatan SSRIs dan sangat efektif untuk merawat GAD (termasuk obat kategori A dan sudah teruji).
b. Tricyclics (TCA)
Sebelum SSRIs ada juga obat lain untuk merawat anxiety disorder yaitu tricyclics. Obat ini seefektif SSRIs dalam mengatasi anxiety disorder, namun banyak dokter dan pasien lebih memilih memakai obat terbaru, yaitu SSRIs, karena tricyclic terkadang menyebabakan pusing, mengantuk, mulut kering, dan kenaikan berat badan. Apabila efek samping ini muncul, dosis obat perlu diubah ataupun dilakukan penggantian obat. Tricyclics sangat berguna untuk merawat orang dengan kekambuhan anxiety disorder dan depresi. Golongan obat ini diantaranya Clomipramine, satu-satunya antidepresan di golongan ini yang diresepkan untuk OCD, serta imipramine yang diresepkan untuk panic disorder dan GAD.
c. MAOIs
Monoamine oxidase inhibitors, atau MAOIs merupakan golongan paling tua dari obat-obatan anti depresi. MAOI yang paling umum diresepkan adalah phenelzine, yang efektif untuk orang-orang dengan kelainan panik dan social phobia. Tranylcyprominedan isoprocarboxazid juga dapat digunakan untuk mengatasi anxiety disorder.
Namun, penggunaan MAOI perlu diperhatikan dengan baik karena obat ini dapat berinteraksi dengan berbagai macam substansi seperti makanan (keju dan anggur merah) serta obat-obatan SSRI. Interaksi ini dapat berupa meningkatnya tekanan darah dan bahaya-bahaya lain yang dapat mengancam jiwa.

2. Antianxiety
a. Benzodiazepines.
Benzodiazepin bekerja dengan meningkatkan aktivitas reseptor GABA sehingga meningkatkan masuknya ion Cl- ke dalam neuron sehingga terjadi hiperpolarisasi. Benzodiazepines dapat mengurangi gejala dengan cepat dan memiliki sedikit efek samping, walaupun terkadang dapat menimbulkan rasa kantuk. Obat ini hanya diresepkan untuk jangka pendek, karena obat ini dapat menimbulkan toleransi bagi pemakainya. Atau dengan kata lain obat ini hanya digunakan untuk pasien dengan gangguan AD akut, jika pasien sudah sembuh pemberian obat ini harus langsung dihentikan, akn tetapi jika pasien belum sembuh maka kondisi itu menunjukkan pasien telah emningkat menjadi kondisi AD kronik dan harus segera diganti dengan antidepresan.
Pengecualian bagi kelainan panik, yang biasanya pengobatan dapat dilakukan 6 bulan sampai 1 tahun. Orang pengguna alkohol atau obat-obatan terlarang tidak dianjurkan memakai obat ini karena akan menyebabkan ketergantungan.
Beberapa orang dapat mengalami rasa kecanduan setelah mereka menghentikan obat ini. Hal ini dapat diatasi dengan mengurangi dosis obat secara bertahap. Pada beberapa kasus, penghentian penggunaan obat ini dapat mengakibatkan kembalinya gejala anxiety.
Masalah-masalah potensial dari obat ini mengakibatkan dokter jarang menggunakan obat ini, walaupun obat ini dapat memberikan keuntungan-keuntungan bagi pasiennya.
Beberapa obat benzodiazepines diantaranya clonazepam yang biasanya digunakan untuk social phobia dan GAD, alprazolam untuk panic disorder dan GAD, dan lorazepam untuk panic disorder (Dickey, 2002).
b. Buspirone.
Bekerja sebagai agonis parsial dari serotonin. Obat antianxiety terbaru, buspirone, dapat digunakan untuk merawat GAD. Efek samping yang dapat ditimbulkan diantaranya pusing, sakit kepala, dan mual. Obat ini harus digunakan secara teratur selama 2 minggu untuk mencapai efek antianxiety.
c. Beta-blocker.
Beta-blocker, misalnya propanolol, bekerja dengan mem-blok beta-reseptor adrenergik perifer yang mampu menimbulkan gejala tremor, berkeringat, kemerahan, dan takikardi sehingga mampu membantu mengatasi kelainan ansietas tertentu khususnya social phobia dengan gejala diantaranya jantung berdebar, tangan gemetar, dan gejala fisik lainnya.

Obat-obatan tidak akan menyembuhkan anxiety disorder, melainkan hanya mengendalikan gejala yang timbul sehingga pasien dapat menjalani hidupnya dengan lebih normal.
Terapi menggunakan obat-obatan dapat pula dikombinasikan dengan psikoterapi, dan bagi beberapa orang kombinasi ini merupakan pendekatan yang paling baik dalam perawatan.

Yupz, mungkin itu saja dulu yang bisa sampaikan, untuk jelasnya bisa langsung tanyakan saja, tapi pesan terakhir dari saya yaitu
Walaupun kita harus hati-hati dengan sikap cemas kita, tetapi jangan sampai kita justru dicemaskan oleh sikap menghindari cemas. Kecemasan tidak akan menyelesaikan masalah, jalani dan atasi semua permasalahan hidup dengan tenang. Keep Smile! :D
Khususnya buat yang mau UAS nih, gak boleh kena AD sebelum, selama, dan setelah UAS.. hahhaha SEMANGAT kawan!

Jumat, 08 April 2011

Wanita X Parasit

Yeahhh.. hari ini kuliah tentang anti-parasit, setelah minggu sebelumnya kuliah tentang anti-cacing... hohoho.. :D
Semester 4 kemarin saya mengambil kuliah parasitologi-virologi yang kurikulumnya mengkaji dasar-dasar tentang parasit dan virus. Tetapi karena saya paling tak suka dengan hafalan total, ending-endingnya menguap deh itu kuliah dari otak (jangan ditiru ya teman2.. saya sudah taubat lho..) hehehe...
Untungnya di semester 6 ini ada kuliah farmakologi yang salah satu materinya tentang obat-obat anti-parasit dan anti-virus, dimana untuk memahami materi tersebut saya harus mempelajari kembali parasit dan virus, dan ternyata yang ada di otak saya tidak sepenuhnya menguap... :D

Ada dua parasit yang menarik perhatian saya, karena tentunya kedua parasit ini adalah parasit yang patut untuk diwaspadai oleh wanita, yaitu
1. Toxoplasma gondii
Penyakit yang disebabkan oleh parasit ini sering dikenal dengan penyakit toksoplasmasis. Parasit ini merupakan parasit yang mempunyai hospes definitif berupa kucing, melalui kucing peliharaan kita toksoplasmasis ditularkan lewat feses kucing atau lewat interaksi langsung dengan kucing. Pada feses kucing terdapat telur parasit yang bersifat infektif bila tak sengaja termakan manusia, kemungkinan lain telur ini akan ke hospes lain seperti tikus dan mengalami perubahan dari telur menjadi takizoid yang juga dapat bermigrasi ke tubuh manusia. Interaksi langsung terjadi jika takizoid tadi ada pada kucing, kucing yang suka menggerakkan badannya atau menggosok-gosokkan telinganya mempunyai kemungkinan menyebarkan takizoid-takizoid tersebut.
Mengapa parasit ini berbahaya pada wanita? karena parasit ini mudah bermigrasi ke rahim sehingga membahayakan wanita terutama wanita yang sedang hamil, ada berbagai kemungkinan bisa terjadi pada janin karena adanya parasit ini seperti keguguran, cacat kelahiran, kelahiran dini, hydrochepalus, dan kelainan mental pada anak.
Lalu bagaimana mengobatinya???
untuk mengobati dapat digunakan obat sulfonamides dan pyrimethamine, tapi pasien harus hati-hati dengan efek samping dari penggunaan kedua obat ini, sehingga obat ini tidak dianjurkan diberikan pada saat ibu hamil. Parasit toxoplasma gondii membutuhkan vitamin B untuk hidup. Pirimetamin menghambat pemerolehan vitamin B oleh tokso. Sulfadiazin menghambat penggunaannya. Dosis normal obat ini adalah 50-75mg pirimetamin dan 2-4g sulfadiazin per hari. Kedua obat ini mengganggu ketersediaan vitamin B dan dapat mengakibatkan anemia. Orang dengan tokso biasanya memakai kalsium folinat (semacam vitamin B) untuk mencegah anemia. Kombinasi obat ini sangat efektif terhadap tokso. Lebih dari 80% orang menunjukkan kebaikan dalam 2-3 minggu.

2. Trichomonas vaginalis
Penyakit yang disebabkan oleh parasit ini sering disebut sebagai penyakit keputihan atau Trikomoniasis. Parasit ini menginfeksi vagina wanita dan menyebabkan gejala-gejala seperti berikut kelahiran prematur , berat lahir rendah, dan peningkatan kematian serta predisposisi untuk HIV infeksi, AIDS , dan kanker leher rahim. Umumnya penderita trikomoniasis mempunyai keluhan seperti gatal-gatal atau rasa panas pada vagina, keputihan yang berbau tidak normal (busuk), rasa sakit sewaktu berhubungan seksual. Sementara pada laki-laki sebagian besar asimptomatik (tidak ada gejala). Mungkin ada keluhan nyeri pada saat kencing, nyeri pada uretra, testis atau nyeri perut bagian bawah. Obat yang dianjurkan untuk mengobati penyakit ini adalah metronidazole yang diberikan secara oral. Walau mayoritas menyerang wanita, tapi pada dasarnya penyakit ini ditularkan pertama oleh pria kepada pasangannya, sehingga pengobatannya adalah jika terjadi pada salah satu pasangan maka kedua-duanya harus diobati.

So, untuk pencegahannya dari gaya hidup saya sarankan untuk lebih terjaga (terutama wanita), mulai dari kalau bisa jauhlah dari kucing, menjaga kebersihan makanan, dan ketika di toilet saya sarankan untuk menggunakan toilet jongkok daripada toilet duduk untuk mencegah penyebaran trikomoniasis...
Hai para wanita, jaga diri Anda.. karena Anda adalah calon ibu anak-anak kebangsaan bangsa nanti.. amin.. ^_^

Selasa, 05 April 2011

Shock anafilaktik

Tahukah kamu, mengapa alergi tidak bisa dianggap sesuatu yang remeh? baik alergi secara alami maupun alergi karena efek samping. Hal itu karena sistem imunitas tubuh kita. Banyak orang berpendapat bahwa dengan adanya sistem imunitas tubuh yang baik, maka tubuhnya akan selalu dalam kondisi yang sehat. Tetapi tidak seperti itu juga, karena sistem imunitas juga kadang bisa menyebabkan kematian.
Baiklah, mari saya coba jelaskan secara sederhana. Pada dasarnya ketika tubuh diserang oleh zat asing, maka sel limfosit B akan mendeteksi dan membentuk antibodi untuk mengenali alergen (signal yang dikeluarkan oleh mikroba). Dalam antibodi terdapat IgE yang jika berpaparan dengan alergen akan mengaktivasi sel matosit. Sel matosit yang teraktivasi akan menyebabkan terjadinya degranulasi sel. Dalam proses degranulasi sel inilah terjadi pelepasan histamin. Histamin yang terlepas akan menyebabkan vasodilatasi pada pembuluh darah sehingga tekanan darah menurun secara perlahan-perlahan akibatnya terjadilah shock anafilaktik yang dapat berujung pada kematian.


Keseluruhan proses tersebut merupakan reaksi hipersensitivitas tipe I (reaksi alergi sederhana yang mudah untuk diamati). Secara kasat mata ketika kita melakukan percobaan ini pada kelinci, maka akan kita lihat kelinci tersebut mengalami gatal-gatal, asma, mata dan telinga menjadi merah bahkan hingga terjadi kematian.

So, jangan menganggap remeh alergi ya.. ^^

Selasa, 29 Maret 2011

"Mau ngapain setelah lulus S1 Farmasi?"


"Mau ngapain setelah lulus S1 Farmasi?", ini adalah pertanyaan yang dilontarkan oleh teman kuliah saya Laras saat kita berdua sedang mengikuti kuliah Manajemen Wirausaha jam 11 hari ini, salah satu kuliah wajib yang harus diambil di semester 8,tapi bagi mahasiswa semester 6 juga sudah boleh mengikutinya.
Pertanyaan yang menarik, dan saya sudah sering menjawab pertanyaan semacam ini sebelumnya. Apa yang akan saya lakukan setelah lulus S1 nanti? apakah sama seperti yang lain yang ingin langsung melanjutkan apoteker? atau mengambil fast track untuk S2? atau langsung bekerja? atau mengusahakan untuk mengambil S2 di luar negeri? atau menikah?
Setiap orang mempunyai cita-cita masing-masing dan tahu bagaimana cara meraih mimpi-mimpi mereka. Kita bebas berencana, karena hidup tanpa rencana maka ia akan terombang-ombang oleh ketidakpastian. Kasus pertama, apakah saya akan melanjutkan apoteker? jawabannya jelas tidak, karena saya bukan orang yang sebenarnya ingin menekuni profesi apoteker (saya tahu jawaban ini mengundang pertanyaan, "lalu mengambil jurusan farmasi?" panjang ceritanya). Saya jelas tidak akan mengambil apoteker juga karena tepat ketika saya lulus adik saya akan mulai menempuh bangku kuliah, jadi saya sudah sangat ingin ikut membantu menopang ekonomi keluarga. Dari jawaban itu sudah jelas pasti bahwa setelah lulus saya akan langsung bekerja, tapi dimana? saya belum menentukan. Sebenarnya sebelumnya saya cukup tertarik untuk mengambil fast track S2, akan tetapi karena kendala nilai kuliah semester kemarin jadi saya mengurungkan keinginan saya itu.
Seperti yang saya katakan sebelumnya, kita bebas bermimpi dan kita bebas merencanakan segala hal. Begitulah yang saya lakukan, mimpi saya tidak berhenti sampai hanya untuk bekerja, saya sangat senang dengan dunia akademisi, oleh karena itu saya ingin sekali melanjutkan S2, tapi kapan, dimana dan bagaimana? mungkin tidak bisa saya sampaikan disini, karena saya tak mau mengumbar terlalu banyak sesuatu yang masih rencana hingga saya buktikan bahwa saya bisa. Tapi yang jelas hal itu akan saya lakukan setelah ekonomi di keluarga sudah cukup stabil, sehingga orang tua saya lebih ikhlas mengijinkan saya kembali menempuh pendidikan yang lebih tinggi.
Kasus terakhir adalah, apakah akan menikah? itu sudah pasti, tapi kepastian itu ada di tangan Allah, karena hingga saat ini saya juga belum tahu rencana apa yang Allah janjikan pada saya untuk kasus yang satu ini, hehehe kita hanya bisa menunggu. ^^
Dan mari kita semangat mencapai cita-cita kita, karena ketika kita mulai bermimpi maka jiwa kita akan lebih menjadi hidup. Apapun pilihan kita, percayalah itu yang terbaik. :)
Yang perlu diingat adalah, manusia itu sekuat apapun ia bertahan, ia juga akan mudah terbawa aarus, jangan sampai kita lupa akan batasan-batasan yang harus kita jaga.
SEMANGAT!!! ^_^